subsidi pupuk untuk petani, ekonomi pertanian, defisit dalam rapbn 2015, subsidi tidak tepat sasaran

Ada temuan menarik dalam analisis Survey Pertanian dan Rumah Tangga BPS tahun 2008, yaitu:
 
- 40% Petani dengan lahan yang luas/mencukupi, menikmati 60% dari total subsidi, dan 60% petani hanya menikmati 40% subsidi.
- 90% petani (secara keseluruhan), membeli pupuk subsidi 28% lebih tinggi dari HET (Harga Eceran Tertinggi).

Dua poin temuan tersebut menunjukkan bahwa subsidi masih belum tepat sasaran dan rentan atas penyalahgunaan, yang disebabkan oleh lemahnya sistem distribusi dan pengawasan. Untuk itu perbaikan atas pengawasan perlu dilakukan. Memberikan pewarnaan yang berbeda antara pupuk bersubsidi dan yang non subsidi adalah salah satu contoh, yang akan sangat membantu baik dalam pengawasan maupun tindakan atas penyalahgunaan subsidi.

Temuan hasil Survey Pertanian itu menunjukan bahwa ada subsidi yang dikembalikan oleh petani karena adanya perbedaan harga beli dengan HET, yang diterima bukan oleh negara tapi oleh oknum-oknum yang menyalahkangunakan sistem distribusi yang lemah.

Maka logikanya, pemerintah bisa menghemat subsidi jika mau serius memperbaiki sistem distribusi, tanpa harus menaikkan HPP (Harga Pokok Produksi) petani, jika harga HET sama dengan harga beli petani.

Tidak Adil

Dengan menaikan harga HET sebesar 28% khusus untuk petani dengan lahan luas, dengan sistem distribusi dan pengawasan yang baik, tidak akan berdampak pada peningkatan HPP (Harga Pokok Produksi) petani, karena selama ini petani juga membeli pupuk subsidi sebesar 28% di atas HET. Penghematan yang bisa dilakukan sebesar 16,8% (60% petani lahan luas dikalikan dengan 28%) atau hamprir Rp.6 triliun.

Dari sisi keadilan, sangat tidak adil jika 40% petani yang memiliki lahan luas menyerap 60% anggaran subsidi. Artinya dari Rp 35,7 triliun subsidi, Rp 21,4 triliun diserap oleh mereka petani kaya yang memiliki lahan luas, dan hanya Rp 14,3 triliun untuk petani miskin yang memiliki lahan sempit.

Dengan mengurangi alokasi subsidi sebesar Rp 6 triliun dari petani lahan luas, mereka masih menyerap subsidi sebesar Rp 15,4 triliun. Sedangkan untuk petani miskin, jika subsidinya ditambah Rp 1,8 triliun, maka besar subsidi yang diserap menjadi sebesar Rp 16,1 triliun.

Dengan upaya tersebut, pemerintah telah menghemat subsidi sektor pertanian sebesar Rp 4,2 triliun, dari Rp 35,7 triliun menjadi Rp 30,5 triliun.

Dari perspektif keadilan, dari total subsidi yang disalurkan sebesar Rp 31,5 triliun, alokasi untuk petani lahan luas proporsinya 49%, sedangkan untuk petani lahan sempit sebesar 51%. Proporsi ini lebih mencerminkan keadilan, dengan memberikan subsidi lebih besar untuk petani miskin tanpa menambah beban petani yang kaya.

Aspek Lain di Luar Subsidi

Tindakan afirmatif pada petani dengan lahan sempit, tidak cukup hanya dengan subsidi pupuk dan benih. Aspek-aspek lain di luar subsidi yang perlu diperhatikan untuk meningkatkan kesejahteraan petani adalah:

- Reformasi agraria dan membuat UU yang keras dan tegas untuk menghambat alih fungsi lahan, akan sangat menunjang kesejahteraan petani.

-Memperbaiki distribusi/sistem logistik komoditas pertanian. Sarana sudah ada, depot-depot logistik tersebar di beberapa kota, tinggal bagaimana menggunakan dan memperbaiki sitemnya.

- Pengolahan hasil pertanian berbasis masyarakat, untuk mendapat nilai tambah bagi para petani. Ini program strategis dan bersifat jangka menengah, yang harus diperjuangkan oleh pemerintah baru, yang tercermin dalam RAPBN di tahun-tahun berikutnya.

Subsidi hanya satu komponen penunjang dari semua aspek yang dibutuhkan untuk kesejahteraan petani. Untuk itu pembangunan di sektor ini harus konsisten dan berkelanjutan. Jangan sampai subsidi justru hanya digunakan sebagai alat untuk mencari  keuntungan, baik keuntungan popularitas politik, maupun keuntungan ekonomi bagi penyalurnya.

MP Simatupang, anggota Dewan Nasional Almisbat, Deputi Menteri BUMN 2002-2004, Ketua Umum Alumni IPB 2003

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!