toleransi, perbedaan agama

Ridwan Kamil sosok Walikota Bandung yang dikenal dekat dengan masyarakatnya ini selalu menggunakan twitter untuk berinteraksi dengan masyarakat. Awal Desember lalu, Walikota Bandung menerima kursi roda dari sebuah lembaga bernama Rotary Internasional yang didirikan pertama kali oleh Arch C. Klumph berkerjasama dengan United Celebral Palsy memberikan puluhan kursi roda bagi penyandang difabel yang kurang mampu.


Seperti biasa akun informasi Bandung dalam akunnya @DiskominfoBDG menuliskan twitnya beserta foto.


Twit itu kemudian dikomentari oleh citizen yang berkomentar “rotary kan organisasi bentukan yahudi *sy tdk asal ngomong”.


Tak berselang lama, Ridwan Kamil me-reply komentar citizen tersebut dengan fasilitas quote retweet. “Mereka sumbang puluhan kursi roda untuk disabilitas. Kamu nyumbang apa?” begitu kata Ridwan Kamil. 


Tak ayal twit itu sampai saat ini di retweet citizen sebanyak 434 dan 95 favorit orang. Setelah twit tersebut. Muncul kembali twit yang menyatakan dirinya bahwa dia telah kehilangan simpati kepada Ridwan Kamil dan menganggap Walikota yang suka bersepada ini telah melacurkan aqidah. Ridwan Kamil terlihat menanggapi dengan santai seraya menulis begini: “Silakan Kang. Hanya Allah yang Maha Tahu.”


Kemudian, saya berpikir keras dengan twit tersebut. Sebegitu bahayakah perbedaan agama sehingga membuat kita tak boleh berbagi dengan sesama manusia?


Berbagi untuk sesama


Sebagai umat manusia kita harus menyadari bahwa manusia diciptakan berbeda-beda. Ada yang rambutnya hitam tapi ada juga yang pirang. Di penjuru dunia lainnya juga kita temui bermata sipit, belok atau ada juga yang berhidung mancung serta pesek. Ada pula yang dilahirkan memiliki dua kaki, dua tangan tapi ada juga yang sewaktu lahir hanya dikaruniai dua tangan tanpa kaki.


Berbagi adalah wujud kita sebagai manusia yang lebih ‘mampu’ untuk bisa memberikan apa yang dimiliki kepada mereka yang belum ‘beruntung’. Berbagi menurut saya adalah sebuah hakekat seutuhnya kita sebagai manusia. Dalam agama yang saya yakini terdapat sebuah ajaran untuk berbagi kepada sesama atau dalam bahasa kami yaitu bersedekah. 


Suatu saat teman saya bernama Herman yang merupakan calon Romo. Dicurhati jemaatnya atas niatnya mendirikan rumah penampungan bagi masyarakat yang tak mampu dan kaum difabel. Tidak tanggung-tanggung, orang tersebut juga akan memberikan beasiswa kepada mereka yang kurang mampu untuk kembali sekolah. 


Realitanya, dia mengalami penolakan dari masyarakat hanya karena perbedaan agama yang dianut oleh masyarakat tempat dia tinggal. Akhirnya rumah penampungan tersebut tak jadi diwujudkan. 


Jadi, pertanyaan selanjutnya kalo ada orang yang mau berbagi apa kita harus tanya dulu asalnya darimana? Agamanya apa? Yahudi? Islam? 


Kalo ada yang berpikiran ukuran berbagi harus menggunakan syarat di atas maka saya akan menjawab “rempong, cyin”. Tidak semua orang yang beragama Yahudi jahat. Buktinya banyak juga dari mereka yang mendukung kemerdekaan Palestina. Pun tak semua orang yang beragama Islam suka angkat pentung. Banyak juga yang menebarkan Islam dengan kedamaian kok. 


Orang tak pernah bertanya apa agamamu


Saat Aceh diterjang tsunami serta menyebabkan ribuan orang meregang nyawa dan ribuan orang terpisah dari keluarganya menyebabkan kondisi perekonomian lumpuh total. Semua orang kehilangan harta benda dan rumah untuk berteduh. Kondisi ini menyebabkan ribuan relawan baik dalam negeri dan luar negeri membantu mempersiapkan kembali masyarakat Aceh yang sudah tak berharap untuk melanjutkan hidup karena musibah ini. 


Relawan yang datang tentu tak hanya beragama Islam saja, mereka dari bermacam latar belakang agama dan negara. Lalu, apakah karena perbedaan agama tersebut kegiatan berbagi itu berhenti?


Tentu tidak, semua orang menyadari bahwa mereka datang atas dasar tulus untuk kemanusiaan. 


Jangan sampai kita teriak lantang benci ini dan itu tapi kita tak pernah sama sekali pun memberikan nasi untuk kaum papa, bertukar cerita bertanya kabar kepada anak jalanan atau kalo pun belum berbagi dengan agama yang berbeda sudahkah kita untuk berbagi sesama agamamu saja misalnya. Jadi, yuk mulailah bertanya kepada diri sendiri. Sudahkah saya berkontribusi? 


Kali ini saya cukup mengamini perkataan Gus Dur: "Tidak penting apa agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang. Orang tidak akan pernah tanya apa agamamu..."




Penulis aktif dalam dunia sosial di Malang. Bisa dikontak di arsyadiriansyah@gmail.com atau Twitter @justArsyad


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!