toleransi dan pluralisme untuk anak muda, bandung lautan damai


Ketika aliansi Bandung Lautan Damai memulai proyek buku Dialog100 tahun lalu, mimpi kami sederhana: perdamaian harus vokal. Sebab kami melihat wacana perdamaian tidak pernah jadi arus utama. Dia sering kalah dengan suara kebencian yang belakangan viral di internet dan mendominasi televisi. Suara toleransi sunyi, hanya sampai di bisik-bisik saja.


Memang ada yang menyuarakan perdamaian, ada, tapi terbatas dari mimbar ke seminar. Ada sederet lembaga yang rutin bersikap seperti Setara Institute, the Wahid Institute, Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika, dan sejenisnya. Tapi acara-acara mereka biasanya mengundang para tokoh agama yang sudah selesai dengan perbedaan. Sementara masyarakat akar rumput tidak terkena cipratan semangat persaudaraan.


Lalu bagaimana menyebarkan pluralisme ke akar rumput? Tidak mudah. Apalagi istilah pluralisme ini terlalu neko-neko, seperti dari planet lain, plus terlanjur dicap haram oleh MUI. Sampai kami berpikir, bagaimana menyebarkan pluralisme bahkan tanpa perlu menyebut istilahnya? Dan bagaimana mempraktikkan pluralisme tanpa terlebih dahulu mempelajari Hans Kung atau Nurcholish Madjid?


Kami mengobrol lama soal ini. Sampai akhirnya kami berkesimpulan bahwa pluralisme teoretik sudah overdosis. Kami perlu yang tidak akademik, melainkan yang asyik dan ciamik. Sebab kami sendiri membuktikan pengalaman sehari-harilah yang membentuk kami jadi toleran, bukan dengan menghapal teori segudang.


Hingga suatu sore, Wawan Gunawan, koordinator kami di Jaringan Kerja Antarumat Beragama, berkata, "Ayo bikin buku yang mirip Chicken Soup". Ide mungil namun strategis darinya telah menantang kami. Maka pada September 2013, saya dan tiga teman mulai membuka seleksi naskahnya.


Kami akhirnya memilih 100 cerpen terbaik yang mewakili semangat persahabatan lintas iman. Dari 470 halaman, setengah kisah buku ini membahas Islam-Kristen, sementara 5 kisah membahas Muslim-Tionghoa. Cerita yang kami pilih berasal dari 78 Muslim, 16 Kristen, 2 Hindu, dan 1 Buddhis. Mereka penulis amatir, dengan beragam latar belakang dan cara cerita, tapi punya visi yang sama soal kebersamaan.


Siapa pun bisa belajar toleransi dari kisah Maria Ulfa, seorang muslim yang mengobrol dengan Yahudi; atau kisah pendeta Obertina Johanis yang dilindungi tetangganya yang muslim dari demo kelompok intoleran; hingga kisah Amalia Nanda yang berkunjung ke temannya yang Kristen saat Natal. Plus 97 kisah lain yang membongkar prasangka dan menolak kekerasan atas nama agama.


Kami berharap, lewat buku ini, siapa pun bisa mudah belajar menghargai perbedaan. Sebab, lewat 100 kisah nyata, pluralisme terbaca dengan cara yang paling sederhana: persahabatan manusia.


Penulis kini jurnalis KBR. Aktif di Jaringan Kerja Antarumat Beragama (Jakatarub) di Bandung dan ikut menggagas buku Dialog100 pada Hari Toleransi Internasional 2013.


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!