Front Aksi Mahasiswa Indonesia (FAMI), penjara Orde Baru

Renungan Pribadi 1 Tahun Tanpa Kebebasan

Awal November 2013, saya cukup kaget saat menerima undangan rapat pembahasan rencana peringatan FAMI (Front Aksi Mahasiswa Indonesia) dari beberapa teman aktivis. Kaget karena begitu cepatnya waktu berlalu,  mengingat momen  yang ingin diperingati tersebut oleh teman-teman, sudah 20 tahun berlalu, sejak 14 Desember 1993. Dan jujur saya sudah lupa dengan tanggal dan tahun tersebut, karena aktivitas saya dalam 20 tahun terakhir begitu tinggi intensitasnya. Padahal momen tersebut sebenarnya momen yang sangat berpengaruh bagi kehidupan saya pribadi. Momen dimana saya kemudian harus kehilangan kebebasan selama 1 tahun, yang telah mengubah rencana awal yang sudah saya susun, tetapi kemudian mempengaruhi dan memperkuat mentalitas saya dalam menghadapi tekanan kehidupan selanjutnya. Belajar bagaimana melalui masa-masa sulit yang telah kita alami, serta belajar dari nilai-nilai yang diusung teman-teman jaringan  FAMI pada saat itu dalam konteks kini, adalah tujuan dari teman-teman yang menggasnya.


20 tahun Lalu


Saat itu 20 tahun lalu, saya baru menjalani kehidupan berumah tangga selama 2 tahun dan baru memiliki seorang putra yang baru berusia 10 bulan. Periode ini adalahi periode yang berat dan menantang dalam kehidupan saya, karena 2 tahun bukan waktu yang lama, masih bagian dari periode awal dalam perjalanan kehidupan kita. Menjalani waktu 2 tahun dalam satu  profesi saja belum menjadikan kita sebagai orang yang berpengalaman atau dikatagorikan sebagai ahli, apalagi dalam kehidupan rumah tangga. Tekanan kebutuhan ekonomi dan tekanan psikologi yang biasa dialami oleh mereka yang baru menjalani rumah tangga, tentu saja saya alami pula.  Tetapi latar belakang saya sebagai aktivis yang memandang segala hal yang dijalani dalam konteks untuk perubahan yang mebedakannya.


Saya pernah lelah, bahkan mungkin sering lelah, tapi tidak pernah tekanan yang melelahkan itu menjadikan ketegangan yang berlebihan dalam kehidupan rumah tangga yang saya jalani. Bahkan tekanan itu menjadi bagian dari tantangan yang besar yang dicapai, tantangan untuk menciptakan perubahan.


Saat itu 20 tahun lalu, saya selain bergaul dalam lingkaran teman-teman profesi , juga masih menjadi bagian dalam lingkaran aktivis yang menginginkan adanya perubahan. Perubahan atas kehidupan yang sumpek, dimana kontrol negara begitu kuatnya dalam setiap aspek kehidupan. Perubahan atas semakin sulitnya akses ekonomi bagi masyarakat banyak. Serta perubahan atas belenggu ekspresi demi stabilitas politik. Semangat perubahan begitu kuatnya sehingga saat sudah berkeluarga serta bekerja, dan sudah tidak lagi aktif kuliah, saya masih tetap menjalani pergaulan di kalangan aktivis mahasiswa. Pergaulan berisi aktivitas diskusi dan advokasi, disela-sela kehidupan normal saya.  Menjadi bagian pergaulan yang “tidak normal” tersebut yang membuat saya penasaran untuk mengikuti aksi demonstrasi teman-teman jaringan aktivis mahasiswa yang tergabung dalam FAMI, yang membawa saya masuk dalam fase berbeda dalam kehidupan saya. Fase dimana saya terjerembab kedalam situasi yang saya lawan, situasi sumpek dimana kebasan saya bukan hanya dikontrol tapi dihilangkan.

Solidaritas Di Dalam Penjara


Saat itu 20 tahun lalu, saya bertemu dengan 20 orang teman-teman FAMI yang lain yang sama-sama bernasib sial harus ditangkap oleh penguasa yang selama ini kita lawan. Bernasib sial? Ya karena siapa pun bisa ditangkap, bukan hanya karena apa yang telah diperbuat sebelumnya atau yang diperbuat pada saat itu. Karena penangkapan itu sendiri sebenarnya dilakukan penguasa untuk menumbuhkan efek jera bagi siapa pun yang memprotes dan melawan kebijakannya. Ini yang membuat saya tidak merasa sebagai pahlawan, sebab saya hanya menjadi bagian dari teman-teman FAMI yang lain, baik yang ditangkap maupun yang bebas di luar, atau menjadi bagian dari siapa pun yang mau berjuang untuk perubahan. Maka proses persidangan yang sebenarnya sangat menentukan nasib kami, karena akan mempengaruhi seberapa lama kami akan dihukum, dengan kesepakatan bersama dengan teman-teman diluar dan kesadaran penuh teman-teman yang di dalam,  justru kami manfaatkan untuk mengkampanyekan perlawanan kami. Walau tentu resikonya akan mendapat hukuman lebih berat.

Dan pada saat itu 20 tahun lalu,  saya mengenal dan menerapkan solidaritas secara mendalam dalam kehidupan bersama, saat melalui situasi yang penuh keterbatasan di dalam penjara. Solidaritas untuk saling berbagi dan saling menguatkan. Saling berbagi dan saling menguatkan menjadi penting karena fasilitas penjara sangat terbatas, makanan jauh dari layak, sehingga logistik dari keluarga dan perhatian dari teman-teman yang menengok (bezoek) menjadi sangat berguna. Sementara di Rutan Salemba dimana saya dan 18 teman-teman lain ditahan, hanya ada 7 orang yang berasal dari Jabodetabek yang secara rutin di bezoek oleh keluarganya masing-masing. Bawaan untuk 7 orang ini (termasuk saya di dalamnya), secara sadar kami distribusikan secara merata. Hal ini juga dirasakan dan dilakukan 2 teman kami yang ditahan di Rutan/LP  Wanita Pondok Bambu, yang berasal dari Jakarta dan Malang.

Tekanan psikologis didalam penjara juga sangat besar. Tak ada seorang pun yang siap untuk menghadapi hidup tanpa kebebasan, siapa pun itu, termasuk mereka yang sudah keluar masuk penjara. Saling menguatkan menjadi faktor penting  untuk keberhasil melewati tekanan psikologis yang kita alami. Perhatian dari teman-teman di luar sangat besar, tapi tetap mereka punya keterbatasan, karena energi mereka dibutuhkan untuk terus melakukan perlawanan, bukan hanya memikirkan kami. Sehingga dukungan orang tua dan keluarga, menjadi sangat penting dan menentukan untuk memperkuat semangat juang kami di dalam.

Jika kita melalui jalan yang berat dan berhasil melaluinya, maka tentu ada hal yang sangat berharga untuk dapat  kita pelajari. Kehidupan di penjara bukan hal yang mudah apalagi menyenangkan. Dan jika penjara pada akhirnya adalah takdir yang harus dijalani para aktivis. Maka bagaimana menjalaninya serta bagaiman kita bisa belajar dari situasi tersebut untuk menjalani kehidupan selanjutnya, adalah hal yang membedakannya. 20 tahun telah berlalu, mungkin banyak dari kita yang dulu bergerak bersama, sudah melupakannya. Tapi bagi saya itu adalah masa dimana saya belajar dalam banyak hal. 


Bersambung ke tulisan kedua:
Semangat Kerelawanan untuk Demokrasi dan Anti Korupsi

*Penulis adalah bekas aktivis mahasiswa, bekerja sebagai eksekutif di sebuah perusahaan swasta

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!