Selamatkan Anak Dari Sekolah Rusak

Anak merupakan harapan bangsa, bersekolah menimba ilmu untuk meraih cita-cita, namun bagaimana apabila sekolah tempatnya belajar malah rusak?

Senin, 11 Sep 2017 08:55 WIB

Sejak 2014 hingga awal 2017 seratusan anak terluka  dan empat meninggal akibat tertimpa tertimpa material di bangunan sekolah yang roboh. Saat ini, puluhan juta anak sehari-hari berisiko menghadapi bahaya karena belajar di sekolah yang rusak parah. Sedikitnya di Indonesia ada 190 ribu ruang kelas rusak. Di sisi lain anggaran untuk perbaikan merosot.  

Simak perbincangan Ruang Publik KBR pada 11 September 2017 pukul 09.00-10.00 WIB.

Dengarkan di Radio Jaringan KBR atau via Youtube Channel, Berita KBR dan website kbr.id atau melalui aplikasi android dan IOS search KBR Radio. Kami juga mengundang Anda yang ingin bertanya atau memberikan komentar. Anda bisa hubungi kami lewat telp di 0800 140 3131. Pertanyaan juga bisa diajukan melalui pesan singkat, whatsapp di 08121188181 atau mention ke @halokbr.

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP
  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

Wiranto Batalkan Wacana Pj Gubernur dari Polisi

  • PPATK: Politik Uang Rawan sejak Kampanye hingga Pengesahan Suara
  • Hampir 30 Ribu Warga Kabupaten Bandung Mengungsi Akibat Banjir
  • Persiapan Pemilu, Polisi Malaysia Dilarang Cuti 3 Bulan Ini

Pada 2018 Yayasan Pantau memberikan penghargaan ini kepada Pemimpin Redaksi Kantor Berita Radio (KBR) Citra Dyah Prastuti, untuk keberaniannya mengarahkan liputan tentang demokrasi dan toleransi.