momentum PDI Perjuangan, Megawati memilih Jokowi dalam pemilu presiden

Periode kedua (1993-2013) adalah periode PDI di bawah kepemimpinan Megawati, setelah kongres luar biasa tahun 1993 di Surabaya di mana Megawati terpilih secara aklamasi. Di awal periode ini selama hampir 4 tahun juga diwarnai usaha pemerintah Soeharto untuk memecah belah PDI. Pemerintah Soeharto agak terancam dengan PDI di bawah kepemimpinan Megawati, dan berusaha mendongkel Megawati sebagai ketua umum lewat Soerjadi dalam kongres PDI di Medan tahun 1996. Megawati tidak menerima dan menganggap Kongres Medan tidak sah, serta berusaha untuk melawan dan mempertahankan kepemimpinannya.

Ini yang membuat pemerintah kalap, dan puncaknya diwujudkan dalam bentuk dukungan pemerintah terhadap Soerjadi  merebut kantor DPP PDI pada tanggal 27 Juli 1996. Peristiwa ini menimbulkan banyak korban luka dan kematian, serta penangkapan para aktivis.  Yang justru tidak dibayangkan oleh pemerintah Orde Baru, momen  ini justru  lebih memperkuat perlawanan kubu Megawati, tidak hanya kepada Surjadi juga kepada pemerintah Orde Baru. Dan pada pemilu tahun 1997, suara PDI dibawah Surjadi anjlok total.

Perlawanan terhadap pemerintah Soeharto, terus berlanjut dan sampai akhirnya Soeharto jatuh tahun 1998, yang kemudian dilanjutkan pemerintah transisi selama 1 tahun, sampai Pemilu 1999 diadakan. Dalam pemilu 1999, PDI mengubah namanya menjadi PDI Perjuangan, dan berhasil memenangkan pemilu tersebut.

Sejarah perjuangannya bersama PDI saat melawan Soeharto dan simbol nasionalisme yang melekat pada dirinya sebagai putri Bung Karno, selain memenangkan pemilu 1999, juga memudahkan Megawati untuk memperkuat keputusan-keputusan yang dibuatnya dalam mengelola partai ke depannya. Hasil pemilu tahun 2004 dan 2009, walau belum bisa mengulangi prestasinya di tahun 1999, tetapi posisi PDI Perjuangan tetap masuk dalam kelompok partai 3 besar. PDI perjuangan di bawah Megawati, dengan dinamika yang ada di internalnya tetap stabil dan nyaris tanpa gejolak sampai tahun ini menjelang Pemilu 2014.
 
Momentum Kemenangan

Sudah 2 periode PDI Perjuangan menjadi oposisi. Tapi oposisi bukanlah tujuan. Oposisi adalah pilihan saat kekuasaan belum berhasil diraih. Tugas oposisi untuk mengoreksi dan menunjukkan cara alternatif bagi penguasa, bagaimana mengelola negara sesuai dengan program dan ideologinya.

Menjalankan tugas ini, selain untuk mengoreksi penguasa, sekaligus juga memberi penjelasan kepada masyarakat tentang kemampuan oposisi, jika oposisi memiliki kesempatan untuk mengelola negara. Dan 10 tahun, merupakan waktu yang cukup panjang sebagai oposisi. Tujuan berkuasa untuk mengelola negara dengan baik demi kesejahteraan rakyat harus diraih. Bagi PDI Perjuangan memenangkan pemilu bukan hanya penting sebagai syarat untuk berkuasa, juga penting untuk memperkuat konsolidasi organisasinya paska Megawati.

Kongres sebagai bagian dari proses konsolidasi jika diisi dengan kemurungan akibat kekalahan, akan semakin sulit untuk mencapai jalan konsolidasi. Yang ada hanya akan memunculkan “suasana gerah” dan semangat evaluasi untuk mencari kesalahan. Selama ini dinamika di internal partai selalu dapat diatasi oleh Megawati dengan karismanya. Mekanisme partai dalam menyelesaikan konflik belum teruji untuk itu. Ini bukan suatu hal yang menakutkan, tetapi justru menjadi momentum untuk persiapan pemenangan pemilu dan persiapan untuk menuju proses pergantian kepemimpinan secara sehat di tubuh partai.

PDI Perjuangan tidak kekurangan kader. Di bawah Megawati, yang duduk di pimpinan pusat partai adalah orang-orang yang berkualitas. Bahkan di antaranya adalah kader-kader muda yang tidak kalah kualitasnya, termasuk pula yang muncul dari kalangan keluarga. Ini modal besar untuk memperlancar estafet kepemimpinan.

Untuk memenangkan pemilu, peran Jokowi akan sangat besar bagi PDI Perjuangan. Dukungan masyarakat yang begitu besar terhadap Jokowi, tidak hanya berguna untuk memenangkan Pemilihan Presiden bagi dirinya, juga berpengaruh terhadap kemenangan PDI Perjuangan dalam Pemilu Legislatif.  Karena masyarakat yang ingin Jokowi terpilih menjadi presiden tentu akan mencoblos PDI Perjuangan yang telah mencalonkan idolanya, untuk memastikan agar Jokowi dapat terpilih.

Kemenangan pemilu akan membuat  kongres berjalan dengan produktif, yang jauh berbeda jika dilaksanakan dalam suasana kekalahan dan keterpurukan.  Sehingga tujuan kongres sebagai sarana untuk melanjutkan estafet kepemimpinan dan arah kemajuan organisasi akan tercapai.  PDI Perjuangan tidak hanya berhasil melewati periode 20 tahun keduanya, tapi juga memasuki periode baru dengan wajah baru yang menjanjikan masa depan, baik bagi partai maupun bangsa yang kita cintai.

*penulis adalah eksekutif pada sebuah grup perusahaan media di Jakarta, aktif mengikuti perkembangan sosial politik tanah air.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!