APINDO: Keliru Kalau Anggap Upah Minimum Mendorong Kesejahteraan

Dalam formula barunya, pemerintah menghitung hanya menggunakan inflasi nasional pertahunnya dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Jumat, 16 Okt 2015 12:00 WIB

Ilustrasi. (KBR/Danny)

Ilustrasi. (KBR/Danny)

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

Kemarin, pemerintah mengeluarkan paket kebijakan ekonomi ke IV. Penetapan paket tersebut salah satunya berisi soal formula perhitungan penaikkan upah untuk buruh / pekerja. Dalam formula barunya, pemerintah menghitung hanya menggunakan inflasi nasional pertahunnya dan pertumbuhan ekonomi nasional. Apakah ini menguntungkan pengusaha? Berikut penuturan Ketua APINDO, Anthony Hilman. 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP

  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres
  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil

Jokowi: Bantuan untuk Kabupaten Asmat Terkendala Akses Transportasi

  • Pemikul Sabu 30 Kilogram Divonis 20 Tahun
  • Hari Kelima, Kabut Asap Tebal Landa Hong Kong
  • Federer Lolos ke Perempat Final Australia Terbuka

Presiden Joko Widodo menyerukan agar PR anak-anak sekolah tak hanya urusan menggarap soal. Tapi melakukan hal-hal yang terkait kegiatan sosial dan lingkungan.