Ilustrasi: lexisnexis.com

Ilustrasi: lexisnexis.com

Sesosok pria berpakaian serba hitam mengikutiku dari arah belakang. Ia tampak sangat mencurigakan. Aku mempercepat langkahku menuju sekolah. Beberapa hari ini, aku merasa sedang diintai, tapi aku tak tau apa yang menjadi sebabnya. 

Hingga suatu hari, aku diminta untuk mendatangi ruang guru. Sensei (guru) memperkenalkanku pada seorang pria berpakaian serba hitam. Sudah kuduga, ia pria yang selama ini mengikutiku. Sebelumnya ia meminta maaf, karena beberapa hari ini ia sudah mengikutiku.

Sosokku memang terlihat aneh, ketika semua orang berlomba-lomba memakai pakaian serba mini saat musim panas, aku malah terbungkus rapih dengan balutan hijab dan pakaian yang menutupi aurat. Pria itu menduga aku salah satu tetoris yang sering membuat teror di luar sana. Aku hanya membalas dengan senyum. Panjang lebar sensei menjelaskan siapa aku pada pria yang kini aku kenal bernama Sakurai Tatsuya. 

Tatsuya salah seorang polisi. Usianya tidak terpaut jauh denganku. Sejak saat itu kami malah menjadi dekat. Banyak yang ia tidak tahu tentang Islam–agama yang kuyakini sejak lahir. Sebagian besar orang Jepang menganut lebih dari satu agama, dan sepanjang tahunnya mengikuti ritual dan perayaan dalam berbagai agama. 

Mayoritas orang Jepang dilahirkan sebagai penganut Shinto, merayakan Shichi-Go-San (upaara di Jepang yang merayakan pertumbuhan anak berusia 3, 5 dan 7 tahun), hatsum?de (kunjungan pertama ke Kuil Buddha atau kuil Shinto pada awal tahun baru di Jepang), dan matsuri (festival atau perayaan) di kuil Shinto. Ketika menikah, sebagian di antaranya menikah dalam upacara pernikahan Kristen. Ketika meninggal dunia dimakamkan dengan upacara pemakaman agama Buddha.

Aku salah satu siswa Indonesia yang sedang belajar bahasa di Jepang. Sejak awal, sensei memang memintaku untuk membuka jilbabku. Akan sulit katanya untuk mendapatkan pekerjaan bila aku tetap bersikeras menggunakan jilbab. Tapi ini prinsip, tidak bisa diganggu gugat. Meski pandangan mereka aneh saat menatapku pertama kali. Bagiku itu tak masalah, lambat laun mereka pun akan mengerti, tentang Islam, seperti Tatsuya.

“Apa kamu tidak tersiksa dengan pakaian seperti ini?” tanya Tatsuya dengan wajah bingung. Aku hanya menggelengkan kepala. “Panas sih, tapi aku tetap merasa sejuk..” jelasku sambil menunjuk pada dadaku. Tetsuya membalas dengan senyum, “Saat musim dingin tiba, pasti jadi musim paling menyenangkan, karena kamu sudah hangat dengan pakaianmu.” Kami pun tersenyum.

Banyak hal yang aku bagi tentang Islam, tidak hanya pakaian dan ritual sholat saja, tapi juga masalah makanan. Sulit untuk mendapatkan makanan halal. Demi satu kilo daging ayam, aku harus rela pergi ke kota yang lain – Kobe. Kota dimana berdiri masjid tertua di Jepang. Disana banyak orang Jepang yang menggunakan jilbab. Biasanya mereka tinggal disekitaran masjid dan menikah dengan para pendatang dari tanah Arab. 

“Kenapa harus ada tulisan HALAL?” tanya Tatsuya, “Bukankah semua daging ayam dan sapi sama?”

“Itu bukan sekedar tulisan, Tatsuya. Itu sebuah tanggung jawab, ketika hewan yang dimakan harus disembelih dengan menyebut nama Allah, Tuhan kami,” jelasku. 

“Tapi di sini Tuhanmu tak melihat..” cela Tatsuya. 

“Tuhanku, Maha Melihat..” jelasku. Akhirnya kami pun mengakhiri perdebatan dengan senyuman.

Ketika menjadi minoritas, butuh perjuangan besar untuk tetap pada sebuah keyakinan. Tapi tak harus menjadi kecil. Agama selalu mengajarkan untuk berbuat baik kepada sesama. Belakangan Tatsuya sering mengunjungiku hanya sekedar mengantarkan satu kilo daging ayam halal. Atau mengingatkan aku ketika hendak makan, “Ini mengandung sake, mirin dan sejenisnya..” jelas Tatsuya. Indahnya saling mengingatkan. 

Aku juga belajar banyak mengenai budaya Jepang dan ritual mereka. Mereka punya 80 dewa dengan urusan yang berbeda-beda. Begitupun dengan tempat tinggal mereka. “Hebat ya mereka selalu rukun..” celotehku pada Tatsuya ketika menjelaskan dewa-dewa yang ia yakini.

Berawal dari kecurigaannya padaku dan menganggapku sebagai teroris, kini kami malah bersahabat. Indahnya bertoleransi.

Diambil dari buku “Dialog 100: 100 Kisah Persahabatan Lintas Iman” (penerbit: Jakatarub & Interfidei, 2013).

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!