KBR, Green, 89.2 FM hilang di udara, frekuensi publik

Sebelum bergabung dengan KBR68H, 22 Januari 2002, berbulan sebelumnya saya dikenalkan dengan Komunitas Utan Kayu oleh sahabat saya, Dono Indarto. Kebetulan Dono sudah jadi penyiar dan reporter budaya di KBR68H yang waktu itu masih mengudara di saluran AM. Dia bangga betul dengan komunitas ini, dan bilang “Lu harus ikut gue sekali-kali ke diskusi di Utan Kayu. Biar lu ikutan pinter, paling penting, belajar tentang isu gender.” 


Saya ingat betul, perkenalan pertama saya dengan Komunitas Utan Kayu adalah mendengarkan dengan terkesima pencerahan dari Gadis Arivia tentang perjuangan menyuarakan hak perempuan lewat media Jurnal Perempuan yang dipimpinnya.  Setelah itu pertemuan berikutnya makin rajin, terutama kalau sudah ada Mba Ayu Utami bikin acara di sana. Saya akan ikutan mengantri sambil cengar-cengir,”Hai mba Ayu, saya Nita. Saya suka sekali dengan Saman dan Larung.” Saya harus “ngelmu” di sini…  itu yang ada di kepala saya. 


Begitu ada kesempatan KBR68H mencari reporter, saya bersemangat ikutan melamar. Adalah Mas Tosca Santoso, Mas Heru Hendratmoko dan Mas Supriyatno Yayat yang mewawancarai saya waktu itu. “Kamu bersedia ditugaskan jam 3 pagi di kantor?” Pasti saya jawab bisa atuh… apa pun demi bergabung di komunitas ini untuk belajar tentang jurnalisme. 


Awal-awal bergabung, musim hujan, sudah pasti banjir jadi berita utama. Ini radio, tidak ada yang melihat, tapi kami para reporternya beneran nyemplung di tempat banjir loh. Mencari suara air yang mengalir, menggambarkan gatalnya air yang merendam kaki. 


Saya belajar jadi militan yang tidak mudah menyerah pada penolakan narasumber. Mas Alif Imam yang jadi koordinator liputan memerintahkan saya untuk mengejar informasi dari  Kusparmono Irsan – Ketua Penyelidik Nasional Kasus Pembunuhan Ketua Presedium Dewan Papua (PDP) Theys Hiyo Eluay. Saya disuruh menunggu Pak Kus dari jam 4 pagi di depan rumahnya di Jl. Jakarta, Cinere. Keluar rumah jam 3 pagi diantar ibu ke jalan raya sampai dapat angkot ke Pondok Labu dan dari sana naik ojek, lalu duduk manis dikerubuti nyamuk di depan rumah Pak Kus. Itu tugas militan pertama yang disusul berikutnya di kasus pembunuhan Munir, sampai Pollycarpus yang kemudian menjadi tersangka, menandai saya yang sempat beberapa kali ada di sekitar rumah dan mengikutinya di konperensi pers. Seru! Belum lagi kasus yang menyangkut mafia besar di Indonesia. “Naik kapal pergi ke pulau itu, bener nggak bakal dijadiin pulau judi di Indonesia Timur?”  Maka meluncurlah saya dengan kapal selebar badan, terapung 45 menit di laut dekat Kendari, Sultra. 


Setengah mengeluh, teman saya pernah bilang “Di sini tuh, kita kayak tentara, kudu siap kapan pun ditugaskan.” Betul, tapi saya menikmati tantangan itu, menempa diri biar tidak cengeng dan banyak mengeluh soal kerjaan karena percaya inilah pekerjaan yang penting buat orang banyak. Memegang prinsip hanya menyuarakan yang akurat dan berimbang. 


Diancam “dibunuh” pun pernah oleh orang-orang berpikiran sempit yang tidak bisa menerima prinsip kami yang menolak disahkannya undang-undang pornografi. Bom buku 2011 itu bikin saya patah hati pada harapan bahwa bangsa ini suatu saat akan belajar dewasa menerima perbedaan pendapat. Ancaman itu bukan ditujukan pada satu orang, tapi pada kami dalam sekumpulan orang, sebuah komunitas. 


KBR68H adalah tempat saya belajar menjadi manusia, menghargai perbedaan dalam pendapat dan prinsip. Di sini kami belajar berdemokrasi, mengungkapkan semua pendapat, berdebat sampai berkelahi pun pernah, manusiawi saja ketika tidak bisa menahan emosi. Setelah itu, kami tetap satu suara di udara dengan nilai yang kami junjung bersama. 


Udara…. Ketika harusnya itu milik umat, ternyatakan harus terpaksa dikavling dalam bentuk frekwensi. Dan ketika suara KBR68H dan Green Radio – yang pernah jadi bayi saya ketika memimpinnya 2008-2012, harus menghilang dari udara Jakarta, rasanya seperti dihujam sembilu, berlebihan? Saya rasa tidak.


Ketika diminta memimpin Green Radio yang mengudara di Jakarta dengan isu lingkungan, yang awalnya percaya orang Jakarta itu individualis, tidak peduli dan tidak akan mau berubah demi lingkungannya - gugur. Bersama Green Radio, kami pernah mampu mengumpulkan ribuan orang membersihkan sampah di Monas dan Pantai Ancol, mengajak ratusan individu dan puluhan korporasi menanam puluhan ribu pohon di Gede Pangrango. Kami menjadi rantai pertemuan kawan-kawan aktivis lingkungan bersatu menyuarakan kepedulian penyelamatan lingkungan. Kekuatan kami ada pada komunitas yang peduli lingkungan, menjembataninya dengan perusahaan yang punya prinsip sama juga pemerintah yang terkait. Pelan tapi pasti, Green Radio diterima jadi satu-satunya radio yang gencar menyuarakan isu lingkungan sementara yang lain hanya menjadikan isu ini sebagai “insert” agar tak kehilangan tren. 


Kami memang belum sempurna dalam menyajikan informasi dan itu bisa terus diperbaiki, tapi sekarang proses menuju perbaikan lebih baik meski tak akan sempurna itu menjadi tak terdengar di Jakarta. Sayang, sungguh sayang. Saya pribadi seperti kehilangan anak usia enam tahun yang sedang lucu, lincah dan mulai menemukan minatnya…. 

Segeralah kembali mengudara. KBR dan Green Radio bisa sekali mengudara lewat media lain seperti internet, tapi kami pasti akan sangat merindukan suara itu di udara Jakarta, yang terdengar lewat radio di dalam mobil atau di telepon selular. 


Kawan-kawan di sana, di Utan Kayu 68D, jangan patah semangat. Karena saya tidak, dan banyak pendengar setia pun yang  tetap menaruh dukungan pada kalian. Tetaplah idealis dalam menyuarakan berita untuk kepentingan orang banyak. KBR besar karena melakukan perubahan sosial di negara ini, semangat itu tak boleh mati. 

 

 


Baca juga: Suara yang Hilang di Jakarta 

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!