Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

Jokowi menyayangkan ada sebagian masyarakat yang masih tidak rukun meski pemilu sudah berlalu.

Rabu, 29 Nov 2017 10:36 WIB

Presiden Joko Widodo bersama Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan pengurus FKUB di Istana Negara, Jakarta, Selasa (28/11/2017). (Foto: ANTARA/Rosa Panggabean)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Jakarta - Presiden Joko Widodo meminta para tokoh agama yang tergabung dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di berbagai tingkatan agar ikut menjaga kerukunan bangsa di tahun-tahun politik ke depan. 

Jokowi mengingatkan potensi perpecahan dalam masyarakat akibat politisasi isu-isu Suku Agama Ras dan Antargolongan (SARA) demi kepentingan politik tertentu. 

"Sering rakyat ini dibawa, karena pilihan politik dibawa ke isu-isu agama, dibawa ke isu-isu kesukuan. Itu sudah rampung, sudah final. Pada saat proklamator kita, pejuang kita, pahlawan kita sudah sepakat dalam pendirian negara dan bangsa ini. Jangan utak-atik itu lagi," kata Jokowi di hadapan para tokoh FKUB se-Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Selasa (28/11/2017).

Jokowi menyayangkan ada sebagian masyarakat yang masih tidak rukun meski pemilu sudah berlalu. 

"Masa sudah tiga empat tahun masih dibawa-bawa urusan pilpres, pilgub, pilbup, pilwakot. Itu yang pintar politikusnya. Kita yang nggak bisa memberitahu rakyat," kata Jokowi.

Baca juga:

Jokowi berpesan agar FKUB menyelesaikan konflik sekecil apapun di lapangan secepat mungkin. Ia mengkhawatirkan apabila konflik dibiarkan berlarut-larut, terlebih dengan kehadiran media sosial di era saat ini.

"Yang berbahaya sekarang ini adalah konflik kecil, lantas media sosial main. Isunya dipelintir-pelintir kemana-mana. Masyarakat terbakar. Ini yang segera harus ditemukan. Jangan sampai sosmed bergerak, ini belum ketemu," ujar dia.

Jokowi kembali menyinggung tentang budaya toleransi dan moderasi di Indonesia yang diakui dunia dan dijadikan contoh. Salah satu pemimpin negara yang memberikan pujian adalah Perdana Menteri Denmark Lars Lokke Rasmussen.

"Beliau menyampaikan kepada saya, kekagumannya akan toleransi, moderasi, yang ada di negara kita Indonesia," ujar dia.

Perdana Menteri Denmark Lars Lokke Rasmussen mengunjungi Indonesia pada Selasa, 28 November 2017.

Presiden Joko Widodo juga mencontohkan toleransi yang terlihat dari keberadaan Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral di Jakarta, yang dibangun berdampingan. 

"Salah satu alasan masjid dan katedral itu dibangun berdampingan, itu sebagai cermin harapan kita semua hidup berdampingan rukun harmonis," kata Jokowi.

Jokowi juga mengisahkan dialognya dengan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani, yang membandingkan toleransi kedua negara. Kata Jokowi, Presiden Ashraf Ghani berpesan agar Jokowi berhati-hati dalam mengelola kebhinekaan Indonesia.

Baca juga:

Editor: Agus Luqman 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Lies Marcoes Bicara Soal Perempuan dan Anak Dalam Terorisme

  • Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob
  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

Pemilihan umum 2019 memang masih satu tahun lagi. Namun hingar bingar mengenai pesta akbar demokrasi m ilik rakyat Indonesia ini sudah mulai terasa saat ini.