omah munir, museum, pahlawan, HAM

Meja tua itu masih kokoh.  Tampak siap dipakai bekerja. Tetapi tak ada lagi kursi di belakangnya.  Karena tak ada lagi yang akan bekerja di sana. Meja coklat itu diletakkan di salah satu ruang di Omah Munir, sebagai pengingat masa-masa ketika Munir aktif bekerja di LBH Surabaya.  Saat ia dengan berani membela Marsinah – buruh Porong, Sidoarjo, yang dibunuh secara keji oleh kaki tangan perusahaan; atau juga mendampingi keluarga petani Nipah yang ditembak tentara di masa Orde Baru.
 
Meja kerja. Sebuah alat sederhana yang mengingatkan kita betapa selama hidupnya, Munir tak pernah henti bekerja untuk Indonesia.  Bahkan, sembilan tahun setelah kematiannya akibat diracun, ia terus menginspirasi orang untuk bekerja memperbaiki kemanusiaan.

Contohnya, di Batu, Malang, Minggu 8 Desember 2013.  Seratusan orang berkumpul mensyukuri dibukanya Omah Munir.  Tempat tinggal Munir yang kini dijadikan museum hak asasi manusia. Suasana ramai sekali. Dan berbaur berbagai orang dari latar berbeda. Ada Wakil Ketua MPR Lukman Saefuddin, ada Wali Kota Batu. 

Juga hadir seniman Butet Kertarajasa, ekonom Faisal Basri, Komisioner Komnas HAM, Sandra Moniaga. Ada direktur HAM dari Dephukham, juga kalangan aktivis. Tak ketinggalan warga sekitar rumah Munir.   Navicula, Simponi, juga Fajar Merah memeriahkan pagi itu dengan penampilan musik mereka.

“Bagaimana mereka tergerak datang ke Batu?” Itu menunjukkan ketokohan, daya tarik Munir. Apa yang diperbuatnya semasa hidup, memang pantas dikenang dan dihormati, karena berguna untuk orang banyak.  Munir sangat potensial menjadi ikon, lambang hal baik yang patut dicontoh dan disebarluaskan.  Buat yang berminat jadi aktivis, ia inspirator perjuangan HAM.  Buat orang kebanyakan, ia tetap teladan. Setidaknya orang-orang akan bangga pakai kaos bergambar Munir.

Wali Kota Batu cukup cekatan menangkap peluang ini.  “Nanti Omah Munir akan diupayakan jadi tujuan wisata di Batu.” Jadi kalau sekarang wisatawan ke Batu mencari udara segar, pemandangan pegunungan yang indah; nantinya dapat memperkaya pilihan dengan melihat Omah Munir. Museum yang memudahkan pengunjung belajar tentang HAM dan perjuangan Munir.  Semoga rencana ini dapat terlaksana. Sehingga lebih banyak orang menaruh perhatian pada perkara hak asasi manusia.

Andi Achdian, kurator museum ini mengatakan, salah satu ruang Omah Munir akan diisi dengan informasi HAM untuk anak-anak, termasuk permainan. Sehingga dapat menarik minat anak-anak SD untuk berkunjung ke museum ini.

Rencananya, tiap awal bulan, tanggal 7 dan 8, Omah Munir akan menggelar acara, untuk menarik pengunjung.  Di bulan Januari 2014, misalnya sudah dijadwalkan acara pembacaan sajak oleh Happy Salma dan pementasan Glenn Fredly. Kalau acara-acara semacam itu dapat digelar reguler, tentu akan mempercepat pengenalan Omah Munir oleh publik.  Juga mempopulerkan Munir.

Beberapa tahun lalu, KBR menggelar lomba cipta lagu tentang Munir. Ada hampir dua ratus karya yang masuk. Sepuluh diantaranya, kami kemas dalam CD untuk Munir.  Lagu-lagu dalam kompilasi itu, antara lain karya Asfinawati, diputar di peresmian Omah Munir.  Musisi lain juga menciptakan karya tentang Munir.

Misalnya Simponi, Navicula, dan yang lebih banyak dikenal Effek Rumah Kaca dengan lagu “Di Udara”.  Ini menggambarkan bahwa Munir potensial diperkenalkan ke budaya pop.  Tak lama lagi, rasanya akan ada yang memproduksi film tentang Munir, dan itu akan makin memperkenalkan tokoh ini ke publik lebih luas.

Sepulang dari peresmian Omah Munir, banyak tamu yang membeli T-Shirt bergambar Munir. Faisal Basri, bahkan sudah memakainya sejak datang ke Malang.  Kalau souvenir semacam ini diproduksi lebih masif, bahkan menembus pasar biasa; dampaknya sungguh akan berbeda.  Orang tak hanya dapat membeli kaos bergambar pahlawan seperti Che Guevara atau Nelson Mandela di Pasar Tanah Abang. Tapi, lain kali mestinya dapat memilih kaos Munir di sana.  Juga topi, pin, tas. Berbagai asesori yang dipakai sehari-hari.

Di musim pancaroba, lebih baik kita mempopulerkan pahlawan seperti Munir.  Daripada merindukan diktator lama, atau pendukungnya yang ingin kembali berkuasa.  Karena itu, Omah Munir penting adanya. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!