Bom Samarinda, DPR: Mainstream dari Teroris atau Mainan Politik?

Kasus bom molotov yang menimpa gereja di Samarindra harus disikapi pemerintah dengan berbagai kemungkinan.

Senin, 14 Nov 2016 18:20 WIB

Petugas berjaga di Gereja Oikumene Samarinda. (Antara)

Petugas berjaga di Gereja Oikumene Samarinda. (Antara)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}


Pemboman gereja terulang lagi. Kali ini terjadi di Samarinda. Kepolisian Indonesia menyebut Juhanda sebagai pelaku pelemparan bom molotov di Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur. Juhanda merupakan anggota kelompok teror bom buku di Komunitas Utan Kayu, Jakarta Timur, 5 tahun lalu.

Padahal, kata Wakil Ketua Komisi Hukum DPR, Desmond Mahesa, sesuai aturan, tugas pokok BNPT adalah membina dan memantau teroris dan bekas napi teroris. Ia menambahkan kasus bom molotov yang menimpa gereja di Samarindra harus disikapi pemerintah dengan berbagai kemungkinan.

"Apakah teror bom di Samarinda dilakukan residivis dalam kasus yang sama, ini memang ada mainstream bagian dari tangan teroris yang membuat dia tidak kapok, atau ini bagian dari mainan politik hari ini pasca 4 November lalu" ungkapnya. Simak quote selengkapnya yang kami jadikan quote of the day. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas

  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres
  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil

Pemerintah Kaji Rencana Impor Garam Industri untuk 2018

  • Terancam Pelebaran Jalan, Makam Ragasemangsang Diusulkan Jadi Cagar Budaya
  • Ozil Segera Perpanjang Kontrak?
  • Paus Resmikan Pernikahan Pasangan di Atas Pesawat

Memberdayakan masyarakat bisa dilakukan dengan banyak cara. Salah satunya seperti apa yang dilakukan anak-anak muda asal Yogyakarta ini melalu platform digital yang mereka namai IWAK.