budaya indonesia di inggris, Indonesia Kontemporer 2013, London

Orang Inggris rasanya tak terlalu mengenal Indonesia, begitulah kesan umum saya. Perhatiannya –baik pemerintah maupun masyarakatnya - masih lebih banyak ke Asia Selatan dan Persemakmuran. Pasti lah ada juga warga Inggris yang cinta Indonesia namun –seperti persisnya di negara lain- sering kali Bali yang lebih dulu muncul. Baru Indonesia-nya menyusul.

Indonesia Kontemporer 2013 – festival sehari seni dan budaya Indonesia -  ke luar dari ‘potret’ tersebut. Festival tahunan ini memasuki yang ketiga, digelar lembaga nonprofit ARTiUK bekerja sama dengan Centre of South East Asian Studies dari SOAS University of London dan didukung KBRI serta BKPM London. Tujuannya mengenalkan keragaman budaya Indonesia dan mendukung warga Inggris yang terinspirasi oleh seni budaya Indonesia.

Hasilnya -pada Sabtu 19 Oktober di halaman dan ruang-ruang SOAS - 12 anak Inggris berusia 8 hingga 10 tahun yang sama sekali tidak bisa berbahasa Indonesia  muncul di panggung dan bersenandung ‘Becak, becak tolong bawa saya...’ dengan aksen kental Inggris. All Saint’s Children Choir hanya berlatih sekitar tiga bulan namun dari pentas utama memukau 200-an penonton, warga Inggris yang bercampur dengan warga Indonesa.

Sementara di halaman kampus berdiri 16 warung makan dengan beragam makanan. Kata beragam itu bermakna yang sebenarnya: rendang, tempe, ayam pedas, sate ayam, bakso, soto, rujak, bubur sumsum, pempek, dan lain-lain yang terlalu panjang untuk dipaparkan. Hampir semua warung laris manis, termasuk warung makanan kering: saya melihat seorang pria Inggris membawa tas plastik  berisi kopi Torabika dan beberapa sase minuman lain serta bumbu.

Di ruang pameran, antara lain ditampilkan kolaborasi fotografer Inggris dan Indonesia -Helen Marshall dan Risang Yuwono- untuk dokumentasi tarian keliling Tobong yang terancam seni modern. Seorang peminat tekstil Indonesia, Diane Gaffney, bukan hanya memamerkan koleksinya tapi juga membuka sesi tanya jawab di ruang diskusi, yang juga diramaikan dengan pembahasan tentang arsitektur dan seni di Indonesia.

Bali jelas tak ketinggalan. Kelompok Jagat Gamelan -dengan anggota campuran warga Inggris dan Indonesia dari segala usia yang sudah tampil di beberapa acara kesenian di London- kali ini menampilkan gamelan Bali di bawah guru yang bukan orang Indonesia: Manuel Jimenez. Dua jagoan tari Bali di Inggris, Tiffany Strawson dan Margaret Coldiron, membuat penonton tertawa lepas saat menampilkan Tari Topeng untuk kisah klasik dunia Barat, Red Riding Hood.

Dan anak-anak pun menikmati sehari Indonesia di salah satu sudut yang memajang pakaian dan asesories tradisional . Setiap anak – dan juga orang dewasa - diajak mencoba baju dan berfoto untuk jadi kenangan. Sebelumnya mereka juga sudah mendengarkan cerita dari seorang penutur tentang lingkungan dengan satu patung komodo di depan panggung.

Bangga rasanya menjadi saksi langsung dari antusiasme warga Inggris terhadap Indonesia. Seperti kata Duta Besar  Indonesia untuk Inggris, TM Hamzah Thayeb dalam sambutanya, “Seni dan budaya adalah salah satu upaya diplomasi yang efektif.”

Saya pun mengangguk-angguk setuju. Juga tak kalah senangnya melihat orang Indonesia yang beberapa diantaranya sudah tinggal belasan atau puluhan tahun di Inggris dan tetap semangat menjaga ke-Indonesian-nya.
 
Tiga tahun berturut-turut jadi sukarelawan di Indonesia Kontemporer membuat saya makin paham makna peribahasa: tak lapuk karena hujan tak lekang karena panas.

*Liston P Siregar, editor www.ceritanet.com, tinggal di London

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!