waria, kebaya, miss kebaya, Rebecca Henschke

Saya disodori map merah dan pulpen hitam. Kami diminta memperhatikan penampilan keseluruhan, gaya di atas panggung catwalk dan keserasian kebaya. Di depan saya ada karpet merah panjang digelar dan sebuah panggung, di Wisma PKBI Jakarta Selatan.

Saya menjadi satu dari empat juri yang mendapatkan tugas berat: memilih Miss Kebaya Waria Indonesia. Ini adalah malam penutupan pemilihan Ketua Forum Komunikasi Waria Indonesia dan di ruangan ini ada 150 waria dari Aceh sampai Papua. Ini adalah saatnya bagi generasi tua untuk bersinar. Yang boleh mendaftar di ajang ini hanya yang berusia di atas 35 tahun.

Sembilan kontestan sudah bersiap berjam-jam sebelumnya. Setiap detil penampilan mereka telah dipoles dan diperdebatkan. Musik yang berdentum dari speaker berasal dari gamelan tradisional, mengiringi langkah para kontestan di atas catwalk ditimpali riuh rendah tepuk tangan penonton.

Peserta nomor 3, Ibu Yuni, tampil dengan kebaya biru dan emas yang berkilauan. Dengan hati-hati ia berjalan di atas catwalk dengan tiara di kepalanya. Wajahnya seperti boneka yang tengah tersenyum.  Matanya yang berlapis perona biru terang menyapu ke seluruh ruangan.

Penonton langsung tertawa gembira begitu datang kontestan nomor 6, Nurul. Dengan genit ia menggoyangkan tubuhnya ketika berjalan di atas karpet merah. Begitu melewati saya, dia mengedipkan matanya kepada saya.

Yang mewakili Papua adalah Bunda Aan yang tampil dengan kebaya hijau dan emas.

Peserta nomor 7 adalah Eka Pratiwi. Kebayanya diberi sentuhan modern - di depan ada pita besar dan roknya sangat ketat membalut tubuh.

Malam ini bukan kontes kecantikan biasa. Ini adalah malam yang langka, di mana setiap waria bisa menjadi diri mereka sendiri dan mengekspresikan diri, terbebas dari pandangan yang menghakimi.

Di antara penonton ada waria muda asal Aceh yang memakai gaun ketat bunga-bunga dan sepatu hak tinggi. Dia hanya bisa berpakaian seperti ini kalau berada di luar daerahnya. Di Aceh, dia adalah seorang laki-laki. Khusus pekan ini di Jakarta, ia bisa jadi dirinya sendiri.

Ini adalah sebuah perayaan, sekaligus urusan yang serius. Tiga juri lainnya dan saya berkumpul di ruangan belakang. Nilai yang sudah kami berikan dijumlah. Selisih nilai terlalu kecil untuk menentukan siapa pemenangnya malam ini. Kami memilih lima kontestan terbaik dan memanggil mereka kembali ke atas panggung.

Mereka harus menjawab satu pertanyaan. Saya bertanya kepada kontestan nomor 2, H. Agung, apa yang akan dia lakukan kalau jadi Menteri Luar Negeri Waria - negara mana yang akan dikunjungi dan apa pesan yang akan dibawa soal waria di Indonesia? Dia menjawab, dia bakal pergi ke Paris dan mengabarkan pada orang-orang tentang desainer baju kelas dunia yang dimiliki Indonesia.

Pertanyaan lain menyoal kenyataan pahit yang harus dihadapi banyak waria setiap hari. Mereka ditanya soal apa yang akan dilakukan saat berhadapan dengan Satpol PP di daerah mereka dan bagaimana perlakuan tetangga di sekitar?

Dengan nada pelan mereka berkata kalau warga menerima mereka dengan baik dan kalau mereka bisa bekerjasama dengan polisi.

Tapi saya sudah pernah mewawancarai banyak waria di ruangan ini dan setiap kali mereka bercerita tentang kisah hidup mereka, mereka menangis. Kebanyakan dari mereka ditolak keluarga, mengalami kekerasan di jalanan dan harus berkutat dengan diskriminasi setiap hari. Tapi acara malam ini adalah untuk merayakan keberadaan komunitas waria sejauh ini dan berbangga hati akan komunitas yang sangat beragam dan menyenangkan ini.

Sekarang saatnya untuk mengambil keputusan. Kami kembali ke ruangan hijau dan dengan berhati-hati menjumlah penilaian. Kami sudah dapat pemenangnya: H. Agung, waria yang ingin pergi ke Paris. Dia tampak anggun dengan kebaya merahnya yang mempesona. Tiara dipasang dan penonton bertepuk tangan. Sembilan waria lainnya pulang dengan berbagai hadiah dari beragam kategori.

Satu waria di tengah penonton marah, meneriaki kami para juri yang disebutnya telah mengambil keputusan yang salah. Sementara yang lainnya tampak cukup puas.

Saya senang menghabiskan waktu bersama pemimpin waria Yulianus Rettoblaut dan teman-temannya.

Saya mengagumi kekuatan mereka, selera humor mereka yang lucu, kegembiraan dan kecintaan mereka pada busana. Saya mengagumi Indonesia karena acara seperti ini bisa berlangsung.

Saya harap 20 tahun dari sekarang Miss Waria Indonesia bisa ditayangkan di televisi nasional.

Penulis adalah editor program Asia Calling di KBR, warga negara Australia yang sudah tinggal di Indonesia selama lebih 10 tahun.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!