Haul, Gus Dur, Toleransi, Minoritas, Agama

KBR68H -  Semasa hidupnya Gus Dur dikenal sebagai sosok yang memperjuangkan toleransi dan keberagaman. Empat tahun setelah dia wafat —tepatnya 30 Desember 2009—sejumlah tokoh yang pernah dekat dengan bekas Presiden tersebut  menyampaikan kesaksian dan kesan mereka.

Sore hari  sebuah tempat di bilangan Ciganjur, Jakarta Selatan mulai dipadati ribuan orang. Mereka datang berduyun-duyun sejak siang hari dari berbagai daerah. Sebagian tamu berasal dari Jakarta dan wilayah sekitarnya seperti Bogor, Depok dan Bekasi.

Ada pula yang datang dari Jawa Timur dan Jawa Tengah. Mereka tengah menghadiri haul atau peringatan wafatnya empat tahun bekas Presiden Abdurrahman Wahid atau kerap disapa Gus Dur. 

Putri sulung Gus Dur, Yenny Wahid  malam itu membuka acara. Menurutnya acara  yang dihelat saban tahun tersebut bertujuan  mengenang semangat Gus Dur  membela kaum minoritas dan menjunjung tinggi nilai kemajemukan. Semangat itu nilainya kian luntur seiring makin maraknya kasus intoleransi yang mengatasnamakan agama.

Adiknya Innayah Wahid ikut menyampaikan kata sambutan. Putri bungsu Gus Dur ini membacakan puisi yang berisi kritik terhadap politikus yang sibuk memperebutkan kekuasaan. Puisi itu diberi judul wolak-walik atau bolak-balik. "Ini zaman wolak-walik, wolak-walik zaman ini. Sejarah tidak perlu  diingat, apalagi diajarkan. Yang penting saat saya punya kekuasaan.  Rakyat tidak punya jati diri, itu bukan urusan saya. Yang penting saya  kepilih di pemilu berikutnya. Sampai akhirnya lupa mana pemimpin yang  berjasa, mana pemimpin yang hanya cari kuasa. Ujung-ujungnya, 'Piye  Kabarmu, le? Enak zamanku, tho,' menjadi motto bersama," kata Inayah di sambut tawa.  

Selain itu, dalam puisinya Inayah juga mengkritik aksi anarkistis ormas di negeri ini. "Ini zaman wolak-walik, walik ini wolak zaman. Yang halus diberangus,  yang marah ditebarkan. Adegan cinta harus dihapus, itu maksiat.  Merusak moral bangsa. Adegan kekerasan, oh tidak apa-apa. Apalagi  kalau sembari berteriak 'Allahu Akbar!', menunjukkan siapa yang  berkuasa. Kalau perlu ditambah special effect, kibas-kibas pedang dan  kibar-kibar bendera supaya dramanya makin kuat dan nyata."

Semasa hidupnya Gus Dur yang lahir di Jombang, Jawa Timur, 7 September 1940 tersebut dikenal sebagai sosok yang toleran. Bekas Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ini gigih memperjuangkan hak-hak kaum minoritas. Gus Dur kerap bersuara lantang terhadap tindak kekerasan dan aksi main hakim yang dilakukan ormas berlabel agama.  

Saat menjabat sebagai Presiden Indonesia yang keempat mulai 1999 hingga 2001, Gus Dur  menetapkan Tahun Baru Cina (Imlek) sebagai hari libur. Ia juga mengakui Konghucu sebagai salah satu agama resmi di Indonesia.  Karir politik Gus Dur meredup sejak 23 Juli 2001. Kepemimpinan pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tersebut digantikan oleh Megawati Soekarnoputri. Pergantian kekuasaan itu dilakukan MPR yang dipimpin Amien Rais menyusul ketidakpuasan atas kepemimpinan Gus Dur.

Selain di Ciganjur, Jakarta peringatan mengenang wafatnya Gus Dur juga berlangsung di tanah kelahirannya, Jombang. Pondok Pesantren Tebuireng tempat berlangsungnya acara dipadati ribuan tamu. Mereka berasal dari berbagai daerah di tanah air.

Salah satu pengunjung asal Kabupaten Kediri, Usman, mengatakan, Gus Dur merupakan sosok guru yang patut diteladani.  "Ya mudah-mudahan dapat barokahnya Gus Dur, kan Guru, bapaknya Guru jadi harus diteladani dari segala ajarannya, banyak kelebihanya di atas kelebihan Gus Dur itu. Yang katanya dulu itu wali kesepuluh. Jadi nggak ada perbedaan sama sekali antara golongan yang lemah, yang kaya,antara kepercayaan apa, iman apa itu nggak ada," kata Lukman di Ponpes Tebuireng.

Acara  juga  di hadiri Presiden  Susilo Bambang Yudhoyono. Menurutnya Gus Dur adalah tokoh yang gigih memperjuangkan dan menghapuskan  praktik diskriminasi. “Saya bisa menceritakan banyak contoh tetapi saya ingin simpulkan saja bahwa dalam diri Gus Dur yang diucapkan, yang dilakukan dan yang diperjuangkan hingga akhir hayatnya adalah ingin bangsa yang majemuk ini betul-betul rukun, damai, penuh dengan toleransi, hormat menghormati satu sama lain. Beliau juga sangat gigih dan bahkan mengawali pada era Kepresidenan beliau untuk menghilangkan diskriminasi.”

Kembali ke acara Haul Gus Dur di Ciganjur. Sejumlah tokoh  diminta menyampaikan kesaksian atau pandangan mereka terhadap sosok Gus Dur yang dijuluki Bapak Toleransi atau Pluralisme tersebut.


Mereka diantaranya  Kapolri Jenderal Sutarman, bekas Ketua DPR Akbar Tanjung dan  Wakil Gubernur DKI  Basuki Tjahaya Purnama.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!