Jokowi, riau, asap

KBR, Pekanbaru - Ada yang terlewatkan,  cerita di balik blusukan Presiden Joko Widodo ke Provinsi Riau. Reporter Green Radio Pekanbaru, Sari Indriati menceritakannya.

Usaha yang tidak sia-sia dari mereka para pejuang lingkungan, seperti Greenpeace, Walhi dan Jikalahari bersama masyarakat Riau yang telah bersuara agar Jokowi blusukan ke Riau. Di Green Radio Pekanbaru, Rico Kurniawan Direktur Eksekutive Walhi Riau juga pernah menyampaikan agar masyarakat ikut berpartisipas mengisi petisi melalui change.org.id.

Dia menceritakan seoarang warga Desa Sungai Tohor, Kecamatan Tebing Tinggi Kab. Meranti turut mengisi petisi. Sebanyak 14.754 orang, petisi blusukan asap ini telah berhasil dikumpulkan.

Berangkat dari petisi tersebut, Jokowi memenuhi blusukan asap ke Riau. Memang ketika ber bicara keadaan lingkungan di Riau yang terlanjur parah  17 tahun  lamanya masyarakat Riau menghirup asap yang datang setiap akibat pembakaran lahan. Rasanya siapa pun akan geram mendengar selalu tidak ada solusi dari Pemerintah terkait persoalan ini,  Green Radio dalam hal ini mendukung penuh perjuangan kawan-kawan menuju perubahan untuk mendapat keadaan yang lebih baik paling tidak mengurangi keadaan Riau yang berlangganan Asap.

Pagi itu, Kamis 26 November saya yang berada di tengah mereka mereka para pejuang lingkungan melihat secara jelas spirit luar biasa dari kawan - kawan itu semua, dan penuh pengharapan blusukan asap  dapat di wujudkan. Jokowi sendiri di kabarkan akan mendarat pukul 12.30 WIB di Bumi Lancang Kuning.

Waktu menunjukkan baru Pukul 10.20 WIB ruang tunggu VIP dan VVIP Lancang Kuning Bandara Sutan Syarif Kasim II dipenuhi tamuPresiden cukupberagam, tidak saja dari kalangan pejabat pemerintahan, pihak perusahaan yang terlibat dalam pengelolaan hutan pun tak segan turut hadir. Sekilas terlintas pertanyaan dibenak saya ketika itu, apakah semua tamu yang menunggu menginginkan jokowi blusukan Asap?

Selama berada di ruang tunggu itu pandangan saya terusik dengan sosok pria muda,  yang satu ruangan dengan saya di ruang tunggu VIP, dia juga menggunakan ID masuk yang tidak mudah sebetulnya didapatkan, sangat mencuri perhatian saya di samping  bentuk muka dia bukanlah seorang pribumi, ID yang dikenakannya  dua. Pertama mencolok adalah ID yang di terbitkan Pemerintah Provinsi Riau tercatat sebagai Panitia, dan ID kedua yang tidak terlihat jelas. Hampir semua tamu yang tak lain adalah Pejabat daerah Provinsi Riau mengenalnya. Tak lama ada seseorang memperkenalkannya dengan Plt Gubenur Riau Arsyadjuliandi Rahman. Sungguh saya penasaran, pria tersebut merupakan tamu istimewa di negeri ini meskipun ia masih muda.

Dia  sering berdiri ketimbang duduk, sama halnya dengan saya kemudian, saya kembali masuk ke dalam ruangan VIP yang sebelum saya berada di koridor antara ruang VVIP dan VIP menyempatkan berbincang dengan tamu lainnya  sontak saya juga kaget. Saat kembali keruangan Pria tersebut menyapa akrab Kepala Greenpeace Indoenesia lenggona Ginting, saya mendengar cukup jelas sapaannya.

“Hai Bang Lenggona kapan datang”

Bahkan sempat bertanya pada Lenggona.

”Apakah ada rencana ke Pelalawan, saya melihat Bang Lenggona. Biasa saya memanggilnya,  berusaha membalas dengan ramah dan langsung menjawab pertanyaan Pria tersebut.

“Oh tidak… tidak”

Setelah pria muda itu berlalu dari bang Lenggona giliran saya yang bertanya pada bang lenggona saya berharap mendapat jawaban karena bertanya pada orang yang cukup mengenal ternyata tidak mengenal pria itu. Saya melihat ekspresi Bang lenggona mencoba mengingat apakah dia mengenal pria muda itu sebelumnya.

Akhirnya dari salah seorang humas perusahaan yang saya kenal, pria muda yang saya perhatikan dari tadi bernama Anderson anak ke 4 dari Sukanto Tanoto Pemilik Perusahaan penghasil bubur kertas terbesar di Asia Tenggara PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) .

Tiba waktunya Jokowi mendarat di Bandara Sutan Syarif Kasim II di Bandara 13.15 WIB. Jokowi masuk ke ruangan VVIP dan melakukan kegiatan makan siang sedangkan di ruang VIP masuk pula pria muda lain yang saya yakini itu adalah putra Presiden Jokowi bernama Kaesang Pangarep yang baru saja menyelesaikan sekolahnya di Anglo-Chinese School, Singapura.

Anderson menyapa ramah putra Jokowi bersalaman. Hanya sekilas saya mendengar Anderson menyebut blog Kaesang yang telah dibacanya. Perkenalan yang pintar antara dua putra Mahkota, belakangan saya tahu setelah beberapa tamu ikut berfoto bersama mereka. Tidak hanya dua Putra Mahkota,  dua srikandi dari putri anak Sukanto tanoto dan jokowi juga hadir ke Riau. Jadi dua pasang anak penguasa di tanah air berbarengan hadir di Riau.

Menunggu kedatangan Jokowi berjam – jam tidak membuat saya lelah meskipun kondisi fisik saya sedang mengalami flu berat. Tetapi saya merasa  meradang pertama karena perwakilan  dari NGO ikut bersama presiden blusukan menuju lokasi lahan gambut dan akan naik helli bersama rombongan tetapi tidak terjadi. Kedua  selang 30 menit mendapat kabar helli berbalik kembali ke bandara. Saat helikopter itu berangkat saya sudah menduga tidak akan jadi blusukan, karena saya sangat paham kekuatan provinsi Riau yang kaya ini.

Saat jokowi kembali ia mengentikan langkahnya sebelum masuk ke ruang tunggu saya melihat Kepala Greenpeace Indonesia bertanya mengenai komitmen Pemerintah dalam penyelesaian Gambut di Indonesia, dihadapan wartawan waktu itu Jokowi nanti kita berdialog, dan saya merekam jawaban Jokowi saat saya bertanya kenapa tidak jadi menuju lokasi, jawaban Jokowi.

“Pilotnya tidak berani mendarat maksa saya paksa,” kata Jokowi.

Selanjutnya saya mengejar Siti Nurbaya, Mentri Lingkungan Hidup dan Kehutan masuk kedalam ruangan yang tengah memeprsiapkan ruang untuk dialoq, saya menerobos spontan yang dilarang untuk para pekerja media.

“Saya bertanya singkat khawatir terlihat sama paspamres dan apa langkah yang diambil bu, kenapa tidak jadi ke lokasi? Yang bisa saya dengar Bapak akan datang kembali, dan sekarang akan berdialog dulu.”
 
Setelah pertemuan tertutup dilakukan kami mendapat khabar Pak Jokowi memilih menginap di Riau dan akan melanjutkan blusukan esok harinya. Kita semua lega, sebuah harapan baru bagi masyarakat Riau, dan saya mendapat laporan reporter Green Pekanbaru yang bertugas tentang aktivitas Jokowi dan rombongan di Desa Sungai Tohor. Mulai naik becak motor saat datang melihat areal kebakaran hutan yang terhebat pada Maret tahun 2014.

Lalu bersama masyarakat membuat kanal dan menginstruksikan kepada Pemkab Meranti agar mempertahankan sistem pengairan pada kanal agar terus mengairi lahan gambut yang ada. kanal yang telah di buat masyarakat agar dilanjutkan. Ini jelas blusukan Jokowi bukan blusukan biasa ini blusukan asap yang mencegah terjadinya asap terulang.

Meski menemukan kendala diawal  mulai dari mendapat gangguan cuaca buruk sehingga pilot tak berani mendarat di hari sebelumnya dan Pak Jokowi tidak menyerah melanjutkan blusukan keesokan harinya, pada saat blusukan ini juga  Kepala Greenpeace Indonesia Lenggona Ginting dan Abetnego Tarigan, Direktur Walhi Indonesia dari perwakilan NGO akhirnya  turut terbang ke Sungai Tohor ikut bersama rombongan blusukan asap.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!