Ilustrasi.

Ilustrasi.

Saya punya tiga alasan merasa tidak nyaman duduk di sebelahnya: dia Tionghoa, Kristen, dan Jawa. Ibu paruh baya itu bersama dua kerabatnya, yang duduk di bangku baris satunya. Saya, yang berbeda dalam tiga lapis, pagi ini berbagi kursi dengan mereka di dalam kereta relasi Bandung-Solo. Saya takut.

Selama 20 tahun hidup, ini kali pertama saya pergi jauh seorang diri. Kalau bukan untuk acara di Mojokerto, Oktober 2012, saya tak mau repot. Baiknya di rumah yang aman. Tapi di sinilah saya, duduk mendengarkan mereka bertiga mengobrol dengan bahasa Mandarin berlogat Jawa, saya serba kikuk.

Tionghoa, Kristen, dan Jawa. Saya ingat betul bagaimana orang-orang terdekat mengingatkan saya untuk menjauhi mereka. “Pelit,”kata teman saya soal Tionghoa. “Jahat,”kata teman saya soal Kristen. “Tukang tipu,”kata orangtua saya soal Jawa. Dan kini, ya Tuhan, ketiganya bersatu padu dalam satu manusia, yang duduk mengunyah stik keju merk ternama di samping saya. Saya makin takut.

“Mau ke mana, Dek?”tanya si Ibu pada saya. 

“Ke, eh, ke, Solo, Bu.” Saya menjawab dengan canggung sempurna. Ibu itu tersenyum. Kalung salibnya sekilas memantulkan cahaya. 

“Adek ada saudara di Solo toh?” 

“Eh, bukan, Bu, eh, ke Mojokerto,”jawab saya penuh enggan.

“Oh..” jawabnya super kalem.

Apa-apaan dia tanya-tanya begitu? Ini pasti agenda terselubung, ini pasti modus! 

Ibu itu menaruh dulu bungkus stik kejunya di bangku, ia mengeluarkan kue lapis dari kantungnya. Oh, orang kayaaa. Dasar pelit! 

“Adek, kalau mau stik kejunya ambil saja toh.” 

“Eh, eh, iya, Bu, enggak, makasih.”

“Ayo,” ibu itu kembali menyimpan kue lapisnya. Dia menyodorkan kantung stik keju ke lengan saya.“Ini ambil satu.” 

Saya masih diam.“Ayo ambil satu saja, Dek.” 

Ini racun! Ah tapi bungkusnya baru dibuka, tak mungkin dia racuni. Baiklah.

Saya ambil perlahan, lalu melahapnya. Kunyah kunyah kunyah. Rasa keju langsung lumer di lidah. Rasa yang melumerkan pula kerasnya prasangka yang selama ini saya yakini. Ternyata perut saya baik-baik saja. Ternyata ibu ini orang baik. Ternyata tidak semua orang Tionghoa pelit. Ternyata tidak semua orang Jawa itu tukang tipu. Ternyata saya salah. Ternyata saya salah. Ternyata dan seribu ternyata lainnya. 

Entah kenapa saya jadi bertanya, “Ibu ke Solo?” Kali ini intonasi terbata sudah hilang begitu saja. 

“Iya,” katanya kalem. “Sudah lama ndak ke Solo.”

Dan dinding prasangka itu tanpa saya sadari telah roboh dalam sekejap mata. Entah bagaimana ketionghoaan, kekristenan dan kejawaan ibu itu tiba-tiba saya lupakan. Saya melihatnya sebagai manusia.

Percakapan kami pun makin menjadi. Semakin dalam dan menjurus ke berbagai topik. Kami mengobrol soal Solo, soal baju-baju batik di pasar Klewer, soal tukang bakso favoritnya, soal kuliah dan hobi saya. Soal-soal biasa, yang tak pernah saya bayangkan bisa didiskusikan dengan orang Tionghoa, yang Kristen, dan Jawa.

Sorenya di Stasiun Balapan Solo, kami berpisah. Saat melihat punggung ketiga ibu paruh baya itu menjauh, saya berpikir perjalanan ini bukanlah soal ke Mojokerto semata. Saya yakin bahwa perjalanan, ke mana pun itu, menawarkan kesempatan mencek curiga yang selama ini saya percayai begitu saja. Perjalanan juga memberinya jawaban-jawaban langsung lewat pengalaman, bukan lewat kata orang.

Saya bersyukur punya kesempatan klarifikasi stigma, soal Kristen begini dan Jawa begitu. Lewat perjalanan sembilan jam ini, saya belajar berinteraksi, lalu melupakan benci, dan berusaha tidak menghakimi. Saya belajar bahwa orang dari agama apa pun, suku dan etnis apa pun, ada yang baik hati.

Tapi ini baru saya seorang. Sementara di luar sana, berapa juta yang masih percaya kalau orang Tionghoa itu pelit, Kristen itu jahat, dan Jawa itu tukang tipu? Bahkan mereka saling pukul hanya karena curiga, padahal mereka hanya tidak tahu dan tidak mau tahu. 

Haruskah mereka, dengan mata kepalanya sendiri, ditawari stik keju dulu agar percaya bahwa Tionghoa, Kristen dan Jawa juga ada yang baik hati? 

Seandainya prasangka itu roboh, saya percaya perdamaian sudah sampai di depan mata. Kuncinya hanya interaksi di antara orang-orang berbeda suku dan agama. Runtuhkan dinding-dinding curiga. Percayalah, kita bisa hidup bersama-sama. 

Tips saya untuk tinggal damai di Indonesia dan dunia yang penuh warna: ayo beli tiket ke luar kota, cek prasangkamu sekarang juga!

Diambil dari buku “Dialog 100: 100 Kisah Persahabatan Lintas Iman” (penerbit: Jakatarub & Interfidei, 2013).

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!