KBR68H, Waingapu - Sejatinya Penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara Tingkat Propinsi NTT 2013 Kategori Pelayan Ketahanan Pangan untuk Radio Max FM Waingapu, bukan untuk saya pribadi sebagai pengelola radio. Banyak pihak yang berjasa dalam proses pemberian penghargaan itu.

Sejak awal, saat Badan Bimas dan Ketahanan Kabupaten Sumba Timur, NTT, meminta data kegiatan radio, saya memberikan data soal program Radio Max FM Waingapu di bidang pertanian. Salah satu staf di Bimas Sumba Timur kerap  mengkonfirmasi data kegiatan radio ini, termasuk luasan lahan yang digunakan kelompok tani.

Saya menceritakan program radio “Ayo Bertani Organik” yang kami udarakan setiap hari Minggu selama dua jam mulai pukul 18.00 Wita. Dalam program itu, Rahmat sebagai penyiar berbagi dengan pendengar tentang cara bertani padi dan sayur yang baik. Tentunya, dengan penekanan prinsip pertanian organik. Pendengar pun bisa bertanya melalui lewat sms dan telpon, dan langsung di jawab oleh penyiar yang juga ahli dibidangnya. Dalam program ini  kadang kala juga diberikan kuis untuk pendengar.

Dari rekaman siaran dan data sms yang masuk terlihat bahwa cukup banyak pendengar yang mendengar acara ini. Cukup sering juga di “Ayo Bertani Organik” petani jadi narasumbernya, mereka berbagi suka duka, cara bertani organik yang benar, sekaligus menjawab pertanyaan pendengar.

Selain di acara Ayo Bertani Organik, di acara lain baik di “Warga Bicara” dan “Nuansa Malam” sering soal pertanian menjadi bahan obrolan dan banyak tanggapan masyarakat yang masuk.

Karena kami punya acara terkait dunia pertania, beberapa petani berkeinginan untuk belajar dibawah bimbingan Radio Max FM.

Minat Petani untuk Menanam

Kelompok tani yang pertama meminta untuk dibimbing adalah Kelompok Tani Lata Luri. Salah satu anggota kelompok datang ke stand pameran Radio Max FM di Arena Pameran Pembangunan Sumba Timur  di Swembak, Agustus Tahun lalu. Kelompok ini ada di Lamenggit, Kelurahan Matawai, Kecamatan Kota Waingapu.  Ada lebih 20 orang anggotanya waktu itu. Anggotanya ibu rumah tangga, beberapa siswa SMA dan ada yang sudah bekerja. Kelompok ini belajar selama  satu masa panen sayur atau 3 bulan. Sejak itu sampai sekarang mereka terus menanam sayur di lahan dengan prinsip organik dan menggunakan pupuk organickcair Bio Slurry produksi Max FM.

Kelompok berikutnya adalah Kelompok Organik Kawara Pandulang yang akhirnya sekarang bernama KWT Kawara Pandulang. Oktober tahun lalu datang dua orang ibu ke radio Max FM, mereka juga ingin belajar menamam sayur menggunakan pupuk organik. Lalu, dibentulah kelompok dengan anggota sembilan orang ibu rumah tanggga. Sejak Oktober tahun lalu kelompok ini terus menanam sayur dan panennya memuaskan. Dari 9 orang berkembang menjadi 30 orang.

Kemudian Badan Bimas Sumba Timur datang menawarkan agar kelompok ini bisa didukung dalam program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Sementara kelompok Lata Luri di Lamenggit yang juga mendapatkan tawaran yang serupa. Namun, dengan berbagai pertimbangan kelompok menolak bergabung dengan program KRPL.

Kelompok lain yang didukung adalah kelompok tani organik di Wunga Timur, di Panda, Kelurahan Wangga dan terakhir kelompok JOS (Jangan Omong Saja) yang ada di sekitar Kalu, Kelurahan Prailiu, Kecamatan Kambera.

Hari Pangan Sedunia se-NTT


Dalam Perayaan Hari Pangan Sedunia se NTT yang di pusatkan di Sumba Timur, Jumat pekan lalu (18/10), para petinggi di provinsi dan kabupaten di NTT datang ke lahan Belajar KWT Kawara Pandulang di Kalu untuk panen perdana Tomat dan Kol yang ditanam dengan prinsip organik. Mereka antara lain Gubernur NTT Frans Lebu Raya, bupati-wakil bupati Sumba Timur dan bupati-wakil bupati dari daerah lain.

Awalnya, di lahan KWT Kawara Pandulang itu, biasanya hanya di tanam jagung setahun sekali, setelah itu lahan dibiarkan tanpa ditanami apapun. Tetapi setelah mereka tahu cara menanam sayur dengan pupuk organik, lahan ini ditanami sayur, mula dari tomat, kol, bunga kol, pitsai, timun, pakcoy, lombok dan bawang.

Untuk ketersediaan pupuk, saat ini tim Radio Max FM Waingapu memproduksi pupuk cair organik Bio Slurry yang cocok untuk segala tanaman. Ini sudah dibuktikan di lahan belajar beberapa kelompok tani termasuk di lahan KWT Kawara Pandulang. Tindakan ini juga sebagai bentuk kontribusi Radio  Max FM Waingapu untuk mendukung dan memajukan dunia pertanian di NTT.

Akhirnya, penghargaan ini selayaknya juga  untuk rekan kerja, pendengar dan para petani yang setia bergabung di “Ayo Bertani Organik” di Radio Max FM Waingapu. Semoga upaya ini bisa menjadi memberikan kontribusi positif untuk kemajuan pertanian, khususnya di Kabupaten Sumba Timur dan Provinsi NTT. Sebab, kita yakin, provinsi ini bisa memenuhi kebutuhan pokok ‘dalam negeri’-nya semisal beras, jagung dan sayuran.

Sumber: Max Fm Waingapu
Editor: Anto Sidharta

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!