santri dan romo bicara soal toleransi

Senja menyambut setelah hujan mengguyur deras di Kota Malang. Sebelumnya, saya sudah mengirim pesan pendek di Facebook untuk menjemputnya di biara.  Ini saya lakukan karena dia memang tidak memiliki HP. Sosok anak muda yang memilih untuk menjadi Romo ini bernama Herman Mantoe. Sosoknya penuh semangat, enerjik dan meledak-ledak kalau sudah berbicara toleransi.


Kami berdua dipertemukan dalam forum kepemudaan toleransi dua tahun yang lalu. Setelah forum tersebut kami masih sering bertemu walaupun hanya sekedar melepas rindu seperti obrolan anak muda lainnya. 


Obrolan begitu ganyeng ketika kami membahas sikap intoleran dan kebebasan umat beragama. Lalu, saya mulai tergelitik dengan peryataan dia soal video youtube “Kristenisasi di Car Free Day” video yang menggemparkan media sosial. Baginya agama adalah hal privasi dan bukan pemaksaan. “Agama itu untuk kedamaian individu!” begitu ucapnya. 


Menurutnya Indonesia itu besar karena keberagamaan agama, budaya, bahasa dan etnis. Penyuka novel “The Alchemist” karangan Paulo Coelho juga mengungkapkan rantai intoleran harus segera diputus. Sikap merasa ekslusif karena ketidaktahuan adalah penyebab sikap intoleran.


Kemudian karena penasaran saya bertanya, “Jadi langkah preventif apa untuk memutus rantai intoleran tersebut?”


Memutus rantai intoleran harus dimulai dari pendidikan di rumah yaitu pendidikan dari orangtua untuk memperkenalkan bahwa si anak berada dalam lingkungan yang heterogen. Orang tua perlu berperan aktif memperkenalkan keberagamaan dan perbedaan serta sikap terbuka agar kelak anak bisa memaknai toleransi sebagai wujud tindakan dan bukan ucapan belaka. 


Tak hanya pendidikan informal rupanya pendidikan di sekolah juga berperan penting membentuk pola pikir anak dalam menyikapi perbedaaan antar umat beragama. 


Kemudian, saya memotong pembicaraan dan menjelaskan contoh peran sekolah dalam mengajarkan toleransi yang pernah saya alami.


Pengalaman menjadi minoritas rupanya menjadikan saya, yang sejak SMA memutuskan menjadi santri, selalu menghargai perbedaan. Mungkin hanya sepele akan tetapi kenangan itu mengajarkan saya banyak hal. Saat itu di Bulan Ramadhan, sekolah membuat peraturan larangan siswa untuk makan di luar kantin demi menghormati kami yang berpuasa walaupun dari satu sekolah tersebut jumlah kami hanya sedikit.


Minuman yang kami pesan  untuk menemani obrolan sore itu rupanya belum kami sentuh sama sekali mungkin saking serunya obrolan sang santri dan calon Romo. 


Selanjutnya, langkah preventif kedua yang harus dilakukan untuk menghentikan rantai intoleran adalah masyarakat. Baginya unit terkecil dalam negara yaitu masyarakat memberikan dampak yang luar biasa kepada anak-anak. Kondisi lingkungan yang mengajarkan perdamaian antar umat beragama, kebudayaan dan etnis akan menjadikan mereka kelak pejuang perdamaian.


Ternyata  pendidikan dari keluarga dan sekolah belum cukup. Perlu lagi kesadaran dari individu untuk open minded dan terbuka kepada siapa saja. Sikap tersebut bisa dilakukan dengan melakukan dialog antar teman sebaya dengan memperkenalkan ritual agama masing-masing. Dengan menceritakan bagaimana cara beribadah, hari-hari besar apa saja dalam keagamaan tersebut. Hal demikianlah yang akan memperkaya pengetahuan anak sehingga sikap toleransi dapat tumbuh.


Begitulah obrolan santri dan calon romo dalam memaknai Indonesia dan toleransi. Obrolan yang asyik terpaksa kami hentikan saat matahari mulai terbenam. Sang santri pun mengantarkan calon romo kembali ke rumahnya “Biara” untuk melanjutkan perjuangannya. 


Kami berpelukan hangat sambil mengamini ucapan Nelson Mandela “Tidak ada orang yang lahir untuk membenci sesama karena perbedaan warna kulit atau agama”.


Penulis adalah santri di Pesantren Al Hikam, Malang. Twitter: @justarsyad


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!