hari toleransi internasional, ahmadiyah, gki yasmin, SBY

“Pandangan saya terhadap Indonesia sudah berubah,”kata Irshad Manji.

Itulah kalimat yang keluar dari mulut penulis Islam liberal asal Kanada setelah massa dari ormas yang mengatasnamakan agama membubarkan secara paksa acara diskusi yang sedang berlangsung. Kejadian pada 2012 itu membuat Irshad Manji dan salah satu stafnya terluka.

Padahal, Irshad selama ini menganggap Indonesia sebagai negara yang pluralis dan toleran. Ia pertama kali datang ke Indonesia pada 2008. Ketika itu, Irshad meluncurkan buku yang menarik perhatian umat Islam ultrakonservatif dan umat Islam transeksual. Dua kubu itu saling mengungkapkan pendapat dalam acara peluncuran buku tersebut tanpa terjadi aksi kekerasan.

Yang dialami Irshad belum seberapa. Jemaat HKBP Filadelfia di Bekasi, Jawa Barat tidak bisa melaksanakan ibadah di gereja yang selalu mereka kunjungi setiap hari Minggu. Sekelompok orang sudah menghadang sebelum mereka bisa masuk ke gereja tersebut untuk melaksanakan ibadah.

Massa meminta jemaat HKBP Filadelfia untuk tidak lagi beribadah di gereja tersebut dan pindah. Karena dihadang massa, setiap hari Minggu jemaat HKBP Filadelfia melakukan ibadah di depan Istana Negara. Mereka bergabung dengan jemaat GKI Yasmin Bogor yang juga mengalami nasib yang sama.

Gereja yang biasa dijadikan tempat ibadah disegel oleh warga Bogor. Atas perintah Wali Kota Diani Budiarto, jemaat GKI Yasmin tidak boleh melakukan ibadah lagi. Ada banyak alasan, mulai dari tuduhan sertifikat palsu hingga penolakan dari warga setempat. Padahal, hukum sudah berpihak kepada jemaat GKI Yasmin pasca keluarnya keputusan Mahkamah Agung.

Jemaat Syiah dan Ahmadiyah juga bernasib tidak lebih baik. Di Sampang, Jemaah Syiah dipaksa meninggalkan kampung halamannya hanya karena mereka “berbeda” dengan masyarakat lain. Begitu juga dengan jemaah Ahmadiyah, yang sudah dicap sesat oleh Majelis Ulama Indonesia. Masjid tempat jemaat Ahmadiyah shalat di Pondok Gede Jawa Barat pada Mei 2013 lalu ditutup paksa dari luar.

Jemaat Ahmadiyah yang terkunci di dalam masjid tidak bisa keluar. Permintaan mereka untuk mendapatkan makanan sempat ditolak sebelum akhirnya polisi setempat turun tangan. Mereka dikucilkan dan juga diintimidasi hanya karena kepercayaan yang mereka anut tidak sama dengan kelompok mayoritas.

Yang lebih memprihatinkan lagi, Menteri Agama Suryadharma Ali justru tidak mencari upaya untuk menyelesaikan masalah ini. Dia justru lebih senang mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang menyudutkan kelompok minoritas. Pada Januari 2012, SDA mengatakan, Syiah adalah aliran yang bertentangan dengan agama Islam. Pernyataan itu dilontarkan setelah bertemu dengan anggota DPR dan kassu jemaat Syiah di Sampang tengah naik ke permukaan.

Belum cukup, SDA kembali berkoar-koar pada September 2012. Ia meminta jemaat Syiah untuk bertobat dan masuk Islam. Kalimat itu kembali dilontarkannya ketika hadir sebagai pembicara dalam Kongres Front Pembela Islam di Jakarta. FPI adalah ormas yang kerap melakukan intimidasi dan juga kekerasan kepada kelompok minoritas di negeri ini.

Berdasarkan data dari Setara Institute, tindakan kekerasan terhadap kelompok minoritas terus meningkat. Pada 2010, jumlahnya hanya 216 kasus dan tahun lalu sudah naik menjadi 264 kasus. Tahun ini juga tidak lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia. Dunia memberikan pujian ketika Indonesia dinilai telah berhasil menjalankan demokrasi ketika menggelar pemilu 1999. Dengan 17.000 pulau dan lebih dari 300 kelompok etnik serta 740 bahasa daerah, Indonesia adalah negara yang multietnis. Presiden SBY diganjar penghargaan Negarawan Dunia atas usahanya memperjuangkan toleransi di Indonesia.

Penghargaan yang sempat diprotes oleh kelompok minoritas yang hingga kini masih terintimidasi oleh ormas yang mengatasnamakan agama. Belum lagi sikap para pembantu Presiden SBY seperti Menteri Agama yang secara terang-terangan mengungkapkan ketidaksukaannya kepada kelompok minoritas.
 
Ditambah lagi pernyataan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi yang meminta pemda merangkul FPI, ormas yang dikenal anarkis dan kerap bersitegang dengan kelompok minoritas. Dengan semua kejadian di atas, mungkin kita harus bertanya kepada diri sendiri, masihkah Indonesia menyandang status sebagai negara yang pluralis dan toleran?

Masih belum terlambat untuk mengucapkan Selamat Hari Toleransi Internasional

Penulis adalah wartawan

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!