Abdurrahman Wahid, Gus Dur, Imlek, bapak pluralisme

Melalui koalisi Poros Tengah yang dimotori Amien Rais, Gus Dur berhasil naik ke puncak kekuasaan sebagai Presiden RI pada 20 Oktober 1999 – mengalahkan Megawati Soekarnoputri yang meskipun PDI Perjuangan-nya menang pemilu, tapi tak mau menggalang dukungan di parlemen.

Dalam masa kekuasaannya sebagai presiden yang singkat, sesungguhnya Gus Dur sudah membuat banyak hal. Gebrakan pertama adalah membubarkan Departemen Penerangan yang selama masa kekuasaan Orde Baru menjadi alat propaganda ampuh rezim Soeharto. Pembubaran Departemen Penerangan ini lantas disusul dengan pembubaran Departemen Sosial karena departemen ini dinilai sebagai sarang korupsi.

Libur Imlek

Gus Dur juga tak segan meminta maaf secara terbuka atas berbagai pelanggaran hak asasi manusia di masa lampau, khususnya di Timor Timur – sesuatu yang tak pernah dilakukan sebelum dan sesudah Gus Dur. Ketika selama puluhan tahun bendera Bintang Kejora di Papua merupakan hal terlarang, Gus Dur dengan enteng mengizinkan bendera itu berkibar. Syaratnya, tetap berada di bawah merah putih. Di bawah pemerintahan Gus Dur pula, Indonesia memulai perundingan dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) – yang selama puluhan tahun bergerilya melawan tentara Indonesia.

Pada tataran hubungan mayoritas-minoritas, kebijakan Gus Dur yang fenomenal adalah mengumumkan Tahun Baru Imlek sebagai hari libur nasional, yang diikuti dengan pencabutan larangan penggunaan alphabet Tionghoa dan pengakuan terhadap ajaran Konghuchu. Juga harus dicatat, hanya Gus Dur yang berani mengusulkan agar TAP MPR tentang larangan Marxisme-Leninisme dicabut.

Tapi Gus Dur tak pernah menyelesaikan masa jabatannya sampai tuntas. Melalui pemakzulan dalam Sidang Istimewa MPR 23 Juli 2001 yang dipimpin Amien Rais dan di bawah todongan tank-tank TNI yang moncongnya mengarah ke istana, Gus Dur dilengserkan dari kursi kepresidenan. Ribuan orang di kawasan Monas mengiringi keluarnya Gus Dur dari istana.

Aktivitas Gus Dur tak berhenti pasca pemakzulan. Ia tetap aktif bicara di berbagai forum. Salah satunya adalah acara Kongkow Bareng Gus Dur yang digelar tiap Sabtu pagi di KBR68H. Gagasan di kepala Gus Dur tampaknya tak pernah berhenti mengalir. Berbagai forum itu selalu dihadiri banyak orang. Kalau pun tak ada sesuatu yang baru, setidaknya orang-orang akan terhibur dengan berbagai banyolan khas yang ia lontarkan. Gus Dur memang inspiratif!

Begitulah, sekalipun ia dijatuhkan dengan cara yang menyakitkan, Gus Dur tampaknya memiliki ketahanan mental yang luar biasa. Dalam sebuah kesempatan, sebagaimana dikutip dalam obituari yang ditulis Tom Fawthrop di laman The Guardian, Gus Dur menjawab enteng soal pencopotannya sebagai presiden. “Kehilangan jabatan presiden bagi saya bukan apa-apa dibanding fakta saya kehilangan 27 rekaman Beethoven Symphony Kesembilan.”

Namun tak bisa dipungkiri, kesehatan Gus Dur terus merosot bahkan ketika ia mulai menjabat sebagai presiden. Berbagai penyakit menggerogoti tubuhnya, mulai penglihatan yang memburuk, diabetes, ginjal, hingga serangan stroke.

Kita, seluruh warga bangsa ini, berutang padanya.

*Heru Hendratmoko, wartawan.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!