tawuran, pelajar, johar baru, paulus wirutomo, wirausaha

Tawuran di Johar Baru


Bambang Suryono masih ingat betul dengan kenangan kelam masa lalunya. Remaja yang tinggal di wilayah Kramat Jaya ini misalnya bercerita soal ‘tradisi’ perkelahian massal atau tawuran antarkampung.   “Paling banyak berapa kali tawuran? Di sono si bisa pagi, siang, sore, malam. Pagi pagi serangan fajar, ntar siang buka lagi, ntar sore dibuka lagi, apalagi ntar malam, malem malem. Itu dalamseminggu pasti ada tawuran? Pasti ada. Apelagi kalau bulan puasa. Paling sering tawuran . Ya mungkin gara gara dendam lama atau mau cari muka sama yang gede gedeannya. Biasalah,” katanya.

Pemicu konflik  mulai dari masalah sepele sampai  dendam masa lalu.   “Ya sekarang itungannye gini aje. Kalau mbak punya rumah trus saya timpukin, ya, mbak pasti mara dong. Otomatis. Cuma setahu saya anak Kramat Jaya ini nggak pernah ngusik sama anak kampung orang cuma dia diusik mulu. Jadi ya kita lawan lah. Cuman saya kan ngebela kampung juga, mbak. Masa saya diam saja?,” terang Bambang.

Empat tahun silam, saat  tawuran  Bambang sempat terluka.  “Cuma nyampah nyampahin doang. Kita yang rugi, badan kita luka luka segala macam. Kau pernah kena? Pernah kena yang di sini. (Itu kenapa?) Saya kena paku. Lagi sama musuhnye lagi ketok ketokan. (Kena paku dilempar atau di?) Enggak disabet sama dia. Bambu cuma ada pakunye. Pakunye karatan, infeksi, jadi begitu. Sudah gak apa-apa sekarang.”


Catatan Kepolisian Jakarta menyebutkan Kelurahan Johar Baru adalah satu dari enam wilayah yang rawan tawuran di Ibu Kota. Lima daerah lain Tanah Abang, Berlan, Cakung, Kampung Pulo dan UKI. Di Johar Baru, tawuran antar warga terakhir  pecah pada pertengahan November 2013 silam.

Sebagai warga Johar Baru, Sosiolog Universitas Indonesia Paulus Wirutomo tergerak untuk ikut terlibat atasi masalah ini. Ia pun sempat “blusukan”  ke perkampungan bersama timnya. Mencari tahu penyebab tawuran.  “Karena kita tahu bahwa persoalannya itu kompleks. Yaitu misalnya masalah kemiskinan, masalah penyediaan fasilitas yang kurang, masalah putus sekolah, masalah pengangguran, perumahan yang begitu kecil rumah mereka. Sehingga mereka sebagai keluarga tidak pernah bisa meluangkan waktu bersama di rumah. Bahkan tidur pun tidak bisa bersama sama. Jadi ada yang tidur yang lain tidak bisa tidur. Jadi kalau malam itu ada remaja yang di luar rumah,” katanya.

Kemiskinan menjadi sumbu utama yang menggerakkan kekerasan yang berujung tawuran. “Bayangkan semalam suntuk di luar rumah dan itu ada banyak anak yang semacam itu. Sehingga muncul kelompok kelompok nongkrong. Nha kelompok nongkrong itu tidak Cuma nongkrong saja, tapi banyak hal. Ada yang karena saling ejek lalu berantem. Akhirnya kelompok kelompok itu bisa kita identifikasi itu sekitar 54 kelompok itu. Masing masing punya teman, kelompok ini berteman dengan sana, kelompok ini bermusuhan dengan sana. Jadi sudah ada polanya begitu. Sheingga kalau ada tawuran pasti nyambungnya ke sana ke sana seperti itu,” imbuhnya.

Sekolah Komunitas Johar Baru (SKJB) yang berdiri November tahun 2012 baru mampu merangkul empat kelompok remaja di Johar Baru. Upaya memperbaiki prilaku remaja Johar Baru  yang dilakukan Paulus dan timnya  disambut baik psikolog Tika Bisono. “Kalau dilakukan memang serius dan mereka melihat bahwa hal ini diadakan memang untuk mereka. Untuk mereka sampai selesai, sampai mandiri dengan hidupnya. Mereka akan merasa dihargai dan rasa dihargai ini akan membuat mereka Insya Allah akan menghargai kembali dengan apa yang sudah dilakukan,” ungkapnya.

Tak ada kata terlambat untuk mengubah diri agar lebih berdaya guna.  “Program intervensi sosial itu buat anak anak ini adalah menguber ketertinggalan, yang harusnya di usia usia tertentu mereka udah selesai. Tapi karena kocar kacir kan ni nmenguber, mengejar ketertinggalan. Jadi nggak papa menurut saya its better late than never. Mereka akhirnya dapat yang memang harusnya mereka miliki. Dan dalam situasi yang memang telat. Tapi kalau keterlambatan itu kualitasnya baik, ya berkualitaslah dia. Jadi nggak ada kata terlambat untuk umur berapapun untuk membuat situasi dirinya menjadi lebih baik,” tegasnya.

Belasan remaja Johar Baru seperti Bambang dan Fajar kini  tengah mengubah diri. Mereka ingin hidupnya lebih berarti dan dihargai orang lain.  “Saya mau banggain orang tua saya dulu. Saya si udeh berapa tahun lulus. Saya belum bisa ngasih banyak ke orangtua. Saya yang begini begini aje. Sebelumnya saya sudah kerja cuman gajinye enggak mencukupi, saya berhenti lah. Saya ngasih orangtua juga nggak seberapa. Saya pikir makanya saya aduin ke sini mudah mudahan si saya berhasil di sini, Dapat duit banyak.  Bisa ngasih orangtua,” kata Bambang.

Fajar menambahkan, “Saya enggak punya jaminan paling saya berusaha lagi lebih maju lagi. Saya enggak mau lagi jadi bak sampah masyarakat lagi. Capek, capek. Jadi sampah masyarakat diomonginnye jelek melulu, negatif. Orang mandang saya negatif. Setiap saya lewat muka jutek, judes, main ama anaknya  diomelin. Sekarang si alhamdulillah tidak.”

Editor: Taufik Wijaya

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!