Abdurrahman Wahid, Gus Dur, Imlek, bapak pluralisme

Indonesia harus bangga pernah memiliki seorang Abdurrahman Wahid. Seorang kiai dan intelektual besar, yang memiliki wawasan kebangsaan lengkap, dan yang paling kita kenang: pembela gigih Indonesia yang plural, Nusantara yang majemuk.

Kecuali sebagian kecil kalangan yang tak menyukainya, mayoritas bangsa ini sungguh merasa sangat kehilangan ketika dia meninggal 30 Desember 2009. Ratusan ribu orang mengiringi jenazahnya, dan jutaan lainnya -- yang tak sempat mengikuti prosesi pemakaman, berdoa dalam kesedihan.

KH Abdurrahman Wahid, yang akrab dipanggil Gus Dur, memang sudah meninggalkan kita 4 tahun lalu. Sebuah kehilangan besar, teramat besar. Seorang tokoh besar, pemimpin sebuah organisasi massa terbesar Nahdlatul Ulama, tak hanya dicintai mayoritas warga yang beragama Islam, tetapi juga seluruh kelompok minoritas Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Kong Hu Cu, dan berbagai aliran kepercayaan. Gus Dur, di mata mereka, adalah pembela kelompok minoritas dalam arti yang sesungguhnya.

Islam dalam pandangan Gus Dur memang harus bisa menjadi agama yang rahmatan lil'alamin -- Islam yang membawa damai dan rahmat bagi seluruh alam semesta. Pada sambutan pemakaman, Presiden Susilo Bambang Yudoyono menyebut Gus Dur sebagai “bapak pluralisme dan multikulturalisme”.

Kembali ke Khittah

Gus Dur terpilih sebagai Ketua Tanfidziyah PBNU pada 1984. Organisasi Muslim moderat terbesar ini didirikan kakeknya, KH Hasyim Ashari pada 31 Januari 1926. Terpilihnya Gus Dur pada Muktamar Situbondo 1984 itu merupakan titik strategis dengan mengembalikan NU ke “khittah” – sebagai sebuah organisasi sosial keagamaan dan tidak langsung terlibat dalam politik kekuasaan. Secara resmi pula, NU menerima azas tunggal Pancasila.

Di bawah kepemimpinan Gus Dur, pelan-pelan NU bertransformasi menjadi sebuah organisasi modern yang tak hanya memiliki pengaruh besar di dalam negeri, melainkan juga menyedot ketertarikan dunia internasional. Tak sedikit sarjana asing yang kemudian menjadikan NU, sebuah organisasi Muslim yang sebelumnya dicap “kampung” dan “terbelakang”, sebagai bahan kajian ilmiah dan menjadi perbincangan intelektual.

Langsung atau tidak langsung, Gus Dur bersama NU-nya telah memberi kontribusi besar terhadap proses pematangan gerakan reformasi sebelum Presiden Soeharto jatuh. Gerakan reformasi pula yang akhirnya menyeret Gus Dur ke dalam pusaran politik kekuasaan.

Melalui koalisi Poros Tengah yang dimotori Amien Rais...(bersambung ke bagian 2)

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!