sepak bola, tangisan, pria dewasa

Pernah melihat orang dewasa nangis tersedu-sedu tanpa harus merasa malu, meski dilihat oleh puluhan, atau mungkin jutaan orang? Kejadian seperti itu sering terjadi di lapangan sepak bola. Mereka – para pesepakbola – tidak pernah merasa malu ketika menangis di tengah lapangan. Dan, memang tidak perlu untuk malu.

Kekurangan sepak bola hanya satu, tidak boleh ada pemenang kembar. Ini membuat ada pihak yang menang dan ada juga yang kalah. Untuk turnamen yang menggunakan system gugur seperti Piala Dunia, Piala Eropa dan juga liga Champions, olahraga ini bisa menguras energi dan juga emosi. Di dalam sepak bola, tim terbaik belum tentu keluar sebagai pemenang. Begitu juga sebaliknya, tim yang bermain buruk belum tentu kalah.

Beberapa hari lalu, penyerang Napoli asal Argentina Gonzalo Higuain menangis tersedu-sedu di lapangan setelah timnya menang 2-0 atas Arsenal. Pada pertandingan itu, Higuai mencetak gol pertama Napoli ke gawang Arsenal. Lalu kenapa Higuain menangis ketika timnya menang? Apakah dia menangis karena senang Napoli akhirnya bisa mengalahkan tim asal Inggris di ajang liga Champions?

Ternyata bukan itu, Higuain berlinang air mata karena Napoli gagal lolos ke babak 16 besar secara tragis dan mungkin bisa disebut sebagai kegagalan paling dramatis di sepanjang sejarah liga Champions. Hingga menit ke-84, Napoli masih unggul 1-0 berkat gol Higuain. Di pertandingan lain, Marseille masih bermain imbang dengan Dortmund 1-1. Apabila hasil ini bertahan hingga pertandingan usai, Napoli lolos ke-16 besar dengan status runner up grup dan Arsenal sebagai juara grup.

Namun, istilah bola itu bundar masih tetap berlaku. Dortmund berhasil mencetak gol tambahan ke gawang Marseille, dan skor berubah 2-1. Hasil ini membuat Napoli di ujung tanduk. Mereka harus bisa mengalahkan Arsenal dengan skor minimal 3-0 agar bisa lolos ke babak berikutnya. Tidak ada keajaiban di stadion San Paolo. Napoli hanya bisa menang 2-0 dan mereka tersisih meski mengumpulkan nilai 12.

Untuk kali pertama di sepanjang sejarah liga Champions, klub yang mengumpulkan nilai 12 gagal lolos ke babak 16 besar. Dortmund, Arsenal dan Napoli sama-sama mengumpulkan nilai 12. Sesuai aturan, penyusunan peringkat berdasarkan head to head antar tiga klub tersebut. Dari hitung-hitungan head to head, Dortmund di atas, diikuti Arsenal dan Napoli. Klub asuhan Rafael Benitez itu hanya kalah produktivitas gol dari Arsenal.

Banyak yang bilang, sepak bola adalah olahraga yang kejam. Tidak semua tim yang bermain bagus bisa jadi pemenang. Dalam sepak bola, 1+1 belum pasti hasilnya 2. Ada unsure non teknis yang terkadang menjadi penentu hasil akhir kemenangan yaitu Dewi Fortuna alias faktor keberuntungan. Masih ingat final liga Champions 1999 antara Manchester United melawan Bayern Munich.

Hingga menit ke-90, Bayern Munich masih unggul 1-0 berkat gol tendangan bebas Mario Bassler. Hakim garis sudah mengangkat papan dengan angka 3 yang artinya masa tambahan waktu hanya 3 menit. Bayern Munich hanya kurang 180 detik lagi untuk mengangkat trofi paling bergengsi bagi klub Eropa tersebut. Lalu, datanglah Dewi Fortuna menghampiri para pemain Manchester United.

Tendangan bebas yang diambil David Beckham berhasil dibuang oleh bek Bayern Munich. Bola berhasil dikuasai Ryan Giggs yang langsung melepaskan tendangan ke arah kotak penalty. Teddy Sheringham yang tidak dijaga dengan leluasa meneruskan bola ke gawang Bayern Munich tanpa bisa dicegah kipper Oliver Kahn.

Mimpi Bayern Munich untuk meraih trofi tertunda. Pertandingan akan dilanjutkan dengan masa perpanjangan 2X15 menit apabila skor tetap 1-1. Namun, Dewi Fortuna sepertinya tengah “berkencan” dengan para pemain Man United. Tidak lama berselang, Beckham kembali melepaskan tendangan penjuru yang diteruskan Sheringham dengan sundulan kepala ke tiang jauh. Ole Gunnar Solskjaer yang dijuluki Baby Face Assassin meregangkan kakinya dan bola sempat mengenai kaki Ole sebelum masuk ke gawang. Pupus sudah mimpi Bayern Munich meraih trofi juara.

Kapten Lotthar Matthaeus tidak kuasa menahan air mata ketika wasit meniupkan peluit panjang. Begitu juga dengan bek asal Ghana Samuel Kuffour yang tampil baik selama 90 menit. Ia menangis sambil terduduk. Adegan itulah yang membuat linangan air mata membasahi pipi, tidak hanya bagi pemain Bayern Munich, tetapi juga saya, yang ketika itu menyaksikan langsung pertandingan itu melalui televisi.

Sepak bola memang olahraga yang terkadang membuat adrenalin berlari kencang. Selalu ada drama dengan ending yang tidak mudah ditebak. Seorang sutradara bisa membuat film yang mendebarkan tetapi dia sudah tahu endingnya. Berbeda dengan sepak bola. Seorang petaruh ulung pun tidak akan pernah bisa 100 persen menebak hasil akhir sebuah pertandingan. Seorang megabintang seperti Cristiano Ronaldo pun harus ditenangkan oleh Rui Costa dan Luis Figo ketika Portugal kalah secara dramatis dari Yunani di final Piala Eropa 2004.

Ketika itu, orang yang tidak paham bola pun pasti tahu, Portugal adalah favorit kuat menjadi juara. Dengan Luis Figo, Rui Costa, Cristiano Ronaldo dan Nuno Gomez, Yunani bukan lah tim yang bisa merepotkan mereka di final. Apalagi, pertandingan final dilangsungkan di hadapan puluhan ribu pendukung Portugal. Nama Angelo Charisteas akan selalu dikenang pecinta sepak bola di Portugal sebagai orang yang memupus mimpi meraih trofi Piala Eropa. Sundulan Charisteas membawa Yunani menang 1-0 dan menghadirkan air mata bagi kubu Portugal.

Tidak akan ada yang bisa menahan seorang pesepakbola dari “godaan” linangan air mata. David Beckham pun tak kuasa menahan tangis ketika memainkan pertandingan terakhir bersama Paris Saint Germain sekaligus pertandingan terakhirnya di lapangan hijau. Diego Maradona menangis tersedu-sedu seperti anak bayi ketika Argentina kalah 1-0 dari Jerman di final Piala Dunia 1990. Inilah yang membuat sepak bola menarik ditonton, selalu ada drama dengan ending yang jarang diketahui.

Pria dewasa menangis seperti anak-anak, sepertinya sudah menjadi hal yang biasa di sepak bola.

Penulis adalah jurnalis dan pecinta sepak bola

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!