Saat saya menulis catatan ini, saya sedang menunggu pesawat menuju Washington DC, Amerika Serikat. Saya mendapat kesempatan dari Kemlu AS untuk belajar jurnalistik investigasi bersama sekitar 20 jurnalis lain dari beberapa negara di kawasan Pasifik.


Setiap kali saya hendak bepergian meninggalkan Indonesia dalam kapasitas sebagai jurnalis, saya selalu mengenang awal mula saya menjadi wartawan. Ketika itu saya ingin bekerja setelah hampir enam tahun menjadi ibu rumah tangga tanpa PRT. Tanpa pengalaman kerja dan sudah berusia 30 tahun, saat itu sukar mendapatkan pekerjaan. 


Sebagai lulusan Mikrobiologi Industri dari Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, saya merasa terlalu terlambat untuk berkarir di bidang saya. Namun Tuhan membuka jalan dengan mempertemukan pada lowongan pekerjaan yang dimuat di sebuah harian nasional. Iklan tanpa nama perusahaan, tanpa logo itu iklan lowongan pekerjaan yang memberi batasan umur maksimal 30 tahun (umumnya 27 tahun). Setelah tes dan proses seleksi, saya diterima di KBR tanpa pernah kenal apa itu jurnalisme. Modal saya terjun menjadi wartawan cuma sepotong tulisan di kolom mahasiswa yang dimuat tahun 1994 di Suara Merdeka yang berjudul "Haruskah Kita Menolak PLTN". Namun KBR memberi kesempatan pada saya. Kesempatan yang sangat berharga.


"Kesempatan" adalah kata yang luar biasa berarti bagi saya, khususnya sepanjang saya menjalani profesi ini. dan Jika KBR tidak memberikan kesempatan, bisa jadi saya tidak akan pernah menjadi wartawan, profesi yang akhirnya saya cintai dan nikmati. 


Ada rasa bangga menjadi alumni KBR. KBR memang mendidik saya dengan baik. Selama 5 tahun "bersekolah" di KBR saya belajar bagaimana menghasilkan karya jurnalistik yang bermutu, idealis dan independen. Salah satu pesan dari mentor yang terus membekas hingga kini adalah, "jangan pernah mewawancarai  koruptor kecuali isi wawancara adalah tentang kasusnya". Selain batasan ketat bagi narasumber yang bisa kami kutip, pemilihan isu KBR pun tidak biasa. Sajian berita yang bisa didengar hingga pelosok Nusantara ini khas dan kadang cuma bisa dinikmati dari stasiun radio ini. 


Dalam hal melindungi kaum minoritas, radio ini mampu menjadi medium bagi mereka yang tak sanggup bersuara. Ruang redaksi, khususnya melalui milis redaksi menjadi arena pertarungan idealisme dan gagasan yang menyenangkan. Ada perdebatan, humor dan kritik yang memerahkan kuping pemerintah. Di "sekolah" ini, saya mengagumi kebebasan beropini terhadap isu dan tema yang menjadi konten siaran kami, sesuatu yang saya pikir cuma ada di UKSW.  


Di KBR, kebebasan beropini itu terbukti menjadi salah satu cara membangun kekritisan kami di ruang redaksi dan tertuang dalam isi pemberitaan. Perdebatan ide, gagasan dan kritik melalui email inilah yang sungguh membikin kangen karena saya tidak menemukan ini di media tempat saya bekerja pasca KBR.  Selain mendidik kami dalam berkarya, KBR membentuk kami menjadi wartawan yang baik dan benar, jika boleh dikatakan begitu. Di tengah "amplop" yang merajalela, jurnalis KBR paham betul bahwa haram hukumnya bagi kami untuk menerima uang dan barang dari narasumberKeberpihakan pada publik, menempatkan kebenaran di atas kepentingan pihak tertentu adalah roh KBR  yang masih melekat pada saya hingga sekarang.


Kini 12 tahun sudah saya menjadi wartawan. Berawal dari sepotong kesempatan dari KBR sebagai  wartawan radio dan sekarang, kebetulan dapat kesempatan menjadi wartawan televisi, saya sangat bersyukur pernah bekerja di KBR. Saya sangat berterima kasih untuk kesempatan yang diberikan oleh para pengambil keputusan saat itu. 


Tak lupa, saat ini saya ingin berterima kasih kepada Maesa Samola yang telah memberikan kesempatan bagi KBR untuk menggunakan frekuensi 89,2 FM selama belasan tahun ini. Saya rasa kerelaan Maesa Samola selama ini patut diapresiasi.


Berkat begitu banyak orang yang bersedia memberikan kesempatan, KBR bisa hadir mengisi ruang dengar Anda. Kini KBR "kembali" membutuhkan kesempatan agar dapat kembali menembus udara dan bersuara di antara bisingnya pengguna frekuensi di Jakarta. Idealisme idealnya tak pernah mati. Ia dapat berubah bentuk namun tak habis. Atas nama idealisme itu pula,  KBR68H mestinya mampu bertahan tanpa gelombang. Jika suara itu lenyap di udara Jakarta (saja), sudah saatnya penghuni dunia maya terpesona oleh tajamnya tulisan para jurnalis KBR. Dunia maya membuka begitu banyak kesempatan untuk menjual idealisme KBR. Inilah yang terpikirkan sementara saya menunggu di bangku merah bandara.


Semoga ada kabar baik bagi KBR demi masa depan industri pers Indonesia.



Alumni KBR, sekarang bekerja di Metro TV. 


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!