89.2 FM green radio hilang dari udara jakarta, siaran jakarta 89.2 FM KBR

Di sebuah studio siaran radio. Bergegas untuk mengabarkan kebakaran hutan di Kalimantan Tengah yang membuat penumpang pesawat terlantar. Bandara di Palangkaraya ditutup akibat kabut asap. 


Produser : “Siap-siap wawancara dengan pihak bandara yah!” *memberi aba-aba ke penyiar*


Penyiar : “OK... mainkan!”


Produser : “Nanti Tjilik Riwut di line 2 ya, line 1 untuk pendengar.” 


Penyiar : *mengangguk, tanda OK*


Produser : *mengacungkan dua jari, tanda line 2 sudah tersambung*


Penyiar : "Saudara kita akan memantau perkembangan terkini dari Palangkaraya dan sudah bersama kita ada Pak Tjilik Riwut… Selamat siang, Pak Tjilik.. Pak Tjilik Riwut, bisa mendengar suara saya dengan jelas? ‘


*Dari ujung telepon masih diam*


Produser : “OEEEEEEEEEEEEEEEEE ….TJILIK RIWUT ITU NAMA BANDARA, bentar ini nama petugasnya masih di-chatting” *teriak memekakkan telinga*


Penyiar : *merah padam, mendamba buku pintar yang ada nama-nama bandara se-Indonesia*


***


Masih pagi, di Studio Siaran, acara talkshow kali itu membahas prestasi tim bulutangkis Indonesia di ajang Piala Sudirman. 


Penyiar  1: “Yup.. Kita bergeser dulu Qingdao, China. Kabar buruk karena Indonesia tersingkir dari ajang Piala Sudirman.”


Penyiar  2 : "Iya sayang sekali Indonesia gagal membawa pulang Piala Sudirman. Padahal piala ini sangat istimewa, namanya saja Sudirman ya. Merujuk pada Pahlawan Nasional kita Jenderal Sudirman." 


*tiba-tiba produser menerobos masuk ruangan*


Produser : “Itu bukan Jenderal Sudirman, itu nama Sudirman diambil dari nama tokoh perbulutangkisan Indonesia, Dick Sudirman, salah satu pendiri PBSI . 


Penyiar 2 : *merah padam pede melakukan klarifikasi* 


***


Penyiar : *menatap layar komputer, ada pesan masuk dari produser dadakan saat siaran "Guru Kita" (dulu mengudara setiap Kamis pukul 20-21 WIB -red) dengan narasumber: Suparman*..


*akhirnya mengalir dialog lewat chatting*


Produser : “Ehh salam ya buat anaknya Pak Suparman.”


Penyiar : “Loh kenal toh?.’


Produser : “Kenal, masak nggak tahu, anaknya keren loh.”


Penyiar : “Tahu dari mana?”


Produser : “Yaaa tahu saja lah…”


Penyiar : “Memang siapa anaknya?”


Produser : “Anaknya Suparman khan Superboy…”


Penyiar : *usai siaran gaplok si produser*..


***


Kejadian-kejadian di atas bukanlah direkayasa.  Namun betul-betul terjadi di sebuah studio siaran di wilayah Utan Kayu, Jakarta Timur.  Saya sengaja mengumpulkan penggalan demi penggalan saat “belepotan” siaran itu.  Peristiwa yang boleh dikata memalukan, namun selalu memancing senyum jika mengingatnya. Kisah yang terjadi ketika saya berhadapan dengan mic saat siaran dalam program-program yang diproduksi oleh KBR68H. Cerita di atas sekaligus membuktikan banyak gelak tawa menjadi bumbu di antara keseriusan ketika bekerja di kantor berita yang  memiliki 700 radio jaringan di seantero negeri ini.  


Tak ada sekat  di antara kami untuk saling bercengkerama di ruang redaksi yang biasanya terkenal senyap.


Yaa.. selama 10 tahun saya menjadi bagian dari keluarga besar KBR68H.  Hijrah dari PTPN FM di Solo ke Jakarta untuk bergabung dengan KBR68H menjadi reporter.  PTPN FM adalah radio jaringan yang menyiarkan sejumlah program KBR68H, sehingga ketika menginjakkan kaki di halaman Utan Kayu 68H, kantor berita ini sudah tak asing lagi bagi saya.  Apalagi, saya juga mengambil tema soal produksi berita radio untuk skripsi dan lagi-lagi KBR68H menjadi bahan penelitian saya. 


Tak butuh waktu lama bagi saya untuk mengirim surat lamaran ketika membaca pengumuman lowongan di KBR68H yang terpampang jelas di koran nasional kala itu. Sejak masih menjadi reporter radio jaringan, saya memiliki keinginan kuat untuk bergabung dengan KBR68H. Ketika akhirnya diterima, maka petualanganpun dimulai. Tak susah menyesuaikan diri dengan lingkungan yang asyik, dan senior yang tak pelit membagi ilmunya kepada para pendatang baru.  


Selama satu dekade saya berakrab ria dengan radio, mulai dari liputan hingga siaran dan terakhir menjadi bagian dari www.portalkbr.com.  Kemewahan itu berupa ilmu, di sinilah  kami belajar yang akhirnya membentuk karakter penghuninya.  Kami selalu ditekankan untuk merawat keberagaman, menghargai perbedaan, dan mengeluarkan pendapat tanpa rasa takut.  Sudah begitu banyak yang diberikan KBR68H kepada saya, kesempatan untuk maju, pelatihan demi pelatihan, hingga sejumlah piagam penghargaan yang menjadi pengakuan atas hasil karya saya.  Semua itu menjadi hal yang sangat dan sangat berharga.  


Maka ketika mendengar kabar bahwa program KBR, juga Green Radio, segera menghilang dari udara Jakarta, rasanya begitu sesak, sedih. Ini terkait dengan frekwensi yang selama ini menjadi tempat KBR dan Green Radio menyapa pendengar di Jakarta. Seperti yang dipaparkan oleh mas Tosca Santoso, Direktur Utama KBR, frekuensi FM 89.2, tempat KBR dan Green Radio bersuara akhirnya berganti pemilik.  


Berjuang adalah sebuah kata yang akrab bagi kami yang pernah tinggal di lingkungan Utan Kayu. Semangat yang selalu digelorakan agar tak mudah menyerah.  Seperti janji yang diungkapkan Mas Tosca (Tosca Santoso, Dirut KBR - red),  yang tak ingin mengubur harapan pendengar dan akan berusaha keras mencari cara agar siaran KBR tetap mengudara, maka saya yakin pasti ada SOLUSI.  Dan kami masih akan terus menikmati program bermutu dari KBR.  


Penulis kini berkarya di Metro TV 

 

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!