Ruangan Perpustakaan Bank Indonesia Surabaya tampak begitu ramai awal Desember ini. Keramaian itu dikarenakan terdapat 25 orang pemuda dari berbagai latar belakang agama berkumpul dalam acara yang diselenggarakan Gusdurian Surabaya.


Acara yang bertajuk “Kelas Pemikiran Gus Dur” ini bertujuan untuk kembali menyelami pemikiran Gus Dur sewaktu hidup. Acara yang dikemas dengan ciamik dan seru membuat 25 pemuda antar umat beragama begitu cepat akrab. Kelas tersebut layaknya kelas pada umumnya. Terdapat seorang Kepala Sekolah dan juga Walikelas. 


Para sesepuh dari Kyai, Pendeta, Romo atau imam dari setiap agama turut hadir untuk memberikan materi terkait pemikiran-pemikiran Gus Dur bahkan Inayah Wahid putri bungsu Gus Dur juga menceritakan sosok ayahnya. Pemikian Gus Dur sendiri terbagi atas sembilan hal yaitu pertama, ketauhidan yang bersifat ilahi itu diwujudkan dalam perilaku dan perjuangan sosial politik, ekonomi, dan kebudayaan dalam menegakkan nilai-nilai kemanusiaan. Kedua, kemanusiaan yang bersumber dari pandangan ketauhidan bahwa manusia adalah makhluk Tuhan yang paling mulia yang dipercaya untuk mengelola dan memakmurkan bumi. Kemanusiaan sendiri merupakan cerminan sifat-sifat kemanusiaan. Kemulian yang ada dalam diri manusia mengharuskan sikap untuk saling menghargai dan menghormati. Itu artinya, memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya, demikian juga merendahkan dan menistakan manusia berarti merendahkan dan menistakan Tuhan Sang pencipta. 


Ketiga, nilai utama pemikiran Gus Dur selanjutnya adalah keadilan. Ini bersumber dari pandangan bahwa martabat kemanusiaan hanya bisa dipenuhi dengan adanya keseimbangan, kelayakan dan kepantasan dalam kehidupan masyarakat. Perlindungan dan pembelaan pada kelompok masyarakat yang diperlakukan tidak adil merupakan tanggung jawab moral kemanusiaan. Keempat, kesetaraan adalah pandangan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama dihadapan Tuhan. Wujud nyata kesetaraan adalah melakukan pembelaan dan pemihakan terhadap kaum tertindas dan dilemahkan.


Kelima, setiap manusia memiliki tanggung jawab untuk menegakkan kesetaraan dan keadilan untuk melepaskan diri dari berbagi bentuk belenggu. Itulah artinya pembebesan. Menurut Gus Dur, setiap manusia harus mendorong dan memfasilitasi tumbuhnya jiwa-jiwa merdeka untuk membebaskan dirinya dan manusia lain. Nilai pemikiran Gus Dur keenam, kesederhanaan dicirikan dari sikap dan perilaku hidup yang wajar dan patut. Konsep kesederhanaan dihayati dan dilaoni sehingga menjadi jati diri dan bukan pencitraan belaka. Pemikiran Gus Dur selanjutnya yang ketujuh, persaudaraan ialah prinsip penghargaan atas kemanusiaan, keadilan, kesetaraan dan semangat menggerakkan kebaikan. Sebagai umat manusia, kita harus bisa mewujudkan persaudaraan terhadap yang berbeda dan pemikiran.


Kedelapan, pemikiran Gus Dur selanjutnya adalah keksatrian. Sikap ini bersumber dari  keberanian untuk memperjuangkan dan menegakkan nilai-nilai yang diyakini dalam mencapai keutuhan tujuan yang ingin dicapai. Wujud dari jiwa keksatrian dengan mengedepankan kesabaran dan keikhlsan dalam menjalani proses, seberat apapun yang dihadapi. Kesembilan, pemikiran Gus Dur terakhir yaitu kearifan lokal, mengajak kita untuk kembali kepada nilai-nilai dan sosial-budaya yang berpijak pada tradisi dan praktik terbaik kehidupan masyarakat setempat. Adapun kearifan lokal yang berada di Indonesia diantaranya bersumber pada Pancasila, Konstitusi Undang-undang dasar 1945, prinsip Bhineka Tunggal Ika dan seluruh tata nilai kebudayaan Nusantara. Pemikiran ini sangat relavan dengan begitu banyak fenomena beberapa masyarakat yang kebarat-baratan atau ketimur-timuran. Tentu tanpa kehilangan sikap terbuka dan progresif terhadap perkembangan peradaban.


Hal yang istimewa dari Kelas tersebut adalah kami bertemu dengan pemeluk agama Baha’i. Ening dan Shofi merupakan perwakilan dari agama Baha’i yang turut memberikan pandangan-pandangannya terkait pemikiran Gus Dur. Tak ayal, di sesi ishoma saya dan mereka terlibat dalam obrolan yang menarik. Bagaimana mereka terpaksa harus belajar agama Islam di Sekolah Dasar sedangkan SMP dan SMA dia memilih mengikuti kelas Kristen agar nilai rapor agamanya tak kosong.


Di akhir obrolan itu, dia mengutarakan pernyataan “Lantas, harus ke mana kami mengadukan nasib kami? Berharap kolom agama di KTP bertuliskan Agama Baha’i bukannya strip atau memilih salah satu agama yang sudah ada.”


Menyelami pemikiran Gus Dur berarti siap membela mereka orang miskin dan mereka yang ketakutan, begitu yang diucapkan Hakim Jayli saat menyampaikan materinya.


Penulis adalah salah satu peserta Kelas Pemikiran Gus Dur, bisa disimak lewat Twitter @JustArsyad 


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!