bahasa sumba, punah

KBR68H, Waingapu – Jokowi Gubernur DKI Jakarta yang juga bekas Walikota Solo menjadi tokoh yang fenomenal di Indonesia saat ini. Jokowi menerapkan aturan yaitu mulai awal Januari 2013 semua PNS di DKI Jakarta wajib memakai pakaian Betawi setiap hari Rabu (sekarang diganti Hari Jumat). Demikian juga ketika Jokowi menjadi walikota Solo, membuat aturan yang sama, mengharuskan PNS di kota Solo memakai pakaian  Jawa seminggu sekali.

Mengenakan pakaian adat Betawi juga untuk menumbuhkan rasa cinta kepada tradisi budaya Betawi, sekaligus sebagai cara untuk melestarikannya kepada generasi muda.

“Jangan sampai generasi muda melupakan kebudayaan-kebudayaan Indonesia. Kalau bukan kita yang melestarikan, siapa lagi,” kata Jokowi

Sementara Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama (Ahok), mengatakan bahwa seragam Betawi tunjukkan siapa tuan di Jakarta. (www. vivanews.com)

Seharusnya memang setiap daerah mengangkat budayanya masing-masing agar orang tahu dan bahkan dunia tahu tentang budaya suatu daerah, termasuk bahasa di dalamnya.

Akan halnya di Sumba, jika kita perhatikan maka keadaannya adalah berbanding terbalik dengan keadaan di daerah-daerah lainya. Sumba sangat terkenal dengan ternaknya (kuda, sapi, kerbau, babi), sehingga Sumba dianggap sebagai lumbung ternak dan lumbung kuda pacu serta lumbung  tenunan  ikat. Dan masyarakat Sumba sangat bangga dengan predikat-predikat ini: lumbung ternak dan lumbung tenunan ikat yang indah.

Tetapi dalam pengamatan saya ada satu hal yang sepertinya orang Sumba (Kambera) kurang bangga yaitu dalam berbahasa Sumba sebagai bahasa ibu (khususnya Kambera).  Mungkin pengamatan ini salah (mohon dimaafkan), akan tetapi dalam kenyataannya jika kita cermati, berapa banyak orang Sumba, apalagi yang hidup di luar Sumba yang masih mampu berbahasa Sumba dengan lancar dan benar.

Kendalanya mungkin antara lain, ketika berada di luar tanah Sumba, hidup berbaur dengan  masyarakat yang tidak berbahasa Sumba (misalnya : Jawa dll). Berikutnya rasanya terkadang sulit menemukan kosa kata yang tepat dalam bahasa Sumba untuk mengatakan suatu hal, misalnya apa terjemahan dalam bahasa Sumba ucapan : Selamat Pagi, Selamat Siang, Selamat Malam?  Demikian juga untuk menterjemahkan : Timur, Barat, Utara, dan Selatan. Sumba Kambera hanya mengenal ungkapan : Ho dita, Ho luru, Ho dia, Ho wawa (kalau salah mohon dimaafkan).

Menurut Putu Putra (2009) dalam www.UmbudUin-Malang. Di Pulau Sumba hanya terdapat satu bahasa, yakni bahasa Sumba dengan beberapa dialek berdasarkan segmentasi dialektal. Bahwa di Pulau Sumba terdapat satu bahasa dengan lima dialeknya, yakni (1) dialek Mauralewa-Kambera, (2) dialek Wano Tana /Anakalang (Wanokaka dan Katiku Tana / Anakalang ), (3) dialek Waijewa-Louli, (4) dialek Kodi, dan (5) dialek Lamboya. Nama-nama dialek itu berkaitan dengan nama kelompok masyarakat yang membentuk kerajaan-kerajaan di masa lalu, baik pada masyarakat Sumba Timur maupun Sumba Barat.

Secara khusus saya ingin menyoroti penggunaan bahasa Sumba dialek Kambera (Sumba Timur), sebab akan berbeda ketika kita masuk daerah Sumba Barat, yang masih kuat menggunakan dialek daerahnya. Demikian juga jika kita bandingkan dengan bahasa Sabu, yang masyarakatnya masih memegang teguh akan budayanya terutama dalam berbahasa daerah asalnya.

Hal ini akan  terasa apabila kita berada di daerah pekotaan di Sumba (Waingapu, Waikabubak). Di Waingapu misalnya (ini dulu waktu saya masih kecil di Sumba; entah sekarang), kita akan lebih banyak mendengar bahasa pergaulannya di tengah masyarakat atau di kantor-kantor  adalah bahasa Indonesia (mohon maaf saja alasannya dulu, katanya : makia la pa hillu humbangu – mudah-mudahan sekarang cara pandang demikian sudah hilang dari masyarakat Sumba Timur khususnya masyarajat di perkotaan). Lalu yang berikutnya, pertanyaan saya, apakah sekarang  pelajaran di sekolah-sekolah (TK, SD,SMP,SMA) sudah ada muatan lokalnya khususnya bahasa daerah?

Bahasa Menunjukkan Tuan Pemilik Tanah

Meminjam istilah Wagub DKI Jakarta Ahok (BTP), saya mau katakan bahwa dengan berbahasa Sumba, akan menunjukkan siapa tuan di Sumba. Mestinya kita akan dengan bangga mengatakan : nggamuya na mamangunya na tana Humba.

Berbahasa Sumba seharusnya justru menunjukkan tingginya derajat sosial di Sumba, karena sebagai pemilik Sumba kita seharusnya lebih fasih berbahasa Sumba, bangga berbahasa Sumba. Dan kita tahu bahwa Sumba masih kental dengan status sosialnya yang tinggi : Maramba, Kabihu.

Kita kadang masih malu berbahasa Sumba, sebabnya yaitu tadi,  merasa jadi orang rendah, tidak modern, terkebelakang. Akibatnya kita tidak mau berbahasa Sumba dengan baik dan benar dan bahkan kita lalu cenderung meninggalkan bahasa Sumba.

Akibat lanjutnya adalah, jika bahasa sering tidak digunakan, bahkan ditinggalkan, maka cepat atau lambat bahasa itu akan hilang alias bahasanya punah.

Menuju Kepunahan


Keprihatinan akan fenomena lunturnya bahasa daerah Sumba atau bahasa ibu orang Sumba disampaikan Ketua DPRD Sumba Timur, drh. Palulu Pabundu Ndima, M.Si pada acara penutupan sidang paripurna IV DPRD Sumba Timur, senin (10/1/2011). (http://www.pos-kupang.com)

“Saya ingatkan, saat ini bahasa ibu kita orang Sumba sedang menuju kepunahan. Mari kita selamatkan bahasa ibu kita, yaitu bahasa Sumba dan Kambera dari ancaman kepunahan.” ajak Palulu.

Dalam ranah pendidikan, Palulu meminta agar mulai dari jenjang Play Goup, TK, SD jangan terburu-buru diajarkan bahasa asing. “Ajarkan dulu bahasa Sumba sebagai bahasa ibu karena bahasa ibu akan selalu menjadi penanda bagi kehadiran budaya dan masyarakat yang menjadi wadahnya. Bahasa, budaya dan masyarakat saling berkaitan. Lewat tutur setiap kata dan frasa dalam catatan kebahasaan, ihwal bahasa, budaya dan masyatrakat akan digambarkan.” demikian Palulu.

Ia mengatakan, fenomena kepunahan bahasa ibu atau bahasa Sumba harus disikapi secara bijaksana. Penggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar memang sebuah keharusan. namun tidak melupakan bahasa daerah dalam masyarakat multilingual Indonesia.

Memahami bahasa Indonesia tanpa memperhatikan fakta kemultilingual-an dan kemultikultural-an merupakan sebuah sikap yang kurang bijaksana.

Karena itu, beliau meminta agar bahasa ibu, bahasa Sumba dimasukkan dalam kurikulum sekolah untuk mata pelajaran sebagai muatan lokal.

Kurangnya kita sebagai orang Sumba dalam berbahasa Sumba sangat kelihatan ketika berbicara dalam bahasa sumba atau dalam menuliskannya. Sering kali kita kehabisan kosa kata. Kita merasa “kaduanda” dalam berbicara bahasa Sumba.

Dalam suatu kesempatan dialog (chatting) dengan seorang putri Sumba lewat media jejaring sosial (facebook) dalam bahasa sumba, sang putri Sumba (sudah berkeluarga, tinggal di daerah Jateng dan  jauh lebih muda dari saya) akhirnya menyerah tidak bisa lagi meneruskan percakapan itu walaupun hanya dalam bentuk tulisan karena kehabisan kosa kata dalam bahasa Sumba. Ini mungkin hanya salah satu contoh dan mungkin masih ada yang lainnya. Jadi menurut saya kondisi bahasa sumba saat ini cukup mengkuatirkan dan memprihatinkan akan keberlanjutannya sebagai sebuah bahasa suatu etnik karena terancam punah seperti sinyalemen Ketua DPRD Sumba Timur itu.

Karena itu sudah saatnya, seluruh lapisan masyarakat termasuk pemerintah dan dunia pendidikan di Sumba mulai bergandengan tangan mencari solusi dan jalan keluar untuk melestarikan bahasa Sumba.

Banyak yang bisa dikerjakan dan diupayakan, sebagai misal dengan  menggunakan bahasa sumba sebagai bahasa pengantar sehari-hari dalam keperluan dinas pemerintahan dan di sekolah. Dapat juga dalam pementasan drama dalam bahasa sumba, penulisan dan pembacaan puisi dalam bahasa Sumba serta peran serta media broadcast (radio) dengan menyisihkan sebuah acara dalam bahasa sumba. Peran serta Gereja juga penting dalam melestarikan bahasa Sumba lewat khotbah, pembacaan injil dalam bahasa sumba serta puji-pujian dalam bahasa Sumba.

Saya tidak tahu apakah hanya saya yang gelisah akan nasib dan masa depan bahasa sumba atau masih ada orang lain (Tau Humba : Maramba, Kabihu atau Tau Ata). Yang pasti bahasa Sumba berada diambang kepunahan jika pelestariannya tidak dikerjakan mulai sekarang dan saat ini. Karena nampaknya Orang Sumba mulai lupa dengan bahasa ibunya, Bahasa Sumba.

Bahasa Kuno


Satu yang hal yang menarik bahwa kita seringkali kehabisan kosa kata dalam berbahasa Sumba. Hipotesa saya mengatakan bahwa Bahasa Sumba adalah salah satu dari sedikit bahasa kuno yang masih tersisa saat ini di Nusantara bahkan mungkin di dunia. Dalam pengamatan saya, ciri-cirinya antara lain (mungkin tidak tepat) adalah : (1) tidak memiliki aksara, (2) penggunaannya terbatas, (3) kosa katanya terbatas, karena itu banyak mengambil kosa kata dari daerah lain untuk melengkapi kekurangannya.

Untuk mengatakan hal-hal yang umum saja dalam Bahasa Sumba nyaris tidak memilki kosa katanya, sebagai contoh seperti apa terjemahannya: selamat pagi, selamat siang, selamat malam dalam bahasa Sumba. Sementara banyak kosa kata yang diadopsi antara lain, seperti : sepeda jadi hapenda. motor jadi moturu, dokter jadi ndotiru, sekolah jadi hakola, urus jadi uruhu, percaya jadi parahaya, kuasa jadi kuaha, dlsbnya.

Sebuah hipotesa harus diteliti dan dikaji untuk menjadikannya sebuah teori, tetapi saya tetap beryakinan bahwa bahasa Sumba itu adalah sebuah bahasa kuno, dan oleh karena itu  kita semua (siapapun juga yang turunan dan berdarah Sumba) berkepentingannya untuk melestarikannya  Ada yang mau dan masih mencintai Bahasa Sumba? Kalau bukan kita yang melestarikan siapa lagi?

( Penulia adalah Orang Alor Keturunan Sumba dan menjadi Pustakawan Universitas Atma Jaya Yogyakarta)

Sumber: Radio MAX FM Waingapu

Editor: Suryawijayanti 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!