KRL Commuterline

KBR68H, Jakarta - Sejak tarifnya dinaikkan Rp 2.000 sejak 1 Oktober lalu, tidak ada peningkatan berarti bagi pelayanan Commuterline (CL). Seperti dalam pantauan KBR68H di Stasiun Manggarai, Jumat sore lalu (14/12). Terlihat semua jalur, baik arah Bogor dan Bekasi, deretan gerbongnya disesaki penumpang, nyaris tak ada celah sedikit pun.


Padatnya penumpang, hanyalah salah satu masalah klasik, yang masih saja terjadi dulu, ketika tarif belum dinaikkan. Masalah klasik lain, adalah soal keterlambatan jadwal, AC tidak dingin, dan tidak adanya informasi bila ada gangguan perjalanan.

Seperti yang terjadi Jumat sore itu, CL jurusan Bekasi saat berhenti di tiap stasiun, memakan waktu hampir 15 menit, padahal normalnya hanya dua menit. Penumpang hanya bisa menduga-duga, kenapa bisa begitu lama berhenti di tiap stasiun. Semisal di Jatinegara berhenti 15 menit, kemudian di Klender dan seterusnya juga begitu. Ada penumpang yang berinisiatif  menghubungi rekannya, yang menumpang kereta sebelumnya, didapat kabar rupanya ada gangguan teknis di Stasiun Cakung, yang menjadikan perjalanan menjadi melambat.

Dari informasi sesama penumpang pula, bahwa kereta sebelumnya, sempat tertahan di Stasiun Buaran selama setengah jam. Padahal dalam kondisi normal, waktu tempuh antara Stasiun Jatinegara sampai Stasiun Bekasi, tidak sampai 20 menit. Beruntunglah ada penumpang yang mengambil inisiatif untuk mencari informasi, lalu dimana posisi PT KCJ (PT Kereta  Api Commuter Jabodetabek), selaku pengelola CL, pada saat-saat kritis seperti itu?

Bila kita buka Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2011 tentang SPM (standar pelayanan minimum), salah satu klausulnya menyebutkan, pelayanan yang harus ditingkatkan adalah informasi gangguan perja­lanan dan pelayanan loket.  Bila ditambah isu loket, daftar “rapor merah” CL akan semakin panjang.

Seperti yang terjadi di Stasiun Jatinegara. Ada sebagian calon penumpang yang masuk dari pintu gerbang belakang Stasiun Jatinegara, dari perkampungan yang disebut Pisangan. Sejak dulu loket di pintu gerbang belakang memang sudah ada, namun tidak diaktifkan. Setelah tarif CL dinaikkan, loket gerbang belakang kemudian dibuka, untuk melayani calon penumpang CL. Namun hanya sampai jam 18, setelah itu tutup, dengan alasan tidak ada penerangan. Sungguh alasan yang tidak logis, bagaimana mungkin stasiun sebesar Stasiun Jatinegara, loketnya tidak diberi fasilitas penerangan.

Bila pelayanan masih seperti itu, dikhawatir penumpang akan kembali mengendarai motor atau mobil pribadi, yang ujung-ujungnya akan kembali menimbulkan kemacetan.  Su­dah seharusnya pemerintah mem­berikan insentif kepada para peng­guna CL karena telah me­ngu­rangi beban jalan raya, polusi, dan kon­sumsi BBM,  dalam bentuk tarif  CL yang terjangkau dan pelayanan yang baik.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!