HIV AIDS, Wamena, Papua, Kesehatan, Pemuda

KBR68H - Papua tercatat sebagai provinsi dengan jumlah kasus HIV/AIDS tertinggi di Indonesia. Pencapaian Tujuan Pembangunan Millenium (MDGs) 2015 untuk menekan laju penyebaran virus tersebut nampaknya sulit tercapai. Berbagai upaya dilakukan untuk menekan peningkatan kasus. Sekelompok anak muda yang sudah terinveksi virus HIV/AIDS di Lembah Baliem, Wamena misalnya  giat berkampanye tentang  penyakit mematikan tersebut. 


Sore itu, Pasar Baru di Wamena, Papua masih ramai pengunjung. Pedagang yang didominasi perempuan tua dengan noken di kepala, menawarkan pelbagai dagangannya mulai dari sayur, ubi-ubian sampai kerajinan tangan. 


Di sisi lain dua anak muda, Wesley Kossay (30) dan Oppie Asso (20) menjajakan produk yang berbeda. Spanduk dengan gambar alat kelamin yang membusuk akibat Infeksi Menular Seksual, IMS ikut dipasang.


“Ini Cuma sekadar informasi. Ini Cuma alat kelamin. Infeksi Menular Seksual. IMS. Ini pintu masuk HIV/AIDS. Jadi kalau kita mabuk. Atau berhubungan seks malam, pasti kita tidak perhatikan baik. Kita hantam, hantam saja. Tapi kita tidak tahu ada luka ini, kemaluan. Bernanah. Otomatis HIV/AIDS itu akan masuk. Kalau sudah masuk, kita sudah sakit kan,” kata Wesley. 


Mereka tengah  menyampaikan bahaya HIV/AIDS kepada orang yang lalu-lalang di dekat pangkalan ojek motor. 


Satu persatu pengunjung yang didominasi kaum adam berdatangan. Berkerumun. Mereka menyimak dengan wajah tercengang saat melihat gambar alat kelamin sambil khusuk mendengarkan keterangan Wesley. “Mari, yang mau ambil kondom. Ambil saja. Jangan malu-malu untuk jaga-jaga saja,” katanya. 


Satu persatu, pengunjung mengambil kondom gratis dengan malu-malu. Termasuk seorang bocah 15 tahun. Oppie Asso lantas bertanya kepada bocah bernama Gulame tersebut. Dia lantas menyakan sejak kapan mulai berhubungan intim. Belum lagi dijawab, bocah kurus, bertelanjang dada itu lari ke arah blok pasar lainnya. Menghilang di antara kerumunan.


Hari itu, lebih dari seratus kondom dibagikan gratis. Pasar Baru jadi salah satu lokasi untuk kampanye HIV/AIDS karena letaknya tak jauh dari pusat lokalisasi. Termasuk dua pasar lainnya di Wamena. “Itu, namanya tenda informasi, sekalian bagi kondom. Nah, itu setiap satu bulan kita lakukan tiga kali. Pasar Sinagma, Pasar Baru dan Pasar Misi. Kasih informasi. Nah, dari informasi itu, masyarakat bisa telepon, karena mau periksa. Keluarga yang sakit akan langsung ditelepon. Kami akan langsung ke rumahnya. Kita nanti lihat gejala-gejala, baru bawa ke rumah sakit,” jelas Wesley. Rekannya Oppie menambahkan,” Itu yang merasa beresiko-kah, yang punya keluarga sakit di kampung-kampung, bawa informasi supaya mereka bisa.. ada data nomor HP lengkap, semua lengkap, kalau mereka ada yang sakit, bisa hubungi ke kantor. Supaya bisa didampingi.”


Wesley Kossay dan Oppie Asso adalah pemuda Lembah Baliem yang terpapar HIV  bertahun-tahun. Keduanya terinfeksi virus melalui hubungan seksual.  “Mungkin yang pertama dari pribadi saya. Pribadi saya sudah mengalami kesakitan yang dari dulu. Apalagi kasus sekarang semakin meningkat, akhirnya saya terdorong untuk membantu masyarakat. Kasih informasi terus tentang HIV/AIDS. Tapi masyarakat di sini kadang susah, jadi saya harus kasih tahu dengan bahasa local. Kalau bahasa Indonesia agak sulit dimengerti. Supaya mereka juga sadar, atau mungkin yang sudah kena, punya semangat juga.,” kata Wesley. 


Dinas Kesehatan setempat mencatat dalam kurun waktu 5 tahun, warga Lembah Baliem yang terpapar HIV mencapai lebih dari seribu orang. Wilayah dengan penyebaran yang tinggi di Papua, menyasar anak-anak muda. 


Wesley Kossay, Oppie Asso bersama teman-teman satu nasib berjuang  di Yayasan Pengembangan Kesehatan Masyarakat-Papua (YPKM). 


Mereka ikut terpanggil menyosialisasikan bahaya HIV/AIDS. Tak ingin generasi muda Lembah Baliem mengikuti jejak mereka.


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!