GKI Yasmin tidak bisa beribadah, ibadah natal GKI Yasmin

Di Wikipedia ada tercantum, “Seribu bangau kertas (??? Senbazuru) adalah kumpulan origami berbentuk bangau (? tsuru) yang dirangkai bersama dengan benang. Legenda Jepang menyatakan bahwa siapapun yang melipat kertas-kertas menjadi seribu bangau, maka satu permohonan atau harapan seseorang  akan dikabulkan. Dilatarbelakangi oleh kepercayaan rakyat Jepang bahwa bangau adalah salah satu makhluk suci (yang lainnya adalah naga dan kura-kura), dan konon dapat hidup selama ribuan tahun. “


Ada yang bertanya, apa harapan saya di tahun ini. Maka jawabannya sudah pasti,  yaitu  saya dapat beribadah di dalam rumah ibadah saya dan merayakan Natal tahun ini dengan damai dan khusuk.  Adalah GKI Yasmin , sebuah gereja di Jl. Abdullah Bin Nuh Taman Yasmin Bogor, yang sudah berbilang tahun disegel secara ilegal oleh Pemerintah Kota – walaupun sudah sah berkekuatan hukum tetap  sesuai putusan  Mahkamah Agung dan Rekomendasi Wajib Ombudsman Republik Indonesia, tempat saya dan sekian banyak jemaat bergereja di sana. 


Sejak 2010, perjuangan mendapatkan hak beribadah ini, begitu mengalir dalam diri saya. Rentetan kejadian yang bergejolak , puluhan kali beribadah di trotoar depan gereja, serangan kelompok intoleran yang mengepung tempat ibadah bahkan di malam Natal sekian tahun lalu, juga ibadah secara sembunyi –sembunyi di rumah jemaat  hingga kini, sudah saya alami.  Bahkan  sejak Februari 2012, Ibadah dua mingguan di seberang Istana Merdeka yang kami lakukan bersama HKBP Filadelfia Bekasi,  lebih dari 76 kalinya,  dengan cuaca yang  terus bergantian menemani, dari panas terik menyengat, terpaan angin kencang,  hingga hujan deras , semua sama campur aduknya dengan perasaan saya.


Mendung  harapan yang semula redup,  perlahan mulai  tersingkir ketika pemimpin negara di Republik ini, berganti. Ada harapan baru yang kami naikkan pada Presiden Indonesia baru  bernama Jokowi. 


Harapan? Kembali saya teringat akan legenda Burung Bangau origami itu. 


Bermula dari sekedar mengunggah sebuah foto burung bangau origami karya saya , di salah satu media sosial sambil menyertakan harapan beribadah itu, membuat beberapa kawan bergerak cepat. Dari yang tadinya hanya beberapa buah saja, sekarang sudah mencapai lebih dari 800-an buah. Kelak, seribu bahkan lebih burung origami yang sudah  dibuat, akan terangkai dalam bentuk pohon Natal, dipajang di perayaan Natal 2014, di mana pun kelak kami rayakan.


Kini gedung gereja itu, sudah terbengkalai, rumput dan ilalang  nyaris setinggi atap, tak lagi terjamah manusia, ular dan tikus bahkan mulai bersarang di dalamnya. Terakhir menyambanginya,  mimbar gereja penuh debu yang masih teronggok di sana seakan memanggil saya, “Jaga terus doa dan harapanmu,  jangan pernah berhenti berjuang !”


Iya, terus berpengharapan, seperti tanya di spanduk yang terpajang tiap Ibadah seberang Istana ,jelang Natal 2014 yang tinggal dalam hitungan hari, "Kapan gereja SAH kami dibuka untuk tempat kami ber-IBADAH NATAL, Pak Presiden Jokowi?" 


Kembali mengutip sebuah harapan dari kisah burung bangau origami itu,  "Jiwa-jiwa burung kertas, kemudian terbang, meliuk dan menyalip, ke dalam dimensi ruang, jarak dan waktu, mengabulkan permintaan mereka, dan mencari anak manusia lain dengan mimpi serta HARAPAN BESAR yang sama, untuk di wujudkan .. " 


Harapan, agar Indonesia menjadi Rumah Bersama Bagi Semua. 



Penulis adalah Tim Media dan Pengembangan Jaringan GKI Yasmin. Jika berminat menyumbangkan burung kertas, silakan kontak ke Facebook Peduli Yasmin atau Twitter @gkiyasmin 





Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!