gerakan mahasiswa 80-an, Front Aksi Mahasiswa Indonesia (FAMI), Soeharto, Orde Baru

Jumlahnya memang sedikit. Pesertanya juga paling banyak 200, orang tapi representasi daerahnya cukup tinggi.

Singkat cerita ke-21 mahasiswa FAMI divonis 8 bulan hingga 14 bulan penjara. Semuanya dijalani di Rutan Salemba dan Pondok Bambu (wanita).

Yang menarik, proses persidangannya melibatkan banyak sekali tokoh pengacara hingga saksi ahli. Pasal yaang digunakan untuk menjerat ke-21 mahasiswa FAMI adalah 134 KUHP "Penghinaan terhadap Presiden" yang dikenal sebagai bagian dari pasal-pasal penyebar kebencian (hatzaai artikelen). Pasal-pasal karet yang bisa digunakan penguasa untuk menggebuk siapa saja yang tak disukainya. Pasal inin setelah reformasi, dihapuskan dari KUHP karena bertentangan dengan HAM.

Tim pengacara FAMI, antara lain: Adnan Buyung Nasution, Bambang Wijayanto, Frans Hendra Winarta, Luhut Pangaribuan, dan Sugeng Teguh Santoso. Tak kalah mentereng adalah saksi ahli dan saksi meringankan: Gus Dur, Romo Magnis-Suseno, JE Sahetapy, dll. Persidangan itu sendiri menjadi "gelar kampanye terhadap demokrasi dan HAM" secara terorganisir.

Di kepolisian, kepala penyidik adalah Kapten Tito Karnavian yang belakangan jadi Komandan Densus 88 (antiteror) dan sekarang Kapolda Papua. A smart guy!

Selama di penjara polisi, kami tak boleh dibesuk selama 30 hari. Tapi polisi-polisi yang tadinya galak itu lama-lama jadi teman ngobrol. Di penjara pula kami hapal hampir seluruh pasal-pasal dalam KUHP, dan terbiasa makan nasi cadong, yang rasanya cuma dua: keasinan atau hambar.

Musuh utama dalam penjara adalah bosan, tapi sesungguhnya manusia lama-lama jadi punya kemampuan beradaptasi. Pindah ke Rutan Salemba, keadaan lebih santai lagi. Blok K tempat kami, malah sempat jadi juara sepakbola antar tahanan/napi. Saya sendiri mengorganisir vocal group yang komposisinya gabungan antara pembunuh, pengedar narkoba dan tahanan politik.

Lucunya, setiap kali persidangan kami harus berakting serius di hadapan petugas. Tapi setelahnya terus bercanda dengan para sipir dan patroli yang mengawal. Karena hubungan baik dengan sipir, sel kami dibiarkan terbuka 24 jam dan bisa membawa buku-buku bacaan. Sel kami hanya akan dikunci kalau ada kerusuhan atau kalau Dirjen LP, Baharuddin Lopa, adakan inspeksi mendadak. Kalau diingat-ingat, lebih banyak cerita lucu dalam penjara dibandingkan kisah heroik.

Di luar penjara, penangkapan 21 mahasiswa jadi ajang konsolidasi mahasiswa yang belakangan memunculkan banyak organ baru. FAMI sendiri tidak memikirkan konsep masyarakat Indonesia yang hendak dibangun, dll. Isunya cuma "seret presiden" itu tadi. Makanya, setelah reformasi bergulir masing-masing "anggota" FAMI berjalan sendiri-sendiri. Tak ada lagi kesamaan visi politik.

Saat ini ada ex-FAMI yang aktif di Partai Demokrat, PDI-Perjuangan, Hanura, Gerindra, PKB, dll. Menjelang pemilu, masing-masing punya jagoannya sendiri-sendiri.

Tanggal 14 Desember nanti kami akan reuni. Sekadar romantisme karena memang tak ada salahnya. Setelah itu kembali ke kubu masing-masing. Tulisan ini--yang mula-mula muncul di twitter--juga bukan artikel tentang gerakan sosial dan bukan kultwit, karena entah pelajaran apa yang bisa diambil di sini. Tulisan ini agaknya lebih pas disebut intro undangan reuni bagi seluruh kawan-kawan.

Rencananya kami akan kumpul di Gallery Kafe TIM, di siang hari. Kalau ada yg hendak dikenang dari situ, mungkin soal "solidaritas, keberanian, dan kerelawanan". Ini pun bukan hal istimewa.


*Penulis adalah bekas aktivis mahasiswa, Advisor Transparency International Indonesia dan Sadhana Advisory


Baca juga:

20 Tahun Front Aksi Mahasiswa Indonesia (FAMI): Sebuah Renungan

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!