Genjer-genjer, komunitas, Musician United, musik, seni

KBR68H - Komunitas Musician United berupaya mengenalkan kembali lagu lawas negeri ini. Sebut saja diantaranya “Sabda Alam” karya Ismail Marzuki atau “Genjer-genjer” hasil kreatifitas Muhammad Arief. Mereka mengaransemen ulang tembang yang pernah berjaya di zamannya dengan cita rasa musik populer saat ini. KBR68H berbincang dengan penggagas dan anggota  komunitas ini disela-sela latihan musik.  

Lantunan musik mengalun dari sebuah studio di kawasan pusat bisnis Kuningan, Jakarta petang itu. Di ruangan berukuran 2 kali 3 meter  sekitar lima anak muda  berusia sekitar 20 sampai 30 tahunan  sibuk berlatih. Mereka masing-masing memainkan  sejumlah alat musik seperti gitar, piano dan gendang.  

Salah satu musisi itu Yogi Natasukma. Lelaki 20 tahunan  ini tengah sibuk  mengaransemen musik dengan bantuan komputer. Yogi adalah penggagas terbentuknya komunitas musik, “Musician United” atau musisi bersatu sejak setahun silam.  

“Terfikirnya gara-gara, pertama itu Indonesia itu memiliki musik yang oke. Terusnya kenapa kita sudah mulai melupakan musik kita sendiri. Kedua gue punya sambungan internet yang media sosial mudah bisa menghilangkan jarak dan waktu kenapa tidak pakai buat proyek kolaborasi aja, daripada kita pakai buat berkelahi seperti di twitter ya  sudah kita buat kerjasama, ” jelasnya.

Anggota aktif komunitas ini  sekitar 10 orang. Sementara anggota non-aktifnya bisa mencapai ratusan orang. Mereka berasal dari ragam profesi. Saban akhir pekan anggota komunitas saling berinteraksi. Menurut Yogi, komunitas ini telah mengaransemen lebih dari 10 lagu lawas nasional. Hasil aransemen lagu  bisa dinikmati di media sosial berbagi video, Youtube.

“Masyarakat yang gak ngerti musik walaupun gak bisa main musik tapi dengan cara menonton dengerin musiknya dengan cara banyak orang ikutan membuat mereka tertarik dan merasa ini merupakan salah satu cara yang unik, untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa masih ada yang berusaha untuk menggunakan lagu-lagu lama,” tambahnya.

Tercatat sudah puluhan ribu orang yang menikmatinya. Aransemen tak dikerjakan Yogi sendirian. Ia dibantu rekannya sesama anggota komunitas.  “Ada enam video, pertama Indonesia tanah airku karya Ibu Sud kita nyanyikan dengan irama reggae, yang kedua Indonesia pusaka dengan pop dan rock, terus kita medley lagu anak berbagai macam genre ada di situ. Yang keemapat kita medley lagu daerah yang ke lima rayuan pulau kelapa dimedley dengan Genjer-genjer yang keenam kita bawain Sabda Alamnya Ismail Marzuki,” jelasnya.

Salah satunya adalah Ayu Nitya.Menurut perempuan sekitar 20 tahunan ini ide lagu yang akan diaransemen lahir dari respon anggota Komunitas Musician United di pelbagai media sosial.  “Pertama kita lempar ke forum media sosial  teman teman kita di grup whats app, di hang out gitu gitu terus, besok besok kita mau bikin apa yah? Lagu apa yang asik. Ya sudah kita bahas, kita dapetin satu lagunya,” jelasnya.

Setelah lagu yang akan diaransemen ulang disetujui, tahap selanjutnya menentukan jenis musik. Aliran yang dipilih bisa  jazz, pop, rock, hip hop, sampai reggae. “Terus kita bikin nih, mau dibikin jadi kaya apa nih genrenya, reggae, rock, dangdut. Terus kita bikin guide nya. Setelah guide nya jadi nanti kita lempar ke sosmed, pada mau ikut Musician United gak ini guidenya download yah. Jadi nanti guide kita bikin, satu guide full, nanti ada juga guide sesuai dengan alat musik yang mau mereka mainin masing-masing,” jelasnya, 

Menurut  Ayu lagu lawas yang akan diaransemen dipilih secara selektif. Misalnya lagu yang dipilih sudah bebas royalti. Hal lainnya lagu berkaitan dengan peristiwa bersejarah.  “Hari anak internasional kita ngeluarin lagu medley anak. Kemarin pas waktu medley lagu Rayuan Pulau Kelapa dengan Genjer-genjer kita keluarinnya persis peringatan Hari Kesaktian Pancasila tanggal 1 Oktober. Itu sih sebenarnya sedikit menyamakan tanggal-tanggal penting di Indonesia supaya momentnya pas,” katanya.

Lagu Genjer-genjer yang disebut Ayu tadi adalah lagu yang dipopulerkan Muhammad Arief pada era penjajahan Jepang atau sekitar tahun 1940-an.  Syair lagu ini  dimaksudkan sebagai sindiran atas  pendudukan Jepang ke Indonesia. Pada saat itu, kondisi rakyat semakin sengsara dibanding sebelumnya. Bahkan genjer tanaman gulma yang tumbuh di rawa-rawa sebelumnya dikosumsi itik, ikut disantap rakyat. Lagu yang sempat dinyanyikan musisi  Bing Slamet dan Lilis Suryani ini  dituding Pemerintah Orde Baru identik dengan  Partai Komunis Indonesia.  

Yogi menangkis jika pemilihan lagu seperti Genjer-genjer bermuatan politik. “Kita tuh mau bilang ke masyarakat bahwa lagu adalah budaya kita, tidak peduli dengan jubah politiknya itu apa, kepentingan ideologinya apa. Terpenting adalah Lagu Genjer-genjer atau lagu lainnya yang pernah dipolitisir, itu adalah bentuk seni, itu punya kita semua gak cuma punya kelompok tertentu saja,” tegasnya. 


Lagu yang di aransemen ulang komunitas ini bisa dinikmati oleh siapapun dan tidak dikomersialkan.



Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!