89.2 FM green radio hilang dari udara jakarta, siaran jakarta 89.2 FM KBR

Biasanya orang lebih suka mendengar kabar baik. Dan Minggu ini saya mendengar dua kabar. Pertama, kegembiraan  karena hari ini senyum berpendar dari orang-orang yang lama kukenal. Ya, mereka tengah menggelar selebrasi grand opening warung mewahnya. Katanya itu warung paling mewah seantero Semarang. Saya sempat menikmati kemewahan itu saat datang sehari sebelum perayaan. 


Saya kenal baik dua dedengkotnya. Satu teman seprofesi yang bertahun-tahun bersama. Dan satunya lagi, perempuan energetik yang seperempat abad lebih berkiprah di dunia radio yang biasa kami panggil ”Make” (e dibaca seperti membaca emang). 


Kedatanganku kemarin disambut dengan bau obat rayap yang mengendap di seluruh ruangan bernuansa merah dan ketidakpedean menerima kemewahan warung dan tanggungjawab besar di pundak Make. Tapi saya menyakinkannya dengan menyebut semua pengalamannya.


Situasi ini berbanding terbalik dengan beberapa bulan lalu ketika keduanya diminta mengurus radio yang ternyata banyak di korupsi pengelola sebelumnya. Ruangan tempat mereka bekerja  lebih mirip gudang. Klimaksnya, yang tersisa  hanya seperangkat alat siar butut, dua komputer zadul, AC bocor. Dan mereka tutup warung...


Tapi hanya untuk sementara. Tak kurang dari sebulan, sejumlah opsi ada di kepala. Tetap mempertahankan dengan pertimbangan manfaat untuk publik entah bagaimana caranya atau menyerah pada keadaan. 


Bertahan itu artinya menyewa dengan harga puluhan hingga ratusan juta dari para broker yang tebar pesona. Atau mengeluarkan miliaran rupiah untuk membeli dari pemegang harta publik yang sudah tidak peduli dan enggan mengembalikan pada negara. 


Jawabannya, sudah ditemukan di alenia pertama tulisan saya ini. Ya, begitulah. kadang orang memilih breaking the rules... breaking the law untuk sesuatu yang dianggap mulia. Mungkin itu juga yang dirasakan Robin Hood ya... hehe. Tapi ada juga orang memilih melakukan hal yang sama untuk kepuasan dan kemakmuran pribadi.


Oh ya, sebelum saya ngelantur. Kabar kedua ini datang dari Jakarta beberapa hari lalu. Saya tak ingin menyebut ini sebagai kabar menyedihkan. Tepatnya, kabar yang tidak menggembirakan dari bagian hidup saya yang diunggah Mbak Citra (Citra Dyah Prastuti adalah editor di KBR – red) di Facebook dan PortalKBR.


Kabar itu seolah mengajak saya memutar mesin waktu satu dekade yang lalu. Mei 2004 ketika ”kecelakaan” itu terjadi sebulan selepas hijrah dari ibukota. Peristiwa yang mau tidak mau mengubah kehidupan saya hingga kini. 


Tepatnya ketika saya diterima di radio siaran lokal di Semarang. Radio Rasika namanya. What,  radio???!!! Tak pernah terbayang sebelumnya saya akhirnya terjerumus ke lembah yang namanya radio. Meski waktu kuliah aku sempat mengambil mata kuliah pilihan produksi siaran radio dan saya ”cut” di tengah semester. 


Jujur waktu itu yang terpikir ”yang penting kerja dulu biar bisa cari teman dan duit.” Meski di kampung halaman, saya benar-benar memulai dari nol. Tanpa teman, kolega, apalagi narasumber. Ini mungkin efek mudik setahun sekali, itupun cuman satu minggu... hiks.


Pengalaman pertama, bingung liputan apa... tidak tahu tempat.. tidak tahu siapa yang musti di wawancara.... Dan satu lagi, saya emoh laporan. ”Matik, suara cemprengku melayang-layang di udara mencari tumbal kuping pendengar,” pikirku. 


Gegara itu, saya sempat berantem dengan produser. Maksudnya, kenapa musti saya yang laporan. Secara saya tidak pede dengan suara ini...xixiiii.


Pada akhirnya semua teratasi seiring waktu. Di sini juga kemudian saya berkenalan dengan KBR karena radio kami berjaringan dengan kantor berita radio di Jakarta ini. Dan KBR jugalah yang seolah menjawab keresahan lain dan ”otak jahat” yang muncul dan terus teringiang. ”Salah sendiri kerja di radio lokal. Bakalan sulit berkembang.” 


Dari situ saya berpikir bagaimana caranya bisa melihat dunia luar. KBR menjadi jalan. Ternyata suara saya tidak hanya mengudara di Semarang, tapi juga di Jakarta dan Nusantara. Seolah KBR juga menjadi jembatan saya menempa diri dan menimba ilmu bagaimana memegang kredo jurnalisme dan bagaimana menulis dengan telinga. ”Bahkan mendapat kepercayaan untuk membaca naskah ficer sendiri yang tidak dilakukan kontributor lainnya..”


Kecelakaan yang berbuah kebanggaan itu bertambah ketika  KBR memberi kesempatan. Bertubi-tubi. Hasil karya saya terdengar hingga Asia. Bahkan ketika saya di tahun 2008 kerap disebut teman-teman mendapat keberuntungan karena menyandang posisi koresponden di radio Internasional Deutsche Welle Jerman. Berbagai pengalaman selama menjadi jurnalis radio dari menerjang lautan Pasifik di kepala burung Papua hingga kerap kali menjadi minoritas di lapangan pun saya rasakan dengan kesenangan. 


Sekali lagi, saya tak memungkiri KBR-lah  yang memberi jalan menuju ke sana. Tentu saja selain usaha dan keterlibatan orang-orang yang tak bisa saya sebut satu persatu. 


Dan kabar tidak menggembirakan dari Jakarta itu kurang lebih seperti yang dirasakan dua kawan saya ketika harus menutup ”warung” yang baru diopeni beberapa bulan. Itu baru beberapa bulan. Bayangkan ketika sudah 15 tahun bersama melahirkan, menimang dan membesarkan. Opsi atau pilihan selalu ada. Dan pasti yang terbaik pada saat itu diputuskan. Demikian juga untuk KBR. 


Semoga KBR tak patah arang dan memilih samsara. Ya, terlahir kembali dengan kondisi yang lebih baik. Samsara, filosofi Buddha yang bermakna re-birth yang menggambarkan kelahiran kembali dari kondisi sebelumnya. Jadi, mari kita maknai proses re-birth KBR itu sebagai jalan menuju kebaikan dalam memperjuangkan hak-hak publik akan informasi melalui udara. 


Tetap Semangat. Saya yakin, Mas Tosca Santoso sebagai Direktur dan semua yang ada di dalam dan di luar KBR akan mewujudkan kelahiran itu...


Jujur saja, sampai detik ini saya merasa menjadi orang beruntung karena berada di tempat yang tepat dan saya yakin, KBR pun demikian...


Penulis adalah kontributor KBR dan jurnalis lepas yang tinggal di Semarang. Sebagian kisah disadur dari biografi penulis yang dimuat dalam buku ”38WIB: 38 Wanita Indonesia Bisa” karya Gaganawati. 




Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!