Pembangunan Jalan, Pantura, Pemalang

KBR68H, Pemalang - Siapa yang tidak menginginkan jalanan mulus tak berlubang? Siapa yang tidak ingin jalanan lancar tanpa macet? Tentunya, itu semua menjadi keinginan bagi semua pengendara di jalan raya. Tetapi apa hendak dikata jika harapan itu sekedar harapan? Pemandangan jalan berlubang hampir di setiap wilayah, di Jalan Raya Pantura maupun jalan jalan alternatif sepanjang Comal, Kabupaten Pemalang menuju ke arah Sragi, Kabupaten Pekalongan.
 
Misalnya saja, pada Minggu sore kemarin (20/10) pun pemandangan serupa kembali terjadi di persimpangan selatan Pasar Comal, Kabupaten Pemalang. Macet hampir satu kilo meter dari depan areal Pasar Comal sampai di persimpangan atau pertigaan arah menuju Sragi Pekalongan.  Penyebabnya adalah tumpukan material perbaikan jalan seperti batu batu split dan pasir.
 
Material perbaikan jalan itu semestinya bisa dikirim malam hari agar tidak mengganggu lalu lintas, apalagi tepat di pertigaan yang notabene menjadi jalur utama persimpangan tiga arah. Karena kabarnya akan dikerjakan pada pagi harinya.

Inilah yang seringkali terjadi di negeri ini. Kenapa perbaikan jalan selalu harus menyita waktu pemakai jalan. Kenapa tidak diprogram untuk perbaikan malam hari saja. Dan kenapa juga mesti harus musiman? Misalnya, menjelang musim hujan atau menjelang Lebaran. Padahal semua musim itu rata rata bisa diprediksi sebelumnya. Artinya, seharusnya perbaikan jalan seperti ini bisa dikondisikan agar tidak mengganggu lalu lintas. Sehingga waktu perbaikannya bisa dipilih pada saat yang tepat. Bukan seperti ini.
 
Belum lagi bahan bahan material perbaikan yang terkesan akan terbuang sia sia. Bagaimana tidak? Lihat saja dan buktikan bagaimana aspal yang dikerjakan selama perbaikan apakah sudah benar-benar aspal yang tahan lama atau hanya sekedar aspal ”Ocar Acir Gethuk” yang tahan hanya seminggu.

Tentunya warga masyarakat yang banyak dirugikan jika proses perbaikan jalan harus seperti ini terus-menerus. Seharusnya perbaikan jalan bisa bertahan untuk jangka yang cukup lama minimalnya dua hingga tiga tahun. Sehingga tidak banyak memakan anggaran untuk perbaikan yang justru terkesan sia sia. Kenapa harus pilih murah jika tidak berkualitas? Seharusnya pemda berani membayar mahal tetapi kualitasnya bagus dan bertahan lama. Toh, setiap tahun kendaraan bermotor selalu membayar pajak yang sebagian tentunya digunakan untuk perbaikan jalan.
 
Semoga sistem seperti segera berubah dengan sistem yang lebih baik. Minimal warga masyarakat bisa menikmati perjalanan berkendara dengan aman karena aspalnya bagus dan tidak berlubang lubang. Dan, jika pun akan ada perbaikan sebaiknya material seperti batu batu split maupun pasir tidak ditumpuk di bahu bahu jalan sehingga membuat macet lalulintas dan tentunya sangat rawan kecelakaan.

Sumber: Pro FM Pekalongan
Editor: Anto Sidharta

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!