genjer-genjer, seni, musik, musician united

Sastra Ahmad Shoggy adalah salah satu anak muda yang ikut bergabung sebagai anggota Komunitas Musician United. Setelah diajak rekannya dan membaca kiprah komunitas itu di laman musicianunited.blogspot.com, ia kepincut.   “Awalnya di ajak kemudian mulai lihat dan baca di blognya, mulai tertarik karena musik yang diangkat adalah musik zaman dulu. Musik yang tidak eksis lagi di peradaban anak muda zaman sekarang. Pertama kali datanm nongkrong kemudian langsung isi submisi gitar di lagu Rayuan Pulau Kelapa,” katanya. 


Petikan gitar Sastra bisa dinikmati di lagu “Rayuan Pulau Kelapa” dan “Sabda Alam” yang telah diaransemen.  Upaya yang dilakukan Sastra dan anggota Komunitas Musician United sebenarnya tak muluk. Mereka sekadar ingin menggugah kaum muda saat ini. Bahwa Indonesia kaya dengan lagu yang berkualitas dan enak didengar. Tak kalah dengan musik asing.   Pengamat musik Bens Leo menyambut positif langkah aransamen ulang lagu lawas nasional oleh komunitas ini. “Bahkan di Jawa Tengah itu ada komunitas Hip-Hop semacam republik, pokoknya mereka yang mengandalkan seperti ini. Jadi ini fenomena yang menarik di mana karya-karya baru tetap ada, tapi lagu lama bisa kembali popular,” tambahnya. 


Komunitas Hip-Hop yang dimaksud Bens tadi “Jogja Hip Hop Foundation” yang didirikan Marzuki Mohamad alias  Kill the DJ pada tahun 2003 silam. Komunitas ini membantu aktivitas dan mempromosikan rap berbahasa Jawa. Bens Leo berharap langkah kecil Komunitas Musician United mengaransemen lagu lawas dapat menumbuhkan rasa cinta tanah air .


“Daerah dari Sunda dari Jawa yang unsur etnisnya lebih kuat kalau aransemennya mengarah ke sana itu jauh lebih menarik. Waktu penyanyi Bondan Prakoso menggarap lagu Bengawan Solo dalam versi dia ada unsur rep-nya, kemudian lagu Bangawan Solo dalam versi modern diperdengarkan pada almarhum Pak Gesang (pencipta lagu Bengawasan Solo-red), beliau kaget sendiri. Ternyata ada anak muda yang perhatian terhadap musik sendiri, musik daerah agar pendengarnya lebih banyak ke anak muda,” jelasnya. 


Kembali ke penggagas komunitas ini, Yogi. Ia berjanji bersama rekannya tak akan berhenti berkreasi. Mengaransemen lagu lawas nasional agar lebih dikenal dan dihargai.  “Kita harapkan sih orang itu lebih perhatian, orang lebih tahu Musician United punya Indonesia dan juga luar negeri. Dan orang Indonesia tahu bahwa musik-musiknya tuh bagus,” imbuhnya. 


Editor: Taufik Wijaya

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!