restu Megawati untuk Jokowi dalam pemilu presiden 2014

Dari 12 parpol yang akan bertarung dalam pemilu legislatif dan pemilu presiden 2014 nanti, PDI Perjuangan menjadi pusat perhatian. Pertama, walaupun masuk dalam golongan partai besar -- dalam survei terakhir LSI (September-Oktober 2013) memperoleh dukungan 18,7% suara -- dan menduduki urutan ke dua setelah Partai Golkar, PDI Perjuangan belum menentukan siapa calon presiden yang akan diusungnya.

Kedua, figur Jokowi yang melekat dengan PDI perjuangan setelah Megawati, adalah figur yang paling menarik perhatian publik dan media. Tak ada hari tanpa pemberitaan tentang Jokowi. Dan ini terbukti, Jokowi adalah figur yang memiliki elektabilitas tertinggi dalam setiap survei sampai saat ini.

Menunggu Putusan Megawati

Seluruh lapisan masyarakat, tidak hanya yang mendukung Jokowi, sangat menantikan keputusan PDIP tentang capres yang akan diusungnya. Tetapi masyarakat juga mengerti bahwa Megawati merupakan tokoh utama di PDI Perjuangan. Sehingga Jokowi hanya bisa menjadi capres yang diusung PDI Perjuangan, jika direstui dan didukung oleh Megawati.  Hampir semua pengurus maupun kader partai akan tunduk pada keputusan Megawati. Dan diantara pengurus dan kader tersebut, banyak pula yang berharap agar Megawati dicalonkan kembali oleh PDIP.

Posisi ini cukup berat bagi Megawati, di satu sisi harus berpikir tentang dukungan yang cukup besar dari para kader dan pengurus partai yang dipimpinnya, tapi di sisi lain kondisi obyektif menunjukkan begitu besarnya dukungan terhadap Jokowi, yang akan berpengaruh positif pada perkembangan partai kedepannya.

Begitu besarnya keingintahuan mengenai seberapa jauh dukungan Megawati terhadap Jokowi, membuat masyarakat selalu membaca setiap “tanda-tanda” yang menunjukan kedekatan Megawati dengan Jokowi, sebagai bentuk dukungan tersebut.

Hal menarik lainnya dari PDI Perjuangan, tahun 2015 PDI Perjuangan akan mengadakan kongres -- mekanisme tertinggi untuk menentukan pemimpin tertinggi partai. Kongres ini menjadi penting karena menyangkut regenerasi kepemimpinan di PDIP. Soliditas partai akan semakin kuat jika diselimuti oleh suasana kemenangan. Dan semangat untuk mendorong kemenangan dalam Pemilu legislatif 2014  ini juga ditegaskan oleh Rudi Harsa (Bung RH), mantan ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Barat, yang belum lama digantikan oleh TB Hasanudin, dalam diskusi informal dengan saya belum lama ini.

Dengan semangat RH berkata, “PDIP harus memenangkan Pemilu 2014, baik Pemilu legislatif dan Pemilu Presiden, karena ini merupakan pemilu terakhir bagi PDI Perjuangan di bawah pimpinan Ibu Megawati. Jika masih bersama Mega saja kita kalah, apalagi gak ada Mega dan konsolidasi partai makin sulit terwujud dalam kongres tahun 2015”. 

Kalimat tersebut mengandung semangat tetapi juga  kecemasan. Semangat untuk meraih kemenangan, juga kecemasan kemungkinan akan munculnya dinamika yang terlalu tinggi dalam kongres yang bisa menghambat proses konsolidasi jika kemenangan itu tidak dapat diraih. Hal itu bukan sekadar lupan emosional, juga suatu hal yang cukup beralasan, jika kita mengamati sejarah PDI Perjuangan itu sendiri yang penuh dengan dinamika. Dan pada dasarnya, sejarah PDI Perjuangan sampai saat ini bisa dibagi dalam 2 periode, periode awal dan periode di bawah kepemimpinan Megawati.

Perjalanan PDI Perjuangan Selama 20 Tahun
 
Sejak awal berdiri PDI (sebelum PDI Perjuangan) sampai PDI Perjuangan di tahun ini, perjalanan partai ini sudah memasuki usia 40 tahun. Entah suatu kebetulan atau tidak, periode awal berdiri sampai awal kepemimpinan Megawati berjalan selama 20 tahun, atau paruh waktu dari perjalanan partai ini. Periode paruh waktu (20 tahun) pertama 1973-1993, adalah periode awal berdiri dan perjalanan PDI di masa puncak kekuasaan Soeharto. 

Ini merupakan periode  kekisruhan, konflik dan perpecahan. Sejak awal berdiri pontensi konflik sudah tampak, jika melihat proses fusi yang sangat dipaksakan. Bagaimana 5 partai dengan ideologi dan sejarah yang sangat berbeda (PNI, Parkindo, Murba, partai katolik dan IPKI) harus bersatu, tentu hal yang sulit dan memerlukan waktu yang cukup lama. Tetapi proses ini harus terjadi  selama 3 tahun, dan  jika sampai tanggal 11 Maret 1973 fusi tidak terjadi, maka partai yang tak mau berfusi akan dibubarkan. Dan pada tanggal 10 Januari 1973 akhirnya fusi ke 5 partai itu terjadi dan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) berdiri.

Selain karena adanya potensi konflik yang muncul akibat fusi yang dipaksakan, juga  adanya upaya untuk selalu melamahkan ke dua partai di luar Golkar (PDI dan PPP), agar Golkar sebagai partai penyokong utama Orde Baru menjadi kuat untuk melanggengkan kekuasaan Soeharto. Dan tidak adanya figur yang benar-benar kuat yang dapat memimpin dan mempersatukan partai pada saat itu, yang mempermudah terjadi konflik dan perpecahan.

Bersambung ke Periode kedua (1993-2013)

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!