Rokok Gerogoti Keluarga Miskin

Senin, 25 Sep 2017 10:59 WIB

Dita Sari seorang ibu di Purwodadi membuktikan besarnya uang yang dialokasikan untuk membeli rokok. Satu setengah tahun uang jatah rokok, setelah sang suami berhenti merokok, cukup untuk membeli sebuah motor baru. Artinya alokasi uang rokok dalam keluarga selama ini cukup besar. Para perokok berada dalam jeratan candu sehingga, hilang logika membelanjakan uang yang cukup besar untuk konsumsi rokok. Maka tak heran Presiden Joko Widodo mengingatkan, “Dana keluarga jangan dibelikan rokok. “Seruan presiden ini punya itung-itungan jelas: dana yang dikeluarkan untuk konsumsi produk tembakau 3,2 kali lebih besar dari pengeluaran untuk telur dan susu. Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan TNP2K menyebut rokok menempati pengeluaran kedua setelah beras di kalangan keluarga miskin.  

Jika anggaran rokok yang dihabiskan Rp 20 ribu, sebulan menjadi Rp 600.000. Angka itu belum ditambah jika keluarga harus mengeluarkan dana untuk pengobatan si perokok bahkan perokok pasif. Bagaimana penjelasannya? Mari kita simak siaran Ruang Publik pada Rabu, 27 September 2017, pukul 09.00 WIB bersama dengan beberapa narasumber kami:

  • Dita Sari Ibu RT yang menggumpulkan uang rokok suaminya untuk beli motor
  • Prof Thabrany Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Manusia Universitas Indonesia (PKEKKFKM UI) 
  • Bambang Widianto Sekretaris  Eksekutif Tim Nasional Penanggulangan Kemiskinan 
  • Lukman Hakim pegiat tabungan ternak kambing di Banyumas Jawa Tengah: Telewicara

Ruang Publik dapat disimak di radio jaringan KBR, bagi yang di Jakarta bisa dengarkan di Radio 104,2 MS TRI FM Youtube Channel: Ruang Publik KBR website kbr.id atau melalui aplikasi android dan IOS search KBR Radio. Kami juga mengundang Anda di telp bebas pulsa di 0800 140 3131. pesan singkat, whatsapp di 0812 118 8181 atau mention ke akun twitter @halokbr. 

     


Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019

  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas
  • MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi
  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial

Dokter RS Premier: Setnov Pernah Minta Dirawat Dokter Terawan

  • APK Pasangan Khofifa-Emil Dibakar Orang Tidak Dikenal di Situbondo
  • AL Libya Selamatkan 263 Imigran di Lepas Pantai Barat
  • Final Piala FA, Antonio Conte Sebut Chelsea bukan Favorit Juara

Setiap individu itu unik, mereka memiliki kesukaan masing-masing, termasuk dalam bekerja. Kebanyakan orang ingin bekerja di bidang yang sesuai dengan passion dan motivasi mereka masing-masing.