manchester united, david moyes, insting membunuh

Apa syarat utama untuk bisa menjadi juara liga Inggris? Hanya satu,konsistensi. Pembelian sejumlah pemain bintang bukan jaminan sebuah klub akan dengan mudah menjadi juara di liga Premir Inggris. Apa yang dialami Manchester United saat ini merupakan anomali dari teori di atas. Sejak dilatih David Moyes, klub dengan julukan Setan Merah itu kehilangan konsistensi.

Pada satu pertandingan, Wayne Rooney dan kawan-kawan bisa bermain bagus. Namun, pada pertandingan berikutnya tampil di bawah form. Tidak heran apabila posisi Manchester United saat ini terpuruk jauh di posisi 8, start terburuk yang pernah dialami The Red Devils di era Premiership. Kenapa konsistensi itu terus berulang?

Dalam dua pertandingan terakhir – melawan Southampton dan Real Sociedad – bisa dilihat penyebab utama dari inkonsistensi itu. Banyak peluang untuk menjebol gawang The Sotton dan juga Sociedad, namun hingga akhir pertandingan hanya satu gol yang tercipta. Saat melawan Sotton, Man United dihukum dengan gol balasan di menit-menit akhir pertandingan. Beruntung, para pemain Sociedad gagal memaksa David De Gea memungut bola dari gawang.

Satu hal yang jelas terlihat adalah, para pemain Manchester United mulai kehilangan insting membunuh (killer instinct). Insting inilah yang membuat  Sir Alex Ferguson bisa meraih 28 trofi juara bersama Man United selama 26 tahun. Tidak ada belas kasihan alias no mercy. Prinsip itu yang selalu diperlihatkan pemain di lapangan. Sejarah mencatat, Man United merupakan klub yang paling produktif untuk urusan mencetak gol di era Liga Premir.

Insting membunuh juga lah yang membuat Manchester United tampil sebagai klub besar di Inggris dan juga Eropa. Para pemain Manchester United selalu mempunyai semangat untuk menyelesaikan pertandingan dengan mencetak banyak gol. Beberapa tahun lalu, Arsene Wenger menyaksikan dengan gundah gulana ketika anak asuhnya dipermalukan Manchester United 6-1. Lima gol terjadi di babak pertama. Pada pertandingan itu, anak asuh Sir Alex Ferguson berhasil “membunuh” pertandingan (kill the game) di 45 menit pertama.

Era Ferguson sudah lewat dan kini saatnya David Moyes melanjutkan perjuangan untuk meraih sukses. Skuad Manchester United musim ini nyaris tidak berbeda dengan musim lalu ketika menjadi juara liga Inggris untuk yang ke-20 kali. Hanya ada tambahan Fellaini dan Wilfried Zaha di lini tengah. Namun, Moyes tentu bukan Ferguson. Selama belasan tahun di Everton, Moyes sudah terbiasa mengahadapi satu pertandingan dengan pertandingan lainnya dengan target, asal jangan sampai kalah.

Itulah yang membuat karakter permainan Everton begitu beringas dan kerap memainkan permainan keras yang menjurus kasar. Atmosfer itu berbeda dengan yang dialami Moyes di stadion Old Trafford. Sebagai klub yang paling sering menjadi juara di liga Inggris, setiap kali pemain Manchester United turun ke lapangan maka yang ada di otak fans adalah, MENANG dan bukan asal jangan kalah.

Proses transisi dari satu pelatih ke pelatih lain bukan hal yang mudah. Apalagi ketika pelatih yang digantikan adalah pelatih besar yang sukses memberikan banyak gelar juara. Menilai Moyes hanya dari 9 pertandingan di liga Inggris serta 3 di liga Champions dan satu PIala Capital One tentu sangat tidak adil. Pria asal Skotlandia itu masih belum bisa memutuskan susunan skuad intinya.
 
Banyaknya pemain dengan kualitas mumpuni membuat Moyes kerap bongkar pasang pemain dalam tiap pertandingan.  Bukan hal yang mudah untuk merotasi pemain di klub yang bertabur pemain bintang.
Perjalanan di liga Inggris dan liga Champions masih panjang. Belum ada yang bisa memastikan bahwa Moyes dan anak asuhnya tidak bisa mempertahankan gelar juara liga Inggris. Peluang tetap ada meski berat. Yang harus dilakukan Moyes saat ini adalah mengembalikan insting membunuh para pemain. Itu bisa dilakukan saat melawan Stoke City akhir pekan nanti.

Mencetak gol sebanyak-banyaknya ke gawang Stoke akan bisa memulihkan kepercayaan diri peman, terutama dalam urusan menjebol gawang lawan. Sebagian besar pemain Manchester United adalah pemain dengan mental juara, yang sudah pernah merasakan trofi, kehilangan dan merebutnya kembali. Tugas Moyes sebenarnya tidak terlalu berat, pulihkan kepercayaan diri pemain dan biarkan mereka menikmati pertandingan di lapangan.

Seperti yang diucapkan Ferguson, beri Moyes waktu. Man United bukan klub yang punya tradisi gonta-ganti pelatih. Karena itu, Moyes tidak harus takut atau khawatir dia akan kehilangan pekerjaan sebelum musim ini selesai. Bahkan seorang Ferguson perlu waktu 4 tahun untuk mempersembahkan trofi pertama untuk Manchester United. Namun, situasi yang dialami Fergie ketika menangani Man United pada 1986 dengan Moyes pada saat ini jauh berbeda.

Pada 1986, Man United bukanlah klub yang menakutkan bagi klub-klub lain. Baru 7 kali juara liga INggris, dan tertinggal jauh dari Liverpool yaitu ketika itu sudah 17 kali juara. Kini, Man United adalah klub besar yang bisa dengan mudah menundukkan klub lain. Namun,Moyes harus melupakan fakta tersebut. Di tangannya, Man United adalah klub baru yang tengah mencari kembali insting membunuh untuk bisa meraih kemenangan demi kemenangan.

Pesan Ferguson kepada fans United sebelum pensiun adalah, Support Your New Manager. Dan, itulah yang akan dilakukan fans Man United di seluruh pelosok dunia,mendukung Moyes untuk bisa mempertahankan kejayaan Setan Merah di Inggris dan juga Eropa.
 
Penulis adalah wartawan dan Man United Die Harder

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!