Komunitas Tintin, Kemayoran, Bandara, sejarah, ahok

Terancam Tergusur

Menara pengontrol lalu lintas udara di Bandara Kemayoran memiliki bentuk yang khas nusantara. Beratap limas dengan tepian melengkung ke atas khas bangunan Jawa Bali masa Hindu. Saat ini, bagian dari bekas komplek bandara hanya menyisakan dua menara saja.


Komunitas Tintin Indonesia (KTI) serta beberapa komunitas lainnya berencana menggelar kegiatan untuk menggugah pentingnya bangunan bersejarah tersebut. Acaranya seperti pertunjukan kostum Tintin, pameran pernak-pernik Bandara Kemayoran, dan lain-lain. Juru bicara KTI Muhammad Misdianto, "Yang sudah jelas ada dari sahabat museum dan arsitek. Saya juga mengajak kamunitas penerbangan. Dari mas Aditya juga ada komunitas sky craper. Mereka sudah sangat peduli bahwa kita punya sebuah cagar budaya.”

Acara  terbuka bagi semua kalangan. "Kita sendiri dari komunitas museum dan tintin kalau lewat sana itu sudah tidak bisa melihat lagi menaranya. Harus masuk jalan kaki sejauh 200 meter dan mesti belok lagi. Kalau tidak ada yang memperkenalkan kembali riwayat dan fungsi tempat itu, betapa pentingnya bandara itu bagi perkembangan dirgantara, maka Jakarta akan kehilangan lagi bangunan cagar budaya. Selagi ini masih ada dan kebetulan pengembangnya mungkin bisa kita komunikasikan ke mereka bahwa ini adalah cagar budaya dan peninggalan yang berharga dan bisa menajdi daya tarik pengunjung juga," jelas Misdianto.

Ade Purnama dari Sahabat Museum menambahkan, acara tersebut bukan demonstrasi. "Ini sebenarnya aksi kita sebagai warga jakarta yang mencintai kotanya. Dengan acara yang rencananya digelar Januari nanti itu tidak akan ada demo. TIdak bakal ada kekerasan, bahkan akan menguntungkan sebagian besar warga Jakarta karena akan memperkenalkan Kemayoran bukan hanya sebagai tempat pameran," katanya.

Arsitek sekaligus pemerhati tata ruang Aditya Fitranto menambahkan lewat acara tersebut  pihak pengusaha atau pengembang tergugah tidak menghancurkan bekas menara kontrol itu."Ada respon maupun tidak acara ini tetap jalan. karena buat kami ini untuk senang-senang aja. Aksi kita bukan untuk menghambat siapapun. bisa dialihfungsikan lah. Bukan cuma jadi ATC, tapi jadi museum atau cafe. Bisa juga jadi galeri tintin. bisa juga jadi ruang terbukanya si apartemen itu. Itu kan terintegrasi. Selling point juga buat pengembang,” terangnya.

Warga sekitar, Ahmad Untung ikut mendukung pelestarian bangunan bersejarah itu.“(Kalau bangunan ini dirobohkan bagaimana pak?) Tidak boleh. Ini kan sejarah. Justru kalau mau bangunan lain yang dihancurkan. Ini (bandara) dibagun lagi. Kalau menurut saya kalau bisa menara ini diabadikan saja karena lapangan terbang pertama bagi indonesia.”

Lelaki paruh baya itu bahkan mengaku rela menjaga menara tersebut tanpa dibayar sepeserpun.“Dulu kita pernah ngomong sama mereka (pengembang). Kalau memang kita tidak digaji juga tidak apa-apa. Ini kan sejarah. Ya jagain sama ngerapihin lah. Pernah mereka itu kasih saya biaya saya urus, saya lampuin itu selama setahun. Tanpa diperintah juga kita mau. Kita sadar ini sejarah,” katanya.

Warga lainnya. Asep Solehudin masih ingat betul posisi bangunan di Bandara Kemayoran. “(Bapak tahu ini sudah jadi cagar budaya?) tahu dong. Ini kan tinggal beberapa bangunan. Ada menara kecil, menara besar di sana, ada sumur tua, ada gardu listrik lama. Di dekat MGK itu terminalnya dulu. Kalau dekat PRJ itu hangarnya tempat betulin pesawat. Landasan pacu di sini sampai sana, Ngamuk mereka kalau ini dihancurkan. Itu kan cagar budaya. Penting ini,” tegasnya.

Asep menegaskan warga sekitar akan menentang jika ada pengusaha yang berani menghancurkan. Mempertahankan menara bekas Bandara Kemayoran bukan hanya soal nostalgia. Menurut Aditya, hal itu akan mengembalikan citra Kemayoran sebagai kawasan yang penuh cerita sejarah. Bukan hanya dikenal  karena pameran tahunan seperti Pekan Raya Jakarta semata. “Ada kampung Kemayoran, ada keroncong Kemayoran, ada jalan benjamin suaeb juga yang pasti ada hubungannya dengan benjamin s. Itu kan ikonik juga,” jelasnya.

Perjuangan KTI dan kawan-kawan tampaknya masih panjang. Selain menyadarakan masyarakat, mereka juga harus berjuang menggugah pemerintah dan pengusaha yang acap kali lebih peduli uang ketimbang  sejarah.

Editor: Taufik Wijaya

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!