Tosca Santoso, KBR, Green Radio, Utan Kayu

Lima belas tahun, kami menyapa pendengar Jakarta.  Setiap hari kami sajikan program radio, memenuhi hak masyarakat akan informasi. Kami buka ruang di udara untuk warga bertukar pikiran.  Tetapi, dalam waktu dekat, Anda tak akan temukan suara kami lagi di FM 89,2.

Program KBR, juga Green Radio, segera berpamitan dari Jakarta, dari frekwensi yang selama ini digunakannya.

Bukan berarti KBR tutup warung. Kami akan tetap memproduksi program-program radio, 18 jam sehari. Dan 700 radio di Indonesia masih setia menyiarkan program-program KBR. Begitu juga 200 radio di Asia dan Australia.  Hanya, khusus untuk warga Jakarta, kami mohon maaf, siaran KBR dan Green Radio akan hilang dari udara.

Supaya jelas, izinkan saya bercerita sedikit tentang FM 89,2. Itulah frekwensi, tempat KBR dan Green Radio selama ini dapat didengar dengan mudah di Jakarta. Frekwensi itu bukan punya kami. Tetapi milik perusahaan keluarga teman, Maesa Samola,  yang mewarisi dari ayahnya  almarhum Erik Samola.  Tahun 2002, ketika Maesa magang kerja di KBR dia dengan baik hati menawarkan frekwensi radionya untuk dipakai. Radio Metro Sport, yang semula menggunakan frekwensi itu, tidak lagi bersiaran dengan rutin; dan KBR beruntung dapat menggunakannya.

Tetapi sewa antar teman. Kadang lancar bayar, sering juga macet kalau bisnis sedang buruk.  Dan, pertengahan tahun ini, kami mulai sering mendengar kabar “89,2 FM akan dijual.”  Tentunya, penjualan perusahaan pemilik frekwensi lebih menguntungkan daripada disewakan kepada teman yang kurang tertib bayar bulanannya.  Ketika kabar penjualan semakin santer, beberapa staf KBR bertanya langsung ke Maesa, dan mendapat jawaban “Banyak yang minat. Tapi belum fix”  Kabar beredar menyebut, frekwensi itu dibeli Indika.

Kebetulan saya kenal Vice President Director Indika, Arsjad Rasjid.  Kami jumpa pertama kali di World Economic Forum, Dalian, China 2011.  Dia, satu-satunya pembicara dari Indonesia di forum bergengsi tersebut. Dan, saya sapa Arsjad, seusai dia jadi pembicara.  Dia eksekutif yang cerdas. Paparannya tentang problem energi di Indonesia menarik minat.  Beberapa kali setelah perjumpaan itu, kami pernah ketemu, sebelum kelompok usahanya meluncurkan Net.tv.

Maka, tanggal 25 Oktober lalu, saya kirim WA kepada Arsjad, menanyakan,” Apa benar Indika membeli frekwensi yang sekarang dipakai Green Radio?”  Sehari kemudian Arsjad menjawab, “saya konfirmasi”


Transaksi saham perusahaan pemegang frekwensi seperti itu legal. Dan menjadi praktek bisnis yang biasa di tanah air.  Tetapi mendapat WA dari Arsjad dini hari itu, buat saya seperti menerima kabar kematian.  Mendadak dan melumpuhkan.   Sebentar lagi, KBR dan Green Radio berhenti menyapa pendengarnya di Jakarta. Tak lama lagi, akan ada suara yang hilang di Jakarta.

Lamat lamat, saya teringat percakapan dengan Maesa bertahun lalu.  Mungkin Maesa sudah lupa percakapan ini. Tapi intinya, kira-kira  saya bertanya,” Sampai kapan frekwensi ini bisa dipakai KBR?”  Tanpa ragu, Maesa menyahut,”selama saya hidup, bisa dipakai.” Saya tenang. Memegang omongan teman.  Tetapi, waktu berubah. Harga frekwensi juga berubah.  Dan, saya mengenang obrolan itu, tanpa bermaksud menganggapnya sebagai janji.  Sekedar ingat saja. Karena tiba-tiba omongan lama itu  melintas….

Buat pembaca yang belum akrab dengan KBR dan Green Radio, saya ingin sedikit berbagi. Kenapa kami merasa penting meneruskan program KBR untuk khalayak?  KBR dirintis tak lama setelah jatuhnya Soeharto.  Sebuah inisiatif untuk mengisi dan merawat kebebasan, dengan cara melayani pendengar radio akan program berkualitas.  Juga upaya untuk memenuhi hak masayarakat akan informasi.  Program KBR pertama kali mengudara 29 April 1999. Waktu itu hanya 7 radio yang menggunakan.  Sekarang jaringannya berkembang mencapai 900 radio.  Di Indonesia, program-program KBR disimak 10 juta orang. 


Siaran kami  terutama program berbasis jurnalisme.  Berita, feature, talkshow, dokumenter.  Juga penyediaan ruang untuk publik bertukar gagasan di udara.  Di pagi hari, misalnya ada Buletin Pagi. Program berdurasi 30 menit itu, disiarkan 300 radio, dengan total pendengar 5,6 juta orang.   Buletin Pagi adalah program paling populer di KBR.  Kami juga menyiarkan Buletin Sore, dan Kabar Baru setiap jam sekali dengan durasi 5 menit.  Program-program KBR, menjadi andalan radio rekanan, untuk pasok berita yang independen, dan cepat.

Selain itu, KBR menyajikan talkshow tematik, seperti : Reformasi Hukum dan HAM, Klinik Kesehatan, Bumi Kita, juga program untuk membahas Otonomi Daerah (Daerah Bicara), dan mempromosikan toleransi beragama (Agama dan Masyarakat). Pendeknya, KBR yang semula kegiatan LSM ini, dirancang untuk jadi kantor berita radio publik.  Mendampingi warga yang tengah bertransformasi ke arah masyarakat demokratis, terbuka dan bermartabat.

KBR mendapat banyak penghargaan karena kegiatannya dalam melayani publik akan informasi.  Salah satu yang menonjol adalah penghargaan dari Raja Belgia Tahun 2009:  King Baudouin International Development Prize. KBR dianggap berjasa memperkuat demokrasi, toleransi dan partisipasi warga. Lengkapnya, panitia penghargaan itu menyebut alasannya: KBR radio news agency (Indonesia) for its contribution to a sustainable development based on the strengthening of democracy, tolerance and citizen participation, by producing and disseminating qualitative information through a network of local radio stations and by promoting professional ethics in the media world.

Hingga sekarang, KBR adalah satu-satunya media di dunia yang pernah mendapat penghargaan prestisius dari Raja Belgia itu.

Di Sore hari, kami banyak menyampaikan berita lingkungan. Pendengar 89,2 FM di Jakarta, tentu mulai akrab dengan Green Talk, Green Indeks, Green Night.  Juga acara off-air yang dilakukan Green Radio.  Program penanaman pohon di Sarongge, kini telah dikenal luas – bahkan dikunjungi Presiden SBY Januari 2013.  Itu sekelumit kegiatan Green Radio, yang nantinya tak akan dapat disimak lagi di 89,2 FM.  Sekitar 250 ribu pendengar Green di Jakarta, akan kehilangan akses pada informasi yang mereka gemari.

Itu sebabnya, kami berusaha keras mencari cara agar siaran KBR tetap dapat dinikmati pendengar Jakarta.  Saat ini, yang paling terbayang adalah lewat internet.  Streaming www.portalkbr.com akan ditingkatkan kualitas dan dayanya melayani pengguna.  Juga akan dibuat versi apps untuk memudahkan pengguna telepon genggam. 

Namun siaran terestrial tetaplah penting.  Itu cara termudah untuk menjangkau kebanyakan pendengar kami.  Dan, KBR ingin tetap menyapa pendengarnya lewat siaran di Jakarta, meski frekwensi 89,2 FM telah berganti pemilik.  Caranya bagaimana, kami pun belum tahu.  Yang pasti, kami tak ingin mengubur  harapan banyak pendengar. Kami tak ingin menyumbat hak mereka atas akses informasi, hanya karena hilang tempat bersuara. 

Lima belas tahun, kami sudah membuktikan siaran ini dibutuhkan warga. Jadi, tak ada alasan untuk berhenti.  Suara kami bisa hilang sementara. Tapi kami pasti akan mencari cara untuk kembali…
 
Tosca Santoso
Direktur Utama KBR

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!