Ilustrasi: turnbacktogod.com

Ilustrasi: turnbacktogod.com

“Kamu ndak ke Gereja?” (Nenek saya, Muslimah yang baik)

Saya terlahir diantara dua agama dan dua suku. Keluarga ibu saya mayoritas Muslim-Sunda, sedangkan keluarga bapak, mayoritas Nasrani-Jawa. Sejak lahir saya sudah diperkenalkan perbedaan-perbedaan itu. 

Sedari kecil saya sedikit banyak diajari Bahasa Sunda dan Jawa, serta melihat hubungan agama yang harmonis terjalin di keluarga besar. Mereka saling menghargai. Hal ini terlihat jelas saat hari raya umat muslim maupun nasrani. Saat Idul Fitri keluarga besar saya berbondong-bondong untuk merayakan bersama, termasuk yang beragama Nasrani. Mereka ikut sungkeman dan saling minta maaf satu sama lain. 

Sebaliknya saat Natal, keluarga saya yang beragama muslimpun juga turut merayakan. Contoh lain, saat di rumah saya ada kegiatan kebaktian, nenek saya yang Muslim juga turut membantu segala persiapan untuk kelancaran ibadah yang dilakukan. Nenek saya pun senang sekali melihat anak dan cucunya yang Nasrani berangkat beribadah setiap minggu ke gereja. Bahkan saat saya masih SMA, nenek pernah marah besar, menegur saya yang malas pergi ke gereja. 

Keluarga saya terbilang keluarga unik. Bisa harmonis tanpa membeda-bedakan agama. Ini sempat membuat heran teman-teman kuliah saya. Tapi memang lingkungan sekitar rumah saya juga terbilang unik. Masyarakatnya tidak pernah menghiraukan perbedaan agama dan cenderung hidup guyub, rukun antar sesama. Saya tidak pernah canggung bermain di luar ataupun masuk ke lingkungan masjid di dekat rumah, melihat teman-teman saya mengaji, bahkan sampai pernah beberapa kali tertidur di mushola. 

Masih di wilayah saya, ada seorang pendeta gereja dari gereja Pentakosta. Pendeta tersebut selalu menekankan kepada jemaatnya untuk saling menghargai umat beragama lain. Tak pernah sekalipun saya pernah mendengar kotbahnya yang menyindir agama lain. Ia selalu mengajak jemaat untuk mengoreksi diri. Uniknya saat melakukan renovasi gereja, warga sekitar gereja yang mayoritas beragama Islam turut mendoakan agar gerejanya lekas selesai dan jadi lebih bagus dari pada yang dulu. Tidak tanggung-tanggung yang turut mendoakan itu adalah Bapak Haji, para ustad dan ustadzah.

Ya, saya juga pernah diejek oleh teman saya sendiri kalau umat Nasrani begini dan begitu. Tapi saya tidak menghiraukan karena teman saya itu toh tidak paham agama yang saya peluk dan tidak paham agamanya sendiri. Kalau saja temannya saya paham pastilah tidak akan terucap perkataan tersebut. Akan tetapi kami tetap berteman. Walau pernah diejek soal agama, saya tidak pernah memasukan kedalam hati. Hasilnya hingga saat inipun kami saling berteman dan masih sering main bersama. Seandainya saja waktu itu saya langsung emosi pastilah kami bertengkar karena perbedaan agama.

Saya memandang semua agama itu bagus tidak ada yang jelek. Semua agama itu mengajarkan tentang hal-hal yang baik bagi manusia, agar manusia tidak terjerumus dalam lembah kegegelapan. Jadi, marilah kita hidup guyub rukun antar umat beragama karena mempermasalahkan agama itu tidak ada untungnya yang ada malah bikin perpecahan, lebih baik berpandangan agamamu agamamu dan agamaku agamaku.

Diambil dari buku “Dialog 100: 100 Kisah Persahabatan Lintas Iman” (penerbit: Jakatarub & Interfidei, 2013).

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!