sekolah muslim di australia al zahra

Sebuah sekolah muslim bernama Al Zahra terletak di 3-5 Wollongong Road Arncliffe New South Wales Australia. Di luar gedungnya yang megah dengan teras berbentuk kubah, saya tak menyangka akan mendapat pengalaman sangat berharga di dalamnya.


Saya dan tiga teman peserta Indonesia-Australia Muslim Exchange Program 2013 tiba di Al Zahra hari Kamis, 10 April 2013, pukul 09.00 pagi. Menunggu beberapa saat di teras gedung sekolah tak membuat saya bosan. Beragam foto prestasi dan lukisan khas Aborigin dipajang di dinding memanjakan mata. Pada satu sudut teras, sebuah rak menyediakan brosur dan terbitan lain yang memuat informasi tentang sekolah. Al Zahra adalah sekolah Muslim Syiah yang mulai beroperasi tahun 1998, di bawah kebijakan Masjid Al Zahra yang merupakan Komunitas Libanon. Jika dulu sekolah ini masih menggunakan lahan sewaan di dekat masjid, ia sekarang sudah berdiri di lahan terpisah.


“I am not a Muslim,” aku Kepala Sekolah yang menemui kedatangan kami di ruang tamu. “Lalu apakah Bapak menemui kesulitan selama di sini?” tanya Fina, kawan saya. Ia pun menjelaskan bahwa sebelumnya ia pernah tinggal di Abu Dhabi selama dua setengah tahun, dan mendapat pengalaman di sebuah sekolah muslim yang tentu tidak jauh berbeda dengan tempat kerjanya sekarang. Ia berhadapan dengan murid-murid Muslim dan juga segala ketentuan yang berhubungan dengan ajaran dan komunitas Muslim. Jadi, selama hampir satu tahun di Al Zahra ia relatif tak menemukan kesulitan.


Yang menarik adalah tentang studi agama yang dilakukan di sekolah ini. Studi agama memberikan cukup informasi kepada para siswa tentang ragam agama, tidak hanya Islam dan ajaran-ajarannya. Tetapi juga studi tentang agama lain dan sejarah. Mereka diajak untuk mengetahui suatu agama, membandingkan untuk menemukan komunalisme di antara agama-agama tersebut. Dalam Islamic studies, misalnya ,mereka melakukan diskusi tentang film, musik, atau hubungan antara remaja putera dan puteri dari berbagai perspektif. “Baru-baru ini kami mendiskusikan film Noah. Jadi bagaimana isi film sesuai dengan kepercayaan Muslim, apa yang mereka sukai dan tidak sukai, mengapa mereka tidak suka. Lalu bagaimana film itu jika dilihat dari perspektif Kristen,” jelas Kepala Sekolah. 


Selain pemahaman atas perbedaan agama, di sekolah ini para murid juga belajar memahami perbedaan pilihan tentang jilbab atau penutup kepala bagi murid perempuan. Jika di sekolah-sekolah Muslim di Indonesia seluruh murid perempuan harus berjilbab, tidak demikian dengan Al  Zahra. Ketika saya dan teman-teman berkeliling gedung sekolah, dari empat murid perempuan yang mengantar kami, dua orang tidak berjilbab. Dan masih banyak murid perempuan lain tanpa penutup kepala, demikian juga dengan gurunya. Lalu dengan fasih salah seorang dari mereka mengatakan bahwa mereka menghormati pilihan setiap orang untuk berjilbab atau tidak, karena mereka paham mereka berasal dari budaya, lingkungan, dan tentu latar belakang keluarga yang berbeda-beda. 


Pendidikan toleransi di Al Zahra diwujudkan dalam pembelajaran-pembelaaran yang natural untuk menerima dan menghormati perbedaan. Kita mungkin sudah biasa mendengar istilah toleransi, namun menerima kehadiran seseorang beragama lain di lembaga pendidikan kita, sepertinya sulit dilakukan. Tanpa adanya trust tidak mungkin sang Kepala Sekolah bisa diterima di sekolah muslim ini. Dan bagi saya Al Zahra berhasil menunjukkan satu bentuk toleransi yang nyata.



Penulis adalah Ketua Komunitas Penulis Matapena. 


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!