89.2 FM green radio hilang dari udara jakarta, siaran jakarta 89.2 FM KBR

Mendengar kabar bermula dari rekan sekantor, bahwa saudara kami di Jakarta, Green Radio, akan hilang dari frekuensi, untuk memastikan kabar itu rekan saya, mengirimkan via BBM tulisan Mas Tosca, Direktur Utama KBR, grup media kami yang diposting di akun FB. Tulisan itu tertanggal 8 November 2014.


Kabar it uterus terang awalnya membuat saya risau. Bagaimana tidak? Pikiran saya langsung jauh melompat terhadap masa depan radio secara umumnya, karena saya cukup lama berkecimpung di dunia ini. Kemudian kerisauan saya diikuti dengan pertanyaan-pertanyaan yang juga sulit untuk di jawab dengan kondisi sekarang. Bagaimana untuk bisa tumbuh, bertahan hidup saja, dunia radio sulit, namun sudah tahu begitu, saya akhirnya senyum sendiri… Teringat kembali bersama beberapa kawan-kawan yang ada di Green Radio Pekanbaru saat ini. Kami pernah mengalami, tanpa frekuensi, tanpa studio, bahkan tanpa identitas radio, kami terus bergerak arahnya tetap mengedapankan berjuang berkarya di dunia radio (berharap ada radio lagi).

 

Pada suatu ketika sesuatu terjadi menyedihkan, kata-kata putus, antara dua pihak yang sedang menjalin kerjasama. Pemegang frekuensi radio dan pemegang merek radio ternamalah ada di 9 kota di Indonesia. Saat itu kami bergabung di sana, tepatnya di Kota Pekanbaru, radio yang cukup tersohor di tanah air. Kami berkarya di sana dengan jiwa dan semangat yang terus menjalar. Menjadi insan radio membanggakan, yang tidak di pandang sebelah mata oleh banyak pihak, apakah karena merek dagang yang digunakan begitu terkenal atau karena pemilik dari pemegang frekuensi tersebut juga pengusaha yang terkenal,sukses, padahal tidak tamat Sekolah Dasar.


Yang jelas kami yakin saat itu tidak ada radio di Pekanbaru, yang berjalan seperti kami, nendang di udara bahkan di darat, begitu kami menyebutnya. Maksudnya, output yang dapat diterima oleh publik Pekanbaru. Sangat luar biasa. Di udara, kami menyajikan program lokal, budaya Melayu dalam smart culture, publik bicara, selain program berjaringan yang banyak terkait motivasi dan marketing. 


Pada kegiatan di darat, off air salah satunya, kami membuat kegiatan di bantaran Sungai Siak, Kota Pekanbaru. Terus terang kegiatan ini sangat mendalam tertinggal di hati dan pikiran kami. Kami merasa terpanggil untuk memberi perhatian terhadap satu-satunya kekayaan alam yang diberikan Tuhan untuk warga Kota Pekanbaru yaitu Sungai Siak. Tetapi kenyataannya Sungai Siak tidak terjaga, tidak mendapat perhatian oleh pemerintah, pabrik karet bisa beroperasi di sekitar sungai, ikan-ikan sungai menurut nelayan sungai sudah berkurang, akibat rusaknya kehidupan di sungai. Makhluk di dalamnya tidak mampu bertahan hidup. Tetapi apa yang kami bisa lakukan? 


Saat kami terpanggil untuk berbuat, radio tempat kami berkarya mendapat persoalaan antara pemegang merek dan pemegang frekuensi, ingin melepas kerjasama. Persoalan hanya karena sistem kerjasama yang awalnya saling terbuka dan saling percaya, belakangan bisa pupus melihat pergerakan radio baik di udara maupun di darat semakin bergerak cepat.


Dalam kasus ini, saya pada posisi depan gerbong ingin adil sebagai pekerja. Kami berharap keduanya sebaiknya terus bekerjasama. Tetapi kami tidak didengarkan malah justru memberikan opsi-opsi yang tidak mengenakkan untuk kami terus berkarya di situ. Pemegang frekuensi ingin kami terus berjalan dengannya tanpa menggunakan merek dagang, dimana kami sangat paham karakter usaha di bawah kepemilikkan si owner tidak mengedepan kepentingan banyak pihak, hanya beberapa golongan. 


Lalu tawaran untuk terus berkarya juga datang pada pemegang merek. Saya ditawarkan untuk berada di kota lain. Saya tidak tertantang dengan apapun tawaran saat itu. Saya kecewa atas putusnya kerjsama terjalin. Lalu bagaimana dengan kami di dalamnya? Saya meragukan kebijakan mereka, menarik saya untuk di tempatkan di kota lain. Sedangkan saya berpikir ada banyak hal yang saya perjuangkan di kota Pekanbaru. Saya pada akhirnya memutuskan tidak menerima kedua tawaran tersebut. Pertama, karena hal yang saya katakan tadi. Kemudian saya memikirkan team yang tidak diberikan kesempatan seperti saya, akan saya biarkan begitu saja


Pengalaman yang memilukan ini banyak lagi yang hendak saya share kepada teman-teman saya  tujuannya adalah ingin menyampaikan bahwa begitu kita berkarya di dunia radio penuh imajinasi dan ide-ide untuk menggarap informasi, begitu kita juga kita terbelenggu oleh persoalan yaitu frekuensi. Perjalanan usaha bisa saja terjadi terjadi, tetapi uniknya orang yang berkecimpung di dunia radio, tidak begitu begitu mudah meninggalkan kecintaan kepada radio seperti layaknya cinta pertama yang meninggalkan bekas sepanjang hidup… Bisa-bisa balik lagi bila meninggalkan.


Dan perlu juga untuk diketahui atas kejadian yang pernah kami  alami, keadilan yang kami inginkan ditunjukkan di muka bumi saat ini, pemegang merek tersohor itu tak lagi mampu mempertahankan mereknya akhirnya di pindahtangankan. Dan pemegang frekuensi radio Pekanbaru berjalan di tempat.


Sedangkan kami yang di dalamnya, kejadian itu menghantarkan kami berada di Green Radio yang berada di Pekanbaru. Dengan rasa yang tulus mendukung perjuangan kami yang berkaitan isu lingkungan  di Riau dan Kota Pekanbaru, Mas Tosca Direktur Utama Green Radio memayungi dengan menghadirkan Green Radio di Kota Pekanbaru, yang nota bene berinduk dengan Green Radio Jakarta. Kami kembali berjuang di udara. 


Perlu kita renungkan bersama, saat ini radio hadir untuk kepentingan public atau kepentingan usaha. Sedangkan Green Radio bisa tumbuh dari kota mana saja. Bermula di Jakarta, bergerak ke Pekanbaru, besok lusa bisa saja ada di kota-kota lain di Indonesia. 


Penulis adalah Station Manager Green Radio Pekanbaru. 


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!