toleransi, misa, pesantren, pekan studi islam

Sedangkan mentari gak pernah memilih


Pada siapa sinarnya ‘kan menerpa


Sedangkan air hujan gak pernah jatuh 


Tuk basahi segelintir kepala..


Sore hari di Gereja Santo Lukas Sunter sesaat setelah berlatih persiapan acara, seorang kawan pengurus Mudika (Muda-Mudi Katolik) memberitahukan program dari Komisi Kepemudaan Keuskupan Agung Jakarta. Progam tersebut diberi nama Pekan Studi Islam (PSI), peserta diberi kesempatan untuk tinggal dan belajar di sebuah pesantren. Tanpa berpikir panjang, saya segera menyatakan kesediaan untuk mengikuti program bersama seorang kawan mewakili gereja kami. 


Hari pelaksanaan program tiba kami kurang lebih 30 orang dari pihak Mudika Katolik menuju pesantren di Batu Ceper Tangerang milik seorang K.H. Noer Iskandar, S.Q. Pendamping kami dari kawan-kawan Muslim dari orang muda Nadlatul Ulama. Sesampainya kami memasuki gerbang pesantren mulai terlihat tempat yang cukup luas dengan lapangan sepak bola dikelilingi bangunan pesantren. Senyuman menyambut ramah kedatangan, seolah berkata “Selamat datang saudaraku ke rumah kami”. 


Selama empat hari tiga malam atau dari Kamis sampai dengan hari Minggu kami berkumpul, bermain dan belajar saudara-sebangsa. Beberapa materi kami dapatkan antara lain konsep ketauhidan, aqidah, jihad dan lainnya kemudian di hari terakhir ada sharing tentang Bunda Maria dari narasumber Katolik.  Pada setiap sesi kami bebas bertanya tentang segala hal, sehingga dapat memahami secara tepat. Saat itu isu terorisme sedang hangat dibicarakan masyarakat setelah peristiwa 9/11 di Amerika Serikat, banyak pertanyaan tentang Jihad. Dan kami mulai terbuka bahwa maknanya tidaklah seperti yang kami peroleh dari media secara sepotong-potong. 


Pemilik pondok pesantren menyempatkan diri untuk memberikan pembekalan kepada kami semua baik peserta maupun fasilitator dan berharap ini menjadi awal baik untuk orang muda Muslim dan Katolik sebagai anak bangsa. Tentu acara tidak selalu serius namun diselingi beberapa permainan, nyanyi bersama, pertandingan persahabatan sepak bola, dan pentas seni pada malam hari saat kami saling menghibur dengan kebolehan masing-masing.


Secara pribadi banyak proses interaksi di dalam pesantren membuat saya lebih memahami makna berbagi. Contohnya saat makan kami melihat bagaimana para santri berbagi dalam sebuah wadah besar, makan secara berkelompok lauk-pauk di tengah dan masing-masing mendapat porsi nasi. Ini kemudian kami ikuti cara tersebut sehingga jika ada teman yang tidak dapat menghabiskan makanan dapat dibantu begitu pula sebaliknya. 


Program PSI  berakhir hari Minggu, bagi kami umat Kristen Katolik adalah waktu untuk pergi ke gereja untuk beribadah atau dikenal secara umum dengan Misa. Pemilik pesantren membuka diri dan mempersilahkan untuk kami mendatangkan seorang pastur untuk memimpin misa hari Minggu pagi bagi kami peserta dan kawan-kawan fasilitator Katolik. Sungguh indah dan memberi kesejukkan dapat beribadah di tengah saudara kami sebangsa dengan baik. 


Program ini tentu tidak berhenti saat kami menaiki bus dan meninggalkan pesantren di Batu Ceper kembali ke tempat kami masing-masing. Ada beberapa follow up dari program ini yang bisa kami laksanakan bersama. Beberapa diantaranya adalah kunjungan santri pondok pesantren Asshiddiqiyah ke Gereja Katedral Jakarta, Dialog Lintas Iman di Jombang Ciputat dan pelatihan Jurnalistik di PMII Ciputat dengan pembicara jurnalis muda Katolik dan lain-lain. Pengalaman unik setelah kami memfasilitasi kunjungan berkeliling komplek Katedral Jakarta secara spontan terlontarnya bagaimana jika kawan-kawan muslim memandu kami memasuki Masjid Istiqlal. Secara pribadi sewaktu kecil saya sering masuk ke dalam masjid untuk berbagai hal tetapi ini berbeda karena merupakan yang terbesar di Asia Tenggara. Kami akhirnya memperoleh kesempatan istimewa meskipun dari sejarahnya dirancang oleh seorang arsitektur Kristen pada masa Soekarno, jauh sebelum Imam Masjid Istiqlal memandu Presiden Amerika Serikat Barrack Obama dan istri  ke tempat yang sama.


Beberapa tahun setelahnya bersama kawan-kawan mahasiswa di Sampoerna Foundation Teacher Institute kami berkesempatan memberikan pelatihan untuk para santri pada sebuah pondok pesantren sederhana di Sawangan Depok. Ini memberi suatu petunjuk yang jelas bahwa perbuatan kecil jika dilakukan secara tulus akan berjejaring dan berbuah efek positif dimanapun kita berada. 


Program Pekan Studi Islam mungkin saat ini sudah tidak ada lagi tetapi kesadaran untuk saling menghormati sesama ciptaan-Nya pasti terus berlanjut, seiring bumi masih menjadi tempat tinggal bersama kita dan anak cucu. Mari hidup berdampingan dan saling melengkapi satu dengan lainnya sehingga Indonesia menjadi sejahtera dan berkeadilan untuk semua. 


Warna-warni pelangi indah menggoda


Semua mata yang sempat menyaksikannya


Dan gak ada yang mampu menguasai


Embun pagi ‘tuk diri sendiri …


(Lagu  PSI 2002 oleh Felix I.W.)



Penulis adalah Guru Sejarah SMA dan mantan Koordinator Mudika Paroki Santo Lukas, Sunter Agung.


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!