Komunitas Tintin, Kemayoran, Bandara, sejarah, ahok

KBR68H - Pertengahan bulan ini sejumlah komunitas berencana menggelar acara yang bertujuan menyelamatkan bangunan di bekas Bandara Kemayoran Jakarta. Salah satu yang mendapat perhatian adalah bekas menara pengontrol lalu-lintas pesawat. Bangunan itu terancam dihancurkan akibat pembangunan. KBR68H berbincang dengan sejumlah pegiat komunitas tentang pentingnya menjaga bangunan bersejarah tersebut.                

Siang  di tahun 1968 pesawat Qantas nomor penerbangan 714 jurusan Sydney, Australia  baru saja mendarat di Bandara Kemayoran,Jakarta. Seorang lelaki berambut jambul berkulit pucat keluar bersama dua rekannya serta seekor anjing putih kesayangannya. Seorang dari mereka tampak keheranan sekaligus terkejut ketika mendarat di Jakarta.

Dia berusaha meyakinkan diri tengah berada di Ibu Kota Indonesia dengan bertanya kepada temannya yang berjenggot lebat. Kejadian tersebut merupakan salah satu fragmen dalam komik Tintin karya komikus Belgia,Herge berjudul “Penerbangan 714”.

Di cerita bergambar itu, Tintin  bersama rekannya  Kapten Haddock , Profesor Lakmus, serta si anjing putih, Snowy mampir di Jakarta dan memulai petualangan mereka hingga Makassar dan Flores. Selama dekade enam puluh hingga tujuh puluhan, nama Bandara Kemayoran memang cukup termahsyur. Maklum, bandara itu adalah yang pertama dimiliki oleh negeri ini. Jauh sebelum Bandara Soekarno Hatta dibangun bandara berkode KMO itu bahkan lebih dulu terkenal ketimbang  Bandara Changi kebanggaan Singapura.

Namun kini, kondisi bandara itu sudah jauh berbeda. Pasca ditutup tahun 1983, areal di dalam bandara dipenuhi semak dan pepohonan.  Di tengah deretan gedung  JiEXPO yang berdiri megah,  bandara bersejarah itu hampir dilupakan. Reporter KBR68H Gun-gun Gunawan melaporkan situasi di sana: “Saya tengah berada di bekas kompleks Bandara Kemayoran. Dua menara yang merupakan sisa bangunan bandara tidak begitu tampak dari luar lokasi. Sekeliling lokasi dikelilingi pagar seng dan dijaga petugas keamanan sehingga masyarakat umum tidak dapat masuk.”

Situasi ini mengusik keinginan beberapa kalangan untuk menyelamatkannya. Salah satunya dari Komunitas Tintin Indonesia (KTI). Juru Bicara KTI, Muhammad Misdianto menjelaskan pentingnya bekas bandara itu. “Kalau kita melihat sejarah penerbangan sipil, bandara Kemayoran telah banyak mencetak pilot-pilot handal saat ini. Kemayoran juga bukan hanya untuk penerbangan internasional. Ketika dipindah ke halim, Kemayoran menjadi main hub untuk penerbangan lokal. Dan anak muda zaman sekarang tidak ada yang tahu itu,” kata Musdianto.

Misdianto dan komunitasnya bangga karena Indonesia pernah punya bandara yang tersohor hingga mancanegara. “Kalau menurut KTI sendiri Indonesia pada tahun 1960-an bisa masuk komik saja sudah luar biasa. Padahal  zaman itu belum ada Internet dan Herge itu terkenal tidak pernah ke mana-mana. Jadi andalannya hanya buku perpustakaan. Jadi bisa dibayangkan betapa Indonesia terkenal saat itu lewat Bung Karno,” katanya.

Kondisi bekas komplek bandara yang tak terawat dipenuhi semak dan pepohonan  pernah membuat KTI tergugah membersihkannya.  “Kita sempat bersihkan area ini. Waktu itu Juni 2012 kita datang dan kondisinya lebih rimbun,Lalu kita bersihkan, kita bongkarin semua dan kelilhatan banget bedanya. Abis itu kita makan di atas. Asyik banget,” tambahnya.

Kekhawatiran KTI nilai arsitek sekaligus pemerhati tata ruang, Aditya Fitrianto beralasan. Ini mengingat bangunan dua bekas menara pengontrol lalu lintas udara itu tidak aman. Pasalnya, kawasan itu akan dijadikan pusat bisnis sehingga benda yang sudah dijadikan cagar budaya terancam dirobohkan.

Jika hal itu terjadi, menurut Aditya itu melanggar Surat Keputusan Gubernur Soerjadi Soedirja pada 1993. Kekhawatiran serupa dirasakan Misdianto, “Kalau secara hukum memang sudah dinyatakan sebagai benda cagar budaya yang berarti tidak boleh dialihfungsikan. Tapi kan keadaan di lapangan tau sendiri lah. Mau diubah fungsinya juga tidak boleh secara hukum tapi kita sama-sama tahu orang yang tidak peduli punya seribu satu cara untuk menghancurkan itu.”

Ade Purnama, sejarawan dari Komunitas Sahabat Museum juga ikut menimpali, "Yang kami takutkan justru nasib bangunan bersejarah lain. Seperti dulu ada Gedung Harmoni yang dirobohkan karena pelebaran jalan dan dinilai tidak berharga karena peninggalan penjajah. Nah Kami berupaya ada baiknya dari pihak pengembang dan Pemprov DKI menyelamatkan dan menjadikan menara ini sebagai museum atau monumen dan sebagainya"

Untuk menggugah kesadaran Pemrov DKI Jakarta, Komunitas Tintin Indonesia (KTI)  beserta beberapa komunitas lainnya membuat sebuah petisi yang ditujukan kepada Gubernur Joko Widodo. Isinya, meminta Jokowi mempertahankan bangunan cagar budaya itu.  Sampai kini dukungan terhadap petisi tersebut mencapai lebih dari 380  orang. “Kalau selain lewat petisi sih belum. Tapi akan kita coba lewat semua jalur. Kalau soal ini kan yang perlu kita gedor kan Pemprov Jakarta. Ktia harapkan petisi ini dapat memberikan peringatan kepada Jokowi bahwa Menara ini penting bukan hanya bagi Kemayoran, tapi bagi Jakarta bahkan Indonesia,” katanya.

Menanggapi petisi dari KTI dan kawan-kawan, Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama berkomentar,“Saya sudah laporan dari lapangan. Tapi itu wilayah Setneg sama seperti Gelora Bung Karno. Kita bahkan tidak memngatasi parkir liar di dua tempat itu. Itu pernah diminta pak Sutiyoso. Kenapa tidak dihibahkan saja oleh Setneg ke Pemprov? Kan sudah jadi kepentingan banyak orang di sana, sudah banyak kerjasama-kerjasama. Harusnya diserahkan ke Pemprov. Urusan negara memang lebih cepat diselesaikan di Merdeka Utara.”

Pertengahan bulan ini  Komunitas Tintin Indonesia tengah  menyiapkan acara untuk menggugah kesadaran masyarakat akan pentingnya benda cagar budaya khususnya Menara Kemayoran.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!