gerakan mahasiswa, Front Aksi Mahasiswa Indonesia (FAMI), Orde Baru, Soeharto

Tahun 1992, dua mahasiswa Universitas Diponegoro, Semarang, ditangkap. Mereka, Poltak Ike Wibowo dan Lukas Luwarso dianggap bertanggung jawab memimpin apel siaga golput di kampusnya. Proses persidangan keduanya, tak pelak jadi ajang konsolidasi aktivis mahasiswa se-Jawa-Bali.

Waktu itu, seingat saya, dibentuk Forum Komunikasi Mahasiswa Merdeka (ForkomM) untuk melakukan advokasi. Kami memang tak mau tergabung dengan organisasi mahasiswa formal di kampus, karena cenderung dikooptasi oleh penguasa. ForkomM inilah cikal-bakal Front Aksi Mahasiswa Indonesia (FAMI).

Lalu, awal Desember 1993 kawan-kawan dari Jawa Timur memberitahu bahwa mereka akan datang ke Jakarta untuk mengadvokasi kasus Nipah. Pada peristiwa di Nipah, Madura ini, petani ditembak oleh aparat keamanan. Kami diminta membantu aksi mahasiswa Jatim. Tokoh-tokoh dari Jatim itu--seingat saya: Gembos (Surabaya), Joko Gundul (Malang), dan Samsunar dari Jombang.

Pada hari aksi untuk kasus Nipah itulah nama FAMI baru muncul. Tanggal 13 Desember 1993 kami berdemonstrasi di Depdagri, dilanjutkan esok harinya di DPR.

Menjelang aksi 13-14 Desember itu, kawan-kawan dari berbagai kota sudah mulai berdatangan ke kontrakan/kos mahasiswa Jakarta. Malam sebelum aksi dilakukan rapat untuk menentukan isu apa saja yang akan diangkat selain advokasi kasus Nipah. Lalu muncullah: Hapus Dwi Fungsi ABRI, Bubarkan Bakorstanas (Badan Koordinasi Stabilitas Nasional), dan Seret Presiden ke Sidang Istimewa MPR-RI.

Memang tidak fokus, karena semua isu dan uneg-uneg dicampur jadi satu dan diarahkan ke soal kepemimpinan nasional. Kami ingin segera ada suksesi nasional. Di awal tahun 90-an itu rasanya baru Nuku Soleman yang nekat mengangkat isu tersebut. Saat berlangsung demonstrasi anti-undian olahraga berhadiah, Nuku membagikan stiker SDSB. Ini sudah bukan sumbangan dana sosial berhadiah, tapi sudah diubah menjadi: Soeharto Dalang Segala Bencana.


Pada aksi di gedung MPR/DPR, November 1993 itu, Nuku ditangkap. Ia divonis 5 tahun penjara.

Aksi 13 Desember berlangsung ricuh, tapi seluruh mahasiswa aman. Aksi 14 Desember menjadi chaotic, karena spanduk "Seret Presiden ke Sidang Istimewa MPR" tadi. Menjelang sore, sepasukan tentara dengan gas airmata dan pentungan rotan membentuk formasi khusus langsung mengkocar-kacirkan mahasiswa.

Sebanyak 21 mahasiswa ditangkap. Mereka adalah: Yeni Rosa Damayanti, Hendrik "Iblis" Sirait, Ferry Haryono Machus, Andriyanto, Andi 'Black", Tony Sinaga, dan saya sendiri dari Jakarta; lalu Teddy Wibisana dan Yuyuy (Bogor); Saef Lukman (Cianjur); Masduki dan Mandri Sri Martiana (Malang); Yunus (Yogyakarta); Gunardi, dan Anthony Ratag (Surabaya);  dari Jombang ada Adi Kurniawan, M. Rifky, Piryadi, Munasir, dan Suwito--juga dari Jombang--yang belum genap kuliah satu semester; serta Farid dari Palembang. Total 19 laki-laki dan 2 perempuan.


Bersambung ke bagian 3

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!