Kerja keras dan inovasi, 2 hal yang selalu dipegang dan diyakini oleh Wahyu Trenggono, untuk mencapai kesuksesan. Dan kesuksesan telah dicapainya lewat PT. Tower Bersama Infrastruktur (TBIG). Dan saat keberhasilan tersebut diakui, dengan diterimanya penghargaan dari Forbes, sebagai salah satu perusahaan terbaik dari yang terbaik di Indonesia, tentu punya nilai kebanggaan lain bagi dirinya.

TBIG yang dibangunnya memang sangat menarik untuk dikaji. Selain menarik konsep bisnisnya, yang membuka jalan keluar bagi operator seluler atas besarnya investasi yang mereka butuhkan, jika mereka membangun tower sendiri, juga menarik dalam hal bagaimana perusahaan tersebut menghadapi tekanan non bisnis selama 3 tahun lebih.

Tekanan itu muncul saat Tower Bersama saat akan melakukan SWAP/tukar guling saham dengan Mitratel-anak perusahaan Telkom. Tekanan tersebut terutama melalui media. Media, termasuk salah satunya majalah yang  ternama, memberitakan seolah dalam proses swap tersebut ada unsur KKN yang akan menimbulkan kerugian negara, mengingat Telkom adalah BUMN. Informasi yang salah terus beredar, dan media sebagai sebuah hal yang netral, saat menerima informasi yang salah tentu menjadi tidak berimbang. Apa lagi kemudian Wahyu Trenggono, sebagao pendiri dan pemilik TBIG pelit dalam melakukan klarifikasi. Maka informasi tak seimbang itu dipercaya oleh sebagaian media sebagai kebenaran.

Wahyu Trenggono lebih memilih jalan hukum, baik melalui kepolisian untuk yang bersifat fitnah di media sosial, maupun melalui gugatan di Dewan Pers untuk media yang menyebarkan  informasi yang salah dalam pemberitaannya. Cara tersebut tidak salah, bahkan menunjukan penghargaannya atas kebebasan pers, dengan tidak melakukan kriminalisasi. Tapi akan lebih baik lagi jika dari awal rajin menjawab dan mensuplai informasi kepada media menyangkut perimbangan informasi dan berita di media.

Ada hal yang baik dan buruk dari strategi "tidak mau berpolemik" yang diterapkan Waahyu Trenggono. Tuntutannya di Dewan Pers dikabulkan. Dan pemfitnah dirinya sudah ditangkap dan divonis bersalah oleh pengadilan. Tapi keberhasilan ini belum bisa mengklarifikasi informasi yang salah secara keseluruhan. Karena pada akhirnya swap dibatalkan. Pembatalan itu membuat informasi  salah yang selama ini beredar, menjadi seolah benar di mata pengambil keputusan. Walaupun ternyata justru Telkom yang lebih banyak dirugikan dalam pembatalan swap tersebut.

Kerugian Telkom adalah kehilangan kesempatan untuk meningkatkan pendapatan dari peningkatan tenancy ratio tower mitratel. Dan kewajiban mitratel sebesar Rp.7.2 triliun yang seharusnya menjadi beban TBIG , kini harus menjadi beban Telkom.

Menghindari polemik bagi Trenggono akan memperkuat fokus untuk membesarkan TBIG . Dan ini tampak dari peningkatan labanya, di tahun 2012,2013 dan 2014. Bahkan di tahun 2015 ini, dengan tekanan ekonomi yang berat akibat beban kurs, TBIG  di semester I masih membukukan laba sebesar Rp.500 milyar. Dan keberhasilan ini di lengkapi lagi, dengan diterimanya penghargaan dari FORBES sebagai salah satu perusahan terbaik dari yang terbaik di Indonesia. Penghargaan itu melengkapi keberhasilan TBIG, yang akan mengikis semua informasi negatif yang beredar sebelumnya. 


Penulis: Teddy Wibisana, Profesional


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!