Gerakan Mahasiswa, Front Aksi Mahasiswa Indonesia (FAMI), Orde Baru Soeharto

Ini merupakan tulisan ke dua dalam rangka memperingati 20 tahun FAMI. Jika sebelumnya berisi tentang bagaimana saya melalui dan  menyikapi proses penahanan yang saya alami, maka pada tulisan ini saya akan menguraikan substansi dari apa yang diperjuangkan teman-teman FAMI 20 tahun lalu, dan relevansinya untuk saat ini.

Harga untuk Keberhasilan Orde Baru

Demonstrasi yang dilakukan oleh Front Aksi Mahasiswa Indonesia (FAMI) di DPR pada tanggal 14 Desember 1993, adalah bagian dari rangkaian aksi perlawanan mahasiswa terhadap pemerintah otoriter Soeharto. Aksi ini tidak berdiri sendiri dan diikuti oleh para aktifis yang tergabung dalam jaringan aksi-aksi perlawanan sebelumnya. Sehingga pembubaran, penangkapan dan pemenjaraan terhadap 21 mahasiswa yang tergabungi dalam aksi FAMI, bukan semata-mata karena adanya spanduk yang bertuliskan: ”Seret Soeharto dalam Sidang Istimewa MPR” , tapi dilihat oleh penguasa sebagai bagian dari perlawanan terhadap mereka, yang perlu dibungkam.

Mengapa pemerintah Soeharto begitu kalapnya sehingga aksi demonstrasi yang sebenarnya bagian dari ekspresi demokrasi, harus disikapi dengan begitu kerasnya?  Padahal tindakan represif tersebut juga beresiko untuk dirinya, karena terbukti menunculkan kecaman terhadapnya, dan aksi solidaritas dimana-mana. Jawaban pertama adalah: ini bentuk  percaya diri Soeharto yang berlebihan pada saat itu. Kepercayaan diri yang terbangun atas keberhasilan pertumbuhan ekonomi rata-rata dari 1990-1993 yang mencapai rata-rata 7-8% per tahun, inflasi terkendali di tingkat 6-6.5% per tahun, dan nilai rupiah stabil di sekitar Rp. 2000-Rp.2500 per USD. 

Dari sisi politik, pemilu 1992, Golkar yang menjadi cerminan dukungan terhadap Soeharto, memenangkan pemilu dengan 68% suara. Dalam pergaulan internasional, peran Soeharto semakin berkibar, pada September 1992, Indonesia menjadi tuan rumah KTT Non Blok X dan dipercaya menjadi ketua Gerakan Non Blok untuk periode 1992-1995. Dan pada November 1993, Indonesia semakin aktif di forum APEC. 

Kedua, dukungan politik dari dalam negeri dan peran besar di dunia internasional yang diraih Soeharto, selain membangun kepercayaan diri yang kuat, juga membuatnya menjadi “tipis kuping” dan sulit dikritik. Aksi teman-teman FAMI 20 tahun lalu  merupakan bentuk kritik atas mahalnya harga yang harus dibayar untuk kelanggengan kekuasaan Soeharto dengan pertumbuhan ekonominya. Rakyat harus membayarnya dalam bentuk penggusuran rakyat di atas tanahnya sendiri, penangkapan dan pemenjaraan.

Itulah mengapa poster-poster dan spanduk-spanduk pada aksi FAMI berisi tentang protes atas hal-hal tersebut. Sedangkan spanduk yang paling besar yang bertuliskan “Seret Soeharto dalam Sidang Istimewa MPR” yang dipermasalahkan dan menjadi faktor yang memberatkan dalam persidangan , merupakan kesimpulan dari semua protes yang disuarakan dalam aksi tersebut. Maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa aksi FAMI tersebut menjadi pelopor dari gerakan anti Soeharto secara langsung.

Relevansi Nilai-Nilai

Seperti yang sudah dipaparkan diawal tulisan, aksi FAMI merupakan bagian dari aksi perlawanan jaringan aktivis mahasiswa pro demokrasi, terhadap pemerintah otoriter Soeharto. Jaringan ini terbentuk karena memiliki tujuan dan semangat yang sama, memperjuangkan perubahan dengan semangat solidaritas dan kerelawanan. Solidaritas dan semangat kerelawanan ini sangat kuat. Setiap kegiatan dilakukan dan  dibeayai dari sumber daya sendiri, yang dimiliki oleh setiap aktivis yang tergabung di dalamnya. Semangat ini menjadi roh dalam gerakan dan aksi-aksi yang dilakukan para aktivis pada saat itu.

FAMI melihat bahwa keberhasilan Soeharto dalam pencapaian pertumbuhan ekonomi, serta peran dan penghargaan dari dunia internasional yang diperolehnya, telah mengorbankan rakyat. Jika pembangunan dianggap berhasil tetapi masyarakat banyak justru menjadi korban, maka pembangunan ditujukan hanya untuk kepentingan segelintir orang, yaitu keluarga dan kelompok-kelompok yang menjadi kroninya.

Ini ciri khas dari kekuasaan yang korup. Dan ketika ada yang menentang atau bersikap kritis atas tindakan koruptif tersebut, maka tindakan represif akan dilakukan tanpa ragu, tanpa memperdulikan nilai-nilai demokrasi dan HAM.  Jadi perjuangan menentang Soeharto adalah perjuangan untuk membangun demokrasi dan menentang korupsi.

Solidaritas yang terbangun dengan semangat kerelawanan dari para aktivis mahasiswa, dan tujuan perjuangannya untuk membangun demokrasi dan anti korupsi, adalah nilai-nilai yang menjadi roh bagi para aktivis yang terlibat dalam aksi FAMI. Nilai-nilai ini masih sangat relevan untuk saat ini. Pertama, ketika konsumerisme menjadi gaya hidup, masyarakat cenderung semakin konsumtif. Hubungan sosial dan politik diantara masyarakat menjadi sangat transaksional.

Ini kondisi nyata yang terjadi saat ini, sehingga semangat kerelawanan untuk  bersama-sama berusaha mencapai tujuan yang baik untuk kepentingan bersama, menjadi sangat penting untuk dibangkitkan kembali.

Demokrasi secara prosedural sudah terbangun, tetapi substansi demokrasi masih jauh dari harapan. Kecurangan dan politik uang masih mewarnai pemilu/pemilukada. Tidak mau menerima hasil perhitungan suara, diekspresikan dengan praktek kekerasan. Dan dalam kehidupan sosial, perbedaan sikap, keyakinan dan kepercayaan, sering diakhiri dengan kekerasan. Hukum harus diterapkan dengan tegas dan adil, sehingga bisa menjadi wasit yang baik dalam mengelola kehidupan demokrasi kita.

Anti Korupsi

Semangat anti korupsi yang paling dibutuhkan pada saat ini. Korupsi menjadi persoalan kronis yang masih sulit untuk disembuhkan. Otonomi daerah dimanfaatkan oleh penguasa yang koruptif untuk membangun dinasti kekuasaan. DPR dengan kekuasaan yang luas untuk menyusun anggaran sekaligus mengontrolnya, justru menjadi bagian utama dari paraktek korupsi. Maka semangat anti korupsi harus diwujudakan dalam bentuk memberikan dukungan yang kuat bagi lebaga anti korupsi seperti KPK, ICW, TII dan lembaga lainnya.

Kedua, nilai-nilai ini semakin relevan ketika belakangan ini ada kesan bahwa kehadiran Soeharto sangat dirindukan oleh masyarakat. Saya sangat yakin ini merupakan disain yang dibuat oleh para sisa-sisa pendukung Soeharto, bukan spontanitas masyarakat. Ini dapat dilihat bagaimana kesan ini dikampanyekan dengan sistematis, malalui stiker, spanduk dimana-mana.

Keberhasilan Soeharto pada masa lalu digembar-gemborkan, tetapi kelemahan dan korban dari “keberhasilan” yang dicapainya, malah disembunyikan. Kita tidak ingin membangun dendam dan kebencian, tetapi kita jangan berfikir untuk kembali ke masa suram, apalagi merindukannya. Karena perjalan hidup harus terus maju, berjalan dan berkembang.  Indonesia harus tetap melangkah maju, kesejahteraan sosial harus bisa dicapai. Sudah lama masyarakat terombang-ambing oleh penderitaan dan ketidak pastian.


*Penulis adalah bekas aktivis mahasiswa, bekerja sebagai eksekutif di sebuah perusahaan swasta


Baca juga:
20 Tahun Front Aksi Mahasiswa Indonesia (FAMI): Sebuah Renungan

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!