Ilustrasi. (KBR/Danny)

Ilustrasi. (KBR/Danny)

Hidup di tengah perbedaan pastilah akan sangat indah, tetapi diperlukan kearifan yang tinggi dalam menyikapinya. Dalam keluarga besarku, kami punya banyak perbedaan dari suku dan agama. Tetapi perbedaan yang ada tetap menjadikan kami tetap harmonis. Kebetulan keluargaku Muslim sendiri di antara keluarga lainnya yang Protestan dan Katolik.

Bila liburan puasa, anak-anakku sering berlibur ke rumah neneknya di Bandung dan ibuku selalu bangun pagi untuk menyiapkan sahur buat anak-anakku walau beliau tidak ikut puasa. Begitu juga saat maghrib, beliau selalu menyediakan minuman manis untuk buka. Bila saat Hari Raya Lebaran saya berserta keluarga ada di rumah ibuku, pastilah ibu akan menyiapkan hidangan khas lebaran komplit walau beliau tidak merayakannya. Keluarga adik-adikku beserta anak-anaknya juga tidak pernah lupa untuk memberi salam buat kami yang merayakan Lebaran. 

Lain lagi saat Natal tiba, kami sekeluarga juga ikut berpartisipasi dalam perayaan Natal di rumah ibuku. Biasanya dalam perayaan Natal yang sudah menjadi tradisi keluarga kami, setiap keluarga harus menampilkan pertunjukan. Walau saya dan anak-anak beragama Islam, tapi kami juga menyiapkan acara yang cukup seru untuk bisa ditampilkan. Persiapan tahun 2012 ini cukup mepet, karena anak pertamaku kuliah di Bandung, jadi sulit untuk bisa latihan bersama. Tapi tak mengapa, karena dengan fasilitas yang ada  di komputer, akhirnya acara bisa dipersiapkan.

Saat Natal, keluargaku ke gereja, sedang aku dan anak-anakku mempersiapkan makanan dan tempat untuk acara nanti. Setelah semua beres, tinggal menunggu mereka datang dari gereja. Sesaat setelah mereka datang, saya dan anak-anak memberi salam pada mereka.

Acara di mulai dengan adik iparku yang bungsu yang bertindak sebagai master ceremony dadakan. Yang pertama mengisi acara adalah keluargaku karena aku anak pertama. Dimulai dengan aku dan suami membacakan puisi dengan tema Natal. Dilanjutkan dengan kedua anakku. Mereka menari ala JKT 48, girl-band yang sangat mereka gandrungi. Ternyata tarian mereka mendapat sambutan hangat dari yang menonton. Penampilan dilanjutkan oleh keluarga adikku yang nomor dua. Mereka mengisi acara musikalisasi puisi dengan iringan gitar dan nyanyian. Terakhir dari adikku yang bungsu, mereka menyanyikan dua buah lagu Natal dengan diiringi biola dan gitar.

Acara puncak adalah tukar-tukaran kado. Setiap orang akan mendapatkan hadiah dari keluarga lainnya. Tidak boleh ditulis nama pemberinya, hanya ditulis ditujukan untuk siapa. Yang mendapat kesempatan membagikan kadoadalah ibuku, biasanya yang dapat duluan adalah anggota keluarga yang termuda.Semua akhirnya mendapatkan hadiah dan mulailah membuka hadiah masing-masing dan wajah-wajah ceria muncul dengan tiba-tiba. Ada wajah-wajah keterkejutan mendapat hadiah yang mungkin sudah menjadi impiannya. Akan halnya aku, aku mendapatkan handuk.Nah, mungkin aku disuruh rajin mandi kali. Hehehe....

Aku kira momen pertunjukan malam Natal dan bagi kado ini sudah sangat melekat bagi keluarga kami. Anak-anakku sudah terbiasa dengan perbedaan, jadi mereka memahami toleransi. Bahkan pernah ketika guru agamanya mengatakan tidak boleh memberi Selamat Natal bagi umat Kristiani, itu tidak membuat mereka tidak memberi selamat. Mereka tetap memberi selamat bagi saudara-saudaranya yang beragama lain. Itu yang membuatku bangga.

Diambil dari buku “Dialog 100: 100 Kisah Persahabatan Lintas Iman” (penerbit: Jakatarub & Interfidei, 2013).

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!